Jadikan Ramadan sebagai Insaf Permanen

KH Miftahul Luthfi Muhammad

KH Miftahul Luthfi Muhammad

Oleh:
KH Miftahul Luthfi Muhammad (Gus Luthfi)
Pengasuh Pesantren Nusantara (PeNUS) Ma’had Teebee Indonesia (MTI)

Insaf, ya Insaf. Jangan sampai menggunakan istilah Tomat (Tobat-Kumat -red), pada saat Ramadan datang  tobat  (taubat -red), namun pada saat Ramadan usai kumat. Artinya setelah Ramadan usai penyakitnya kambuh tidak lagi taat kepada Allah dengan menjalankan semua perintahnya serta menjauhi semua larangannya.
Jadikanlah tonggak Ramadan sebagai insaf permanen, insaf terus sampai ajal memanggilnya. Orang yang insafnya hanya pada saat Ramadan datang maka dalam menjalankan ibadahnya juga akan terjadi pemborosan, karena biasanya akan menuntut macam-macam, berbuka menuntut yang istimewa sahur istimewa dan lain sebagainya.
Menyambut Ramadan sebagai bulan suci yang dihormati dan merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi maka setiap orang akan menjalankan ibadahnya dengan ringan. Ibadah yang sudah mendarah daging bukan lagi semacam siksaan atau keterpaksaan, tapi malah menjadi kebahagiaan yang didambakan kedatangannya. Di saat Ramadan pergi, maka akan terasa sangat kehilangan bulan yang mulia yang di dalamnya ada berjuta juta pahala.
Sebaliknya, bagi mereka yang ibadahnya hanya sebatas insaf sesaat, maka kehadiran  Ramadan yang satu bulan itu terasa sangat menyiksanya. Di saat Ramadan pergi maka yang terjadi adalah kebahagiaan yang tak terhingga. Demikian pula di saat Ramadan datang, maka rasa tersiksalah yang terjadi karena terbayang perutnya yang akan lapar dan haus seharian.
Pembicaraan yang tidak ada artinya apalagi perkataan kotor yang bisa menimbulkan dosa juga sebaiknya dijauhi. Jadi  Ramadan tak hanya  menahan makan dan minum sampai matahari terbit hingga terbenam, juga menjaga tingkah laku. Jadi kalau tidak bisa menahan ini, semua maka pahala ibadah puasanya tidak ada.  Yang kita dapatkan hanya sekadar berlapar-lapar semata. Naudzubillahi mindzalik.

Tags: