Jatim Masuk 10 Besar Provinsi Surplus Beras Tertinggi

Hadi Sulityo

Pemprov, Bhirawa
Hal yang membanggakan Provinsi Jatim masuk dalam 10 besar provinsi surplus beras tertinggi. Kementerian Pertanian RI data produksi beras 2019 dapat diperoleh dari data yang dirilis BPS.
Metode perhitungan yang digunakan BPS adalah Kerangka Sampling Area (KSA), di mana perolehan angkat produksi berasnya dengan menggunakan konversi 57,3 persen dari produksi padi.
Dalam kesempatan ini, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim, Hadi Sulityo menyampaikan, provinsi Jatim tetap berupaya melakukan peningkatan produksi padi untuk bisa mendorong surplus beras lebih banyak lagi.
Kiat-kiat yang dilakukan dalam pencapaian sasaran produksi padi adalah melalui peningkatan produktivitas. Diantaranya dengan penggunaan benih varietas unggul bersertifikat. Misalkan pada musim kemarau ini, disarankan untuk menggunakan benih padi varietas unggul baru yang adaptif kekeringan serta tahan WBC (Wereng Batang Cokelat).
“Selain itu, penggunaan pupuk harus dilakukan secara berimbang dengan ‘6 Tepat’ yaitu Tepat Tempat, Tempat Harga, Tepat Jumlah, Tepat Mutu, Tepat Jenis, dan Tepat Waktu,” katanya, Selasa (23/6).
Dalam pembangunan infrastruktur pertanian, lanjutnya, infrastruktur paling penting dalam pertanian yang berkaitan dengan produksi padi adalah jaringan irigasi. Pengelolaan sumber air, selain mengantisipasi kekeringan, juga untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP).
Untuk air irigasi, Kementerian Pertanian dan Provinsi Jatim menggencarkan untuk rehabilitasi jaringan irigasi tersier (RJIT), yang bertujuan untuk membantu pemberdayaan petani dengan mempermudah pengairan.
Jaringan irigasi tersier merupakan komponen mutlak dalam jaringan sistem irigasi dan langsung berhubungan dengan para petani. Adanya jaringan irigasi akan menambah luas layanan sawah yang terairi. “Dengan volume yang sama, air yang dialirkan dapat mengairi sawah lebih luas, karena air akan terdistribusi secara efisien,” ujarnya.
Selain itu juga dilakukan optimalisasi sumber daya air lainnya seperti pemanfaatan embung. Embung atau tandon air merupakan waduk yang dibangun untuk menampung kelebihan air hujan di musim hujan.
Dipaparkannya, air yang ditampung tersebut selanjutnya digunakan sebagai sumber irigasi di musim kemarau atau disaat curah hujan makin jarang. Untuk perpompaan, bantuan pompa juga dialokasikan di daerah-daerah rawan kekeringan.
Ditambahkan Hadi, untuk bisa mencapai target surplus tentunya juga ada penyesuaian pola tanam/pengelolaan tanaman pangan. Pola tanam merupakan usaha penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur susunan tata letak, dan urutan tanaman selama periode waktu tertentu termasuk masa pengolahan tanah dan masa tidak ditanami selama periode tertentu.
“Pemilihan varietas yang ditanam menjadi tentunya menjadi penting, karena harus disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah hujan di suatu wilayah,” katanya.
Dan kiat untuk surplus juga, adanya upaya untuk menekan kehilangan hasil/ susut tercecer padi dengan mengoptimalkan kinerja mekanisasi pertanian dari panen, perontokan, pengeringan, dan penggilingan untuk penyelamatan produksi. [rac]

Tags: