Jeda Perang Gaza

Gencatan senjata selama 4 hari (mulai Jumat 24 November) terbukti bisa berjalan efektif. Milisi Hamas, dan tantara Israel, sama-sama bisa menahan diri. Walau masih terbiasa saling fitnah pihak lawan melakukan pelanggaran. Uniknya, gencatan senjata sekaligus hari damai pada momentum hari besar umat beragama. Yakni, Jumat (Islam), hari Sabtu (kebaktian Yahudi), dan hari Minggu (kebaktian misa gereja). Diharapkan visi agama mewarnai gencatan berlangsung lebih lama.

Jeda perang digunakan kedua pihak saling membebaskan tawanan perang. Sebanyak 24 sandera Hamas telah diserahkan kepada Israel. Keluarga Israel menyaksikan helicopter yang membawa sandwera tiba di RS Anak di Petah Tikva. Begitu pula terdapat 39 orang tahanan Palestina dibebaskan oleh Israel. Terdiri dari 24 perempuan, dan 15 bocah remaja, dilepas di Tepi Barat. Masing-masing sandera, dan tawanan, telah melalui hampir tujuh pekan di barak musuh.

Masyarakat internasional menyerukan gencatan senjata melalui PBB. Juga melalui mediasi berbagai diplomasi. Termasuk oleh Jerman, Inggris, Perancis, Arab Saudi, dan Qatar.

Forum Religi 20 negara (R-20) sedang berlangsung lagi di Jakarta. Turut ambil peran mewujudkan perdamaian di Gaza. Terutama penyelesaian konflik yang ber-altar agama. Juga konflik ber-altar ekonomi, dan politik. Peran Indonesia sangat menonjol menjadi “inspirasi” R-20. Karena realitanya, Indonesia tetap bisa hidup damai bersama dengan perbedaan suku, bahasa, dana agama. Tidak mudah mengelola kehidupan damai terhadap 276 juta jiwa, dengan 714 suku, dan seribu lebih bahasa lokal.

Religion-20, yang digagas PBNU (organisasi muslim terbesar di dunia) menggelar ISORA (International Summit of Religious Authorities). Kegiatan ini bertujuan mendorong pemimpin agama turut “bersuara” berkait konflik Israel dan Hamas di Gaza. Sebanyak 40 peserta dari luar negeri, terutama dari negara-negara jazirah Arab, turut hadir. ISORA mengangkat tema “Peran Agama dalam Mengatasi Kekerasan di Timur Tengah dan Ancaman terhadap Tatanan Internasional Berbasis Aturan.”

ISORA merupakan kelanjutan dari gerakan Religion-20, yang digagas PBNU (organisasi muslim terbesar di dunia), bersama Muslim World League MW (Liga Muslim Dunia). Pemimpin agama-agama di dunia pernah berkumpul di Bali berada di Nusa Dua, Bali, persis setahun lalu. Visinya, meng-gagas solusi agama sebagai penyelesaian masalah global. Dinamika global, dikembalikan kepada prinsip agama, yang menjunjung asas keadilan, kemanusiaan, kedamaian, dan kejujuran.

Forum R-20, di Bali, 3 November 2022 lalu, bagai momentum sangat indah. Dibuka dengan pertunjukan tari Saman, kesenian budaya asal Aceh, dipentaskan di Bali. Di “tanah hindu” itu pula diselenggarakan pertemuan paling akbar para pemimpin agama-agama. Digagas oleh PBNU, bersama Muslim World League MW (Liga Muslim Dunia). Pertama kali mengusung tema Revealing (pembukaan pemikiran), Nurturing (pembinaan), dan Religion as a Source of Global Solutions (agama sumber solusi global).

Hadir pada R-20 di Bali, seorang Rabi (pendeta) Yahudi perempuan, Silvina Chemen (yang tinggal di Argentina). Mengaku terkesan, karena R-20 memberi ruang bagi kelompok minoritas yang butuh didengar. Diakui tidak mudah. Namun para tokoh agama telah menyatakan komunike bersama. Antara lain dinyatakan, “mem-promosikan pemahaman bersama, budaya perdamaian, dan kehidupan berdampingan yang harmonis di antara keragaman bangsa, agama, dan warga dunia.”

Komunike Bali, 2022, juga mengajak seluruh pemimpin negara-negara untuk “Melindungi manusia dari kekerasan dan penderitaan akibat konflik.” Bisa jadi, kalangan Rabi, akan berseru kepada pemimpin negara Israel. Pada sisi Arab, Qatar sukses mengajak gencatan senjata. Terutama untuk pembebasan sandera, dan pembukaan akses bantuan kemanusiaan.

——— 000 ———

Rate this article!
Jeda Perang Gaza,5 / 5 ( 1votes )
Tags: