Jembatan Patah Diterjang Banjir Bandang

6-FOTO A ris-jembatan putus 1Nganjuk, Bhirawa
Jembatan utama penghubung antara Desa Bareng dan Desa Sawahan di Kecamatan Sawahan, Sabtu (31/1) sekitar pukul 16.15 Wib patah diterjang banjir bandang. Akibatnya akses menuju Desa Bareng atau sebaliknya lumpuh dan sekitar 6 ribu warga 12 dusun di Desa Bareng terisolir. “Pondasi beton dibagian tengah jembatan ambrol dihantam banjir bandang, sehingga landasan jembatan ambruk dan tidak dapat dilewati kendaraan atau orang,” kata Ramelan salah seorang tokoh warga Desa Sawahan.
Ramelan menjelaskan, sebelum ambrolnya pondasi jembatan, hujan turun dengan deras sejak siang hingga sore menjelang. Bahkan hujan deras juga turun secara merata di lereng Gunung Wilis yang berjarak 8 kilometer dari Desa Sawahan. Sedangkan air di sungai Kuncir, terus meluap ke perkampungan dan areal pesawahan milik warga.
Selang beberapa saat, ungkap dia, beberapa orang warga mendengar suara gemuruh yang cukup keras dari arah jembatan. “Tinggi air bah menyentuh jembatan, menghantam pondasi jembatan hingga ambruk, kami tidak bisa melihat jelas karena hujan turun deras, namun landasan jembatan terlihat mulai miring dan akhirnya ambruk. Beruntung ketika itu, tidak ada warga atau kendaraan yang melintas di atas jembatan,” kata Ramelan.
Mendapati hal tersebut, ungkap Ramelan, warga berhamburan ke lokasi jembatan yang putus dan berusaha mencari solusi agar warga yang terjebak diluar kampung, dapat melintas dan jalur tersebut dapat dipergunakan untuk pejalan kaki karena jembatan tersebut merupakan akses utama yang menghubungan Desa Bareng dengan wilayah lainnya di Kecamatan Sawahan. “Saat ini warga yang hendak masuk atau keluar dari Desa Bareng harus ektra hati-hati melintas di atas jembatan. Sedangkan kendaraan tidak dapat melintas karena hanya untuk pejalan kaki,” katanya.
Ramelan dan warga Desa Bareng yang terisolir berharap dinas terkait di Pemkab Nganjuk, segera melakukan perbaikan dan membangun kembali jembatan yang ambruk tersebut karena putusnya jalur penghubung tersebut, membuat roda perekonomian ratusan kepala keluarga yang sehari-hari bertani dan bercocok tanam, tidak dapat berjalan karena tidak ada akses kendaraan terutama roda dua. “Harapan kami segera dibangun kembali jembatan ini karena jembatan ini merupakan akses utama warga untuk menjual hasil buminya ke kota kecamatan atau ke sejumlah pasar di Nganjuk,” katanya.
Perangkat Desa Sawahan,  Lasimin mengatakan, akibat banjir bandang ini ribuan warga terisolir karena jembatan satu-satunya ini tidak bisa digunakan. “Banjir bandang menerjang Sungai Kuncir ini mengakibatkan jembatan dengan lebar 5 meter dan panjang 22 meter ini ambrol. Bahkan tengah jembatan ini terputus dan nyaris terbawa banjir bandang,” kata Lasimin.
Namun, kata dia, meski sudah terputus dan tak dapat dilalui tetap ada warga yang nekat melintas jembatan ini dengan melewati puing-puing jembatan yang hancur. Dengan runtuhnya jembatan tersebut warga di 12 dusun di Desa Bareng seperti Dusun Mambang, Dusun Ledok, Dusun Kiteran, Dusun Tawang dan dusun-dusun lainnya harus mencari jalan alternatif dengan jarak yang sangat jauh dan kondisi jalan juga tidak layak untuk dilalui kendaraan. [ris]

Keterangan Foto : Jembatan patah di bagian tengah akibat banjir bandang dan ribuan warga Desa Bareng di sisi jembatan yang akhirnya terisolir.(ristika/bhirawa)

Tags: