Jerman Buka Peluang 6 Juta Tenaga Kerja untuk SMK

Gubernur Dr H Soekarwo SH, MHum didampingi Kepala Dindik Jatim Dr Harun MSi berjabat tangan dengan perwakilan pelaku usaha dan industri di sela  Seminar Nasional bertajuk Harmonisasi Pendidikan Kejuruan dengan DUDI yang digelar Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim di Hotel Bumi Surabaya, Kamis (11/9).

Gubernur Dr H Soekarwo SH, MHum didampingi Kepala Dindik Jatim Dr Harun MSi berjabat tangan dengan perwakilan pelaku usaha dan industri di sela Seminar Nasional bertajuk Harmonisasi Pendidikan Kejuruan dengan DUDI yang digelar Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim di Hotel Bumi Surabaya, Kamis (11/9).

Dindik Jatim, Bhirawa
Peluang bagi lulusan SMK semakin terbuka lebar dalam memperoleh lapangan pekerjaan. Tidak hanya dari Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam negeri, melainkan juga internasional. Tak tanggung-tanggung, Jerman bahkan sudah menyiapkan sebanyak 6 juta  lapangan pekerjaan untuk tenaga kerja terampil.
Hal ini dengan tegas diungkapkan Perwakilan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Konstan dari Jerman Andreas Goschie saat menghadiri Seminar Nasional bertajuk Harmonisasi Pendidikan Kejuruan dengan DUDI yang digelar Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim di Hotel Bumi Surabaya, Kamis (11/9).
Andreas megatakan, peluang kerja di Jerman sangat besar bagi tenaga kerja terampil. Ini lantaran jumlah penduduk Jerman yang terus menyusut dari tahun ke tahun. “Contohnya saya ini juga orangtua, tapi hanya memiliki satu anak. Jadi dari dua orang yakni suami istri hanya melahirkan satu orang generasi baru,” tutur Andreas.
Implikasi dari penurunan jumlah penduduk ini akan berpengaruh terhadap standar hidup masyarakat Jerman. Jika mereka ingin bertahan hidup, maka diperlukan tenaga dari luar Jerman. Terkait ini, Andreas mengaku, Indonesia, khususnya Jatim memiliki potensi yang cukup besar karena penduduknya terbesar ke empat di dunia. Tinggal bagaimana Jatim mampu menyiapkan generasi mudanya yang terampil.
Andreas mengatakan, terdapat standardisasi khusus untuk beberapa profesi. Misalnya guru, perawat, wartawan dan profesi lainnya. Namun ada juga yang hanya membutuhkan tenaga terampil seperti bidang konstruksi dan manufakturing. “Siswa SMK dengan sertifikat kompetensi yang sesuai sangat memungkinkan untuk masuk,” kata dia.
Melihat perkembangan SMK di Jatim, Andreas yakin kompetensi yang dimiliki lulusannya akan bisa memenuhi standar yang ditentukan Jerman.
Mengetahui peluang tersebut, Gubernur Jatim Dr H Soekarwo langsung merespon cepat. Bahkan Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim, terlihat begitu antusias untuk membuat suatu Memorandum of Understanding (MoU). “Kalau perlu MoU-nya hari ini juga boleh,” tantang Pakde Karwo.
Untuk mengisi peluang itu, langkah utama yang akan dilakukan ialah dengan menggali informasi terkait bidang kompetensi dan standardisasi yang dibutuhkan. Selanjutnya, untuk mempersiapkan sumber daya manusia, Dindik Jatim yang akan menjadi standing commite.
Di SMK Jatim sendiri, kini telah ada sembilan jenis kompetensi yang memungkinkan untuk ditawarkan ke pasar tenaga kerja internasional. Tinggal melihat kebutuhannya paling besar pada jenis kompetensi apa, lalu pemerintah fokus untuk mengembangkannya.¬† “Tidak harus memenuhi 6 juta. Seribu tenaga kerja terampil saja sudah luar biasa,” kata mantan Sekdaprov Jatim ini.
Pakde Karwo juga menyatakan keiinginannya agar peluang ini segera direalisasikan. Jika perlu pada 2015 mendatang sudah dapat terlaksana.
Kepala Dindik Jatim Dr Harun MSi menambahkan, kesiapan untuk memenuhi permintaan pasar tenaga kerja baik domestik maupun internasional akan diintegrasikan melalui kurikulum SMK. Misalnya saja dalam standardisasi pasar tenaga kerja internasional terdapat empat variabel, sedangkan SMK saat ini hanya mampu memenuhi dua variabel saja, maka perlu upaya khusus agar SMK mampu memenuhi seluruh variabelnya. “Jadi lulusan SMK benar-benar mampu memenuhi pasar tenaga kerja,” kata dia.
Dengan jumlah SMK yang telah mencapai perbandingan 60 persen 40 persen dengan SMA, Harun optimistis mampu memenuhi pasar tenaga kerja terampil. “Kuantitas ini akan terus digenjot hingga memenuhi perbandingan 70 persen, 30 persen. Selain itu kualitasnya juga harus dikembangkan, salah satunya dengan menggandeng DUDI,” tutur Harun.
Kabid Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) Dindik Jatim Hudiyono MSi menambahkan, dalam forum harmonisasi pendidikan kejuruan dengan DUDI itu sekaligus menjadi langkah awal kemitraan di antara keduanya. Kemitraan ini secara resmi ditandai dengan penandatangan antara DUDI dan Dindik Jatim. Sedikitnya ada delapan perusahaan skala nasional dan tiga skala regional. “Kerjasama ini akan dimanfaatkan untuk mengintegrasikan kurikulum SMK sekaligus membuka peluang tenaga kerja bagi lulusannya,” pungkasnya. [tam]

Tags: