JLS, Jalur Lintas Sabar

JLSJALUR Lintas Selatan (JLS) yang bakal terbentang dari Banyuwangi sampai Pacitan, mulai memperoleh komitmen lagi dari pemerintah. Tahun 2012 lalu, proyek mercusuar infra-struktur jalan itu terhenti (0%). Sedangkan jembatan yang terbangun cuma 1,92%. Tahun 2015 ini, Gubernur Pakde Karwo sudah berkomitmen membuka alokasi anggaran sebesar Rp 500 milyar khusus untuk JLS. Komitmen itu tertuang dalam KUA-PPAS 2015. Tapi realisasinya dalam APBD 2015 kurang dari separuhnya.
Masyarakat JLS agaknya, harus bersabar. Gagasan JLS telah dimulai pada tahun 2002, dan disetujui oleh presiden (saat itu) Megawati Soekarnoputri. JLS sebenarnya dapat menjadi “jawaban” riil untuk menghadapi tantangan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) 2015. Fungsinya tak lain untuk membedah wilayah selatan Jawa timur yang tergolong miskin. Daerah yang dilintasi JLS, antaralain Pacitan, Trenggalek dan Tulungagung. Merupakan kantong kemiskinan di Jawa Timur, selain Madura.
Banyak pantai terhampar dari Muncar di Banyuwangi sampai Kelayar (di Pacitan). Hasil bumi yang terkandung sangat besar. Mungkin saja dalam bidang pertanian kawasan JLS masih kalah dengan jalur tengah dan utara yang dibangun oleh Daendels. Tetapi hasil bumi yang berupa bahan mineral dipastikan terkaya di Jawa Timur. Berbagai bahan tambang (selain minyak dan gas) sudah bisa terlihat dengan mata telanjang.
Andai JLS sudah beres terbentang, kawasan itu diyakini lebih komplet potensinya dibanding daerah Senggigi di pulau Lombok. Ada ke-wisata-an, ke-maritim-an, agrikultur, serta tambang mineral. Andai JLS sudah terbentang, berbagai proyek investasi skala mercusuar, menengah maupun yang kecil-kecilan sudah menunggu. Antaralain pembangunan pelabuhan laut, industri pertambangan mineral dan home-industry berbasis ke-rumah tangga-an.
Realisasi anggaran yang kurang dari separuh komitmen, memang cukup beralasan. Terutama dari reasoning ke-konstruksi-an, serta ke-birokrasi-an. Misalnya, untuk perencanaan, supervisi sampai lelang proyek dibutuhkan waktu sekitar 9 bulan. Tiada satupun kontraktor di dunia yang sanggup menyelesaikan proyek jalan senilai Rp 400 milyar dalam waktu 3 bulan. Sehingga dipastikan akan dilaksanakan secara multy years.
Reasoning ke-konstruksi-an tak kalah rumit. Misalnya, sebagian besar bakal JLS kini masih berupa jalan setapak di hutan, atau di tengah perkampungan penduduk. Itu sangat sulit untuk mendatangkan alat-alat berat. Sehingga diperlukan pekerjaan perintis pembukaan jalan, sekaligus beberapa base camp proyek. Begitu pula tidak mudah untuk menimbun bahan bangunan dalam jumlah sangat besar. Pada musim hujan, bahan bangunan juga rentan tersapu curah hujan.
Nilai proyek JLS tahun 2015 yang “disanggupi” oleh Dinas PU Bina Marga hanya sebesar Rp 243,413 milyar. Yakni, untuk pembangunan jalan sepanjang 129,15 Km, senilai Rp 218,2 milyar. Serta untuk membangun jembatan sepanjang 160 meter, sebesar Rp 14,4 milyar. Sisa komitmen (Rp 281,8 milyar dari Rp 500 milyar) akan digunakan untuk pemeliharaan jalan dan jembatan milik Pemerintah Propinsi. Terutama jalan “sirip” yang meng-akses ke JLS.
Reasoning ke-brikorasi-an yang lain adalah, terdapat pembagian tugas penyelesaian proyek JLS, antara Pemerintah pusat, Pemrop dan Pemkab. Pembagian tugas yang disepakati pada tanggal 24 Agustus 2014 itu, mengubah pekerjaan yang semula berdasarkan ke-konstruksi-an, menjadi ruas kawasan. Sebenarnya malah meringankan beban Pemprop. Pemprop “hanya” berkewajiban menyelesaikan JLS pada ruas / kawasan kabupaten Tulungagung – Blitar – dan sebagian Malang.
Dus, JLS akan menjadi pesaing ketat jalur Daendels. Terutama sektor wisata dan perikanan (budidaya maupun tangkap) yang akan menjadi unggulan kawasan selatan. Perdagangan interinsuler tidak perlu lagi melalui jalur tengah. Bahkan bisa dilakukan ekspor-impor langsung. JLS sebenarnya merupakan kebutuhan pemerintah, agar bisa menampung investasi. Sekaligus juga menjadi pengharapan masyarakat sekitar, agar terbebas dari kemiskinan.

                                                                                                            ————— 000 —————

Rate this article!
JLS, Jalur Lintas Sabar,5 / 5 ( 1votes )
Tags: