Jokwi-JK Stagnan di Battle Ground

2-makSurabaya, Bhirawa
Stagnasi elektabilitas pasangan Jokowi-Jusuf Kalla yang diusung oleh PDIP, PKB, Nasdem, Hanura dan PKPI, ternyata tidak saja di Jatim. Hasil survey di hampir semua daerah battle ground, yaitu sembilan provinsi yang memiliki jumlah pemilih besar, Jokowi-JK  semakin stagnan dan pasangan Prabowo-Hatta melejit.
Dari daerah battle ground,meliputi, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Banten, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Sumatera Selatan dan Lampung, Pasangan Jokowi-JK hanya menang di Jawa Tengah.
”Dimana pasangan Jokowi-JK hanya unggul di Jawa Tengah yang dikenal kantong suara atau pangsa pasar tradisional dari PDIP dengan 47,5%. Sedangkan Prabowo-Hatta 43,3% dan undecided voters (belum tentutkan pilihan) sebanyak 9,2%,” jelas Peneliti Utama Lembaga Survey Nasional (LSN) Pradipta dengan mimic serius kepada wartawan, Senin (16/6), di Surabaya.
Sebaliknya, kata Pradipta, pasangan Prabowo-Hatta unggul jauh atas Jokowi-JK di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Sedangkan di Sulawesi Selatan kekuatan keduanya hamir berimbang karena Partai Golkar terbelah merata. Sebagian yang loyal terhadap pilihan partai mendukung Prabowo-Hatta dan sebagian lainnya mendukung Jusuf Kalla karena mereka bangga terhadap putera daerah yang maju menjadi Cawapres.
Sementara di Jatim, sebagai salah satu provinsi dengan jumlah pemilih terbesar di Indonesia, elektabilitas pasangan Jokowi-JK tertinggal sekitar 4 persen dari Prabowo-Hatta.
”Seandainya Pilpres dilaksanakan saat ini, sebanyak 48,4 persen warga Jatim mengaku akan memilih Prabowo-Hatta dan hanya hanya 44,6 persem yang akan memilih Jokowi-JK. Sementara 7 persen sisanya belum punya pilihan (undercided),”tegas Pradipta lagi.
Mandeknya elektabilitas Jokowi-JK berdasarkan LSN disebabkan tersendatnya kinerja mesin partai pendukung. ” Elaktabilitas Jokow-JK mandek karena partai-partai pengusung hanya bergerak 53,5%, jauh di bawah mesin partai Prabowo-Hatta yang sudah bergerak 65,3%,” bebernya.
Dari lima partai yang resmi mengusung Jokowi-JK, hanya mesin PDIP yang optimal menggerakkan konstituennya. Hampir 80 persen pemilih PDIP pada Pileg 2014 mengaku akan memilih pasangan Jokowi-JK. Sedangkan mesin Partai Nasdem baru bergerak 50 persen dan Partai Hanura 47,8 persen.
Bagaimana dengan swing voter (masa mengambang) yang cukup besar hingga 18 persen. Menurut Peneliti Utama LSN, Gema Nusantara jika hal itu harus diwaspadai oleh dua pasangan capres-cawapres. ”Mereka ini cenderung masih menunggu. Dan dipastikan debat capres yang digelar ditelevisi hingga lima kali putaran disinyalir akan merubah pemikiran mereka,”tambah Gema.
Selain itu, para tim pemenang kedua capres harus mampu menjadikan masa mengambang ini untuk mendukungnya. Dengan begitu diharapkan ada tambahan suara saat pencoblosan pada 9 Juli nanti.
”Yang pasti kami akan melakukan survey lagi sebagai hasil dari dampak debat capres yang ditayangkan di sejumlah stasiun televise. Saya yakin ada perubahan dari hasil yang ada sekarang,”tegasnya. [cty]

Rate this article!
Tags: