Kab Probolinggo Uji Coba PTM di Zona Hijau

Gugus Multigrade Sukapura persiapkan sekolah tatap muka SD dan SMP. [wiwit agus pribadi]

Tekan Kekerasan pada Anak, Sekolah Diminta Tidak Menumpuk Tugas
Probolinggo, Bhirawa
Meningkatnya angka kekerasan dan pencabulan terhadap anak di Kota dan Kabupaten Probolinggo, menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan. Diantaranya meminta pihak sekolah tidak terlalu banyak memberikan tugas kepada anak didik.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi, Senin (12/10) mengatakan, meningkatnya kekerasan terhadap anak-anak juga dialami seluruh daerah. Mengingat pandemi Covid 19 juga menyerang seluruh wilayah, bukan hanya Kota dan Kabupaten Probolinggo. Apalagi, ketika siswa yang menjalani Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Dalam Jaringan (Daring) dan luar jaringan, banyak orang tua yang kurang sabar. Akhirnya, melakukan tindak kekerasan terhadap anaknya.
“Sebenarnya ada dinas yang spesifik terkait dengan tindak kekerasan terhadap anak. Tetapi, pada prisnsipnya sudah ada UU Perlindungan Anak Nomor 20 tahun 2002. Di sana mengatur jika tidak boleh ada kekerasan terhadap anak. Bagaimana jika terjadi kekerasan terhadap anak yang notabene sekarang melakukan pembelajaran di rumah? Persoalannya kan di situ. Kekerasan itu sering dilakukan oleh orangtuanya, karena memang tidak mempunyai basic guru atau sebagai tenaga pendidik,” lanjut Rozi.
Rozi menjelaskan, kekerasan terjadi sebenarnya tidak ada maksud untuk menyakiti anaknya. Tetapi, lebih kepada orang tua belum cukup bersabar menghadapi anaknya yang sedang menghadapi pembelajaran Daring. Karena pembelajaran secara Daring dengan cara penjelasan secara online, juga ada penugasan. Terkait dengan penugasan itu yang sering mengeluh orang tua. Mungkin karena terlalu banyak tugasnya, sehingga tidak bisa mendampingi anaknya secara maksimal.
Rozi mengaku sudah menyampaikan kepada guru melalui kepala dan pengawas sekolah, pembelajaran pada masa pandemi ini tidak dalam rangka menuntaskan kurikulum. Semangat strategi pembelajaran, apakah itu daring dan fluring, hanya mengacu pada capaian kompetensi dasar esensial dan kompetensi dasar prasyarat.
“Hanya dua kompetensi itu saja yang menjadi sasaran dengan strategi pembelajaran yang beragam. Jadi, tidak perlu ada penugasan yang sangat banyak. Jadi antaran Daring dan Luring yang dikenal dengan blendid learning itu menjadi solusi. Ini bagian dari cara untuk mengatasi kejenuhan, termasuk ketidaksabaran orangtua. Mengingat tidak semua orangtua itu guru. Makanya, ini juga bisa dijadikan pembelajaran agar orang tua tidak mudah melaporkan gurunya,” tuturnya.
Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo Moch Maskur. Menurutnya, di Kota Probolinggo sudah dilakukan pembelajaran ramah anak. Hal itu dilakukan guna meminimalisir angka kekerasan terhadap anak di sekolah. Namun jika terjadi di luar sekolah, menurutnya, itu sudah menjadi tanggung jawab orangtua.
“Kami tidak bisa atau mengalami kesulitan untuk memantau jika di luar sekolah. Karenanya, jika anak di luar sekolah, itu menjadi ranah atau tanggung jawab orangtua,” jelasnya.
Maka diharapkan kepada orang tua juga bisa lebih bersabar menghadapi anak – anaknya ketika mengikuti pembelajaran secara Daring. Semua ini dilakukan untuk mengurangi penyebaran Covid 19, khususnya terhadap anak-anak di lingkungan sekolah.
Diketahui sebelumnya, di tengah mewabahnya Covid-19, angka kekerasan terhadap anak-anak di Kota Probolinggo meningkat. Dari catataan Lembaga Perlindungan Anak Komnas HAM Perwakilan Kota/Kabupaten Probolinggo, sejauh ini terdapat 3.060 kasus kekerasan terhadap anak. Angka ini naik 20 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun, ribuan kasus itu tidak sampai terekspos dan masuk ranah hukum.
Maka Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo, terus mematangkan rencana uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Dalam dua pekan terakhir, dipastikan hanya enam kecamatan di Kabupaten Probolinggo yang konsisten di zona hijau. Yaitu, Kecamatan Lumbang, Sukapura, Sumber, Kuripan, Tiris dan Krucil. Di tiap kecamatan yang masuk zona hijau itu, pembelajaran tatap muka akan diujicobakan di satu SDN dan satu SMPN. Karena itu, Dispendik pun menetapkan 12 lembaga SDN dan SMPN yang bakal melakukan uji coba PTM. [wap]

Tags: