Kasus Bullying KPAI Datangi Mapolresta Malang

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ketika mengunjungi Polresta Malang Kota, Rabu (12/2) kemarin. [m taufiq]

Malang, Bhirawa
Untuk memastikan kasus bullying dapat ditangani sesuai dengan prosedur, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendatangi Polresta Malang Kota, Rabu (12/2) kemarin. Kehadiran KPAI untuk menanyakan update penanganan yang dilakukan polisi terkait kasus perundungan atau bullying yang terjadi di Kota Malang.
Menurut Komisioner KPAI, Retno Listyarti, kasus ini menjadi perhatian publik lantaran melibatkan anak-anak usia di bawah 13 tahun dan harus sesuai dengan peradilan pidana anak. Maka KPAI ingin memastikan, mulai dari proses pemeriksaan, harus didampingi oleh orangtuanya. ”Kami ingin memastikan ini, ternyata sudah dilakukan,” terangnya.
Terhadap kasus ini, KPAI memberikan rekomendasi untuk kedua belah pihak. ”Kami minta hak rehabilitasi anak – anak bisa dilakukan, baik yang sebagai saksi, korban maupun pelaku,” terangnya.
Termasuk, pemberian pendampingan dan pertimbangan rekomendasi dari psikolog juga diperlukan. Utamanya, terhadap korban, yang paling penting, dia tenang dulu, dan secara psikologi bisa pulih. Terkait evaluasi beberapa kasus kekerasan terhadap anak, pihaknya fokus terhadap penanganan kasus agar tidak terjadi lagi. Untuk mengatasi hal ini, rencananya Kamis (13/2) hari ini, KPAI akan bertemu dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Selain itu, KPIA juga akan membicarakan terkait korban, apakah ia masih nyaman bersekolah disana atau tidak. ”Kalau tidak, kami meminta dinas terkait untuk mencarikan sekolah yang tak jauh dari rumahnya,” tambah dia.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, Kompol Yunar Hotma Parulian Sirait akan memanggil dua orang anak yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. ”Kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan. Sejauh ini, semua pihak sudah memenuhi panggilan kami,” terang dia.
Setelah itu, pihaknya juga akan melakukan konfrontasi dari keterangan para saksi. Kemudian, dia akan melakukan rekonstruksi. Dia berharap bisa dilakukan minggu ini. Hingga kini, polisi masih terus melakukan pengembangan terhadap kasus ini. Sebab, tidak menutup kemungkinan ada penambangan jumlah tersangka. ”Masih kami lakukan pengembangan terus,” tandas dia.
Sebelumnya polisi telah menetapkan dua orang siswa menjadi tersangka. Mereka adalah WS (14), siswa kelas delapan dan WK (13) siswa kelas tujuh. Dalam perkembangan sangat mungkin tersangka akan bertambah.
Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata, kepada watawan, sebelumnya menjelaskan, bahwa semua proses akan dilalui untuk memberikan kepastian hukum pada kasus ini. Sebelum menetapkan dua siswa menjadi tersangka, Kapolresta menyampaikan, sudah ada 23 saksi yang dimintai keterangan oleh petugas Kopolisian. Di antaranya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Zubaidah, Kepala SMPN 16 Malang Syamsul Arifin, Wakil Kepala sekolah, guru BP, dan pihak keluarga korban.
Polresta juga telah meminta keterangan dari 10 siswa, yang dimungkinkan mengetahui atau terlibat pada kejadian itu. Tidak hanya itu, pihaknya juga telah memanggil empat dokter spesialis dari RS Lavalette, yang menangani korban saat berobat. [mut]

Tags: