Kasus Dugaan Suap Bupati Tantri dan Hasan, Kepala DLH Diperiksa KPK

Dwijoko Nurjayadi keluar dari ruang pemeriksaan KPK di polrres Probolinggo. [wiwit agus pribadi]

Probolinggo, Bhirawa
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengembangkan operasi tangkap tangan (OTT) dugaan suap jual beli jabatan Pj kades di Kabupaten Probolinggo. Tidak hanya menggeledah rumah Kepala DLH Kabupaten Probolinggo Dwijoko Nurjayadi. Senin (6/9), penyidik KPK memeriksa lelaki itu di Mapolres Probolinggo hingga malam hari.
Dwijoko mendatangi Mapolres Probolinggo sekitar pukul 12.30. Menggunakan baju warna keki, dia langsung masuk ke ruangan Rupatama Satwika di Lantai II Mapolres Probolinggo. “Tidak tahu jam berapa datang. Sepertinya beliau (Dwijoko, Red) dari tadi sudah ada,” ujar salah seorang anggota polisi di Mapolres Probolinggo, Senin (6/9) malam.
Sementara penyidik KPK lebih dulu datang ke Mapolres. Ada tujuh penyidik yang datang. Mereka naik tiga mobil Toyota Innova yang biasa digunakan selama bertugas di Kabupaten Probolinggo. Begitu datang, mereka langsung masuk ke ruangan Rupatama Satwika.
Selama pemeriksaan terhadap Dwijoko, situasi di depan ruang Rupatama Satwika tampak sepi. Tidak ada penjagaan ketat seperti yang dilakukan saat pemeriksaan 17 tersangka.
Namun, pengawasan tetap dilakukan dengan memantau Closed Circuit Television (CCTV) yang berada di sekitar ruang pemeriksaan. Saat pekerja media mulai ramai, petugas kepolisian pun menyarankan untuk turun ke lantai satu. Menunggu pemeriksaan selesai. Kontan pemantauan situasi pun terbatas.
Pukul 14.04, Dwijoko keluar dari ruang pemeriksaan. Seakan telah mengetahui keberadaan media, dia bergegas menuruni tangga Mapolres Probolinggo sisi tengah dan menghindari awak media. Saat ditanya tentang tujuan kedatangannya di Mapolres, dia hanya bungkam. “Tidak ada,” kata Dwijoko dan pergi dengan tergesa-gesa.
Sekitar 15 menit kemudian, Dwijoko kembali mendatangi Mapolres Probolinggo. Jika sebelumnya turun menggunakan tangga sisi tengah, kali ini dia naik ke lantai II melalui tangga sisi barat. Kemudian, masuk ke ruang Rupatama Satwika.
Hingga petang, Dwijoko masih diperiksa petugas KPK. Sementara salah seorang petugas KPK mengeluarkan satu koper dari dalam ruangan. Koper warna hitam itu kemudian dimasukkan ke mobil. Belum diketahui isi koper tersebut. Hanya diduga, isinya dokumen terkait pengembangan kasus OTT.
Satu jam kemudian, seperti kucing-kucingan dengan media yang telah menunggu, Dwijoko pulang menuruni tangga sisi tengah. Awak media pun segera menghampirinya. Namun, lelaki yang dikenal gemar bersepeda itu kembali bungkam. Dia menanggapi pertanyaan media dengan jawaban yang sama. “Tidak ada,” katanya.
Lantas dengan mempercepat langkahnya, Dwijoko masuk ke mobil dinas Isuzu Panther yang disopirinya sendiri. Dugaan sementara, kedatangan Dwijoko untuk memberikan keterangan tentang sepeda yang dimiliki Bupati Probolinggo nonaktif Puput Tantriana Sari yang saat ini disita KPK.
Dwijoko Nurjayadi diperiksa komisi antirasuah itu di Mapolres Probolinggo. Pemeriksaan di Gedung Rupatama Satwika Polres Probolinggo, Senin, itu diduga terkait kasus suap kepada Bupati Puput Tantriana Sari.
Joko, panggilan akrab Dwijoko Nurjayadi diduga menyuap dua sepeda mahal kepada Bupati Tantri. Yakni, Trek Madone dan Alex Moulton, yang harganya berkisar Rp30-100 juta per unit tergantung tipe dan tahun pembuatan. Kini sepeda tersebut sudah diamanlkan pihak KPK, untuk pemeriksaan lebih lanjut. [wap]

Tags: