Kasus Kekerasan Anak Dibawah Umur di Kabupaten Malang Turun

Ilustrasi kekerasan anak dibawa umur

Kab Malang, Bhirawa
Berdasarkan data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Malang, korban kekerasan anak dibawa umur di tahun 2020 jumlahnya turun, jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Kepala DP3A Kabupaten Malang, Harry Setia Budi, Rabu (14/10) kemarin, kasus kekerasan anak dibawa umur di Kabupaten Malang, dari Bulan Januari hingga Bulan Oktober 2020 ini, berjumlah 26 laporan. Jumlah ini lebih besar di tahun 2019 yakni mencapai 85 laporan masyarakat terkait kasus kekerasan anak dibawa umur. ”Kemungkinan penurunan jumlah kekerasan anak dibawa umur karena speak up atau korban tidak berani bicara atau melapor,” terangnya.
Sebenarnya di Kabupaten Malang ini banyak terjadi kasus kekerasan anak dibawa umur, namun korban tidak berani bicara. Sehingga telah terjadi penurunan jumlah pelapor. Dan meski terjadi jumlah penurunan, tapi pihaknya tetap saja membuka pelaporan masyarakat terkait adanya kekerasan pada anak. Sedangkan masih ada masyarakat enggan melaporkan kasus kekerasan anak. Karena mereka menilai kekerasan pada anak itu merupakan aib keluarga.
“Sehingga pelaku kekerasan pada anak tidak bisa ditindak atau di proses hukum, karena pihak keluarga tidak melaporkannya, dan pelaku tetap saja berkeliaran. Dan untuk korban sendiri selalu takut pada pelaku yang tidak mendapatkan sanksi hukum,” ujar Harry.
Maka keluarga korban lebih memilih tidak melaporkan, karena takut jika persoalannya nanti akan lebih buruk. Apalagi, pelaku masih dikalangan keluarga sendiri atau masih tetangga sendiri. Dan rata – rata kekerasan pada anak dibawa umur, pelakunya orang tuanya sendiri. Sehingga kemunkinan keluarga korban tidak berani melaporkan kejadian kekerasan itu. Hal ini seperti kasus yang dialami anak dibawa umur di wilayah Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, yang mana korban telah mendapatkan kekerasan oleh ibu kandungnya sendiri.
“Dan terungkapnya kasus anak mendapatkan kekerasan dari ibunya, setelah viral video di Media Sosial (Medsos). Sebenarnya, kasus kekerasan itu sudah lama, namun si anak tidak berani bicara kepada siapa pun. Sehingga kasus itu terungkap setelah viral videonya di Medsos,” ungkapnya.
Sedangkan dari kasus kekerasan yang dilakukan ibunya pada anak kandungnya sendiri, kata Harry. Maka si ibu harus berurusan dengan polisi, dan saat itu langsung ditangani Polres Malang. Asal mula kekerasan itu, saat ibunya mengajari anaknya belajar matematika, dan si anak yang diajari ternyata belum juga paham, sehingga ibunya memukul dan menggigit tangan anaknya. Berdasarkan informasi dari tetangga dekat rumah korban, kejadian itu sudah berulang – ulang dilakukan ibunya.
“Kasus kekerasan anak dibawa umur itu bukan aib. Sehingga persepsi masyarakat harus diubah. Dan ketika ditemukan kekerasan pada anak, segera melaporkan kejadian itu pada DP3A atau ke pihak Kepolisian. Karena korban tak bersalah, sebaliknya yang bersalah itu pelaku kekerasan, sehingga jangan takut melapor,” tandasnya. [cyn]

Tags: