Kasus Selegram Rachel Vennya dan Efek Jera

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair

Publik kembali dihebohkan dengan kaburnya selegram tanah air Rachel Vennya dari Karantina RSDC Wisma Atlit Pademangan Jakarta setelah usia melakukan pelesir ke Amerika Serikat. Sesuai dengan peraturan pemerintah, tiap warga yang baru kembali dari luar negeri harus menjalani karantina selama lima hari. Rachel Vennya diduga hanya menjalani karantina tiga hari di RSDC Pademangan sebelum akhirnya melarikan diri.

Selebgram itu terancam 1 tahun penjara jika terbukti melanggar ketentuan karantina

dan wabah penyakit menular sehingga Rachel Vennya dapat dijerat Pasal 93 Undang Undang RI Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan dan Pasal 14 Undang Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit. Manifestasinya adalah pertama, bentuk kepatuhan setiap warga negara atas aturan perundang-undangan, tidak pandang bulu dan berlaku setara (equality dan equity).

Apalagi terkait wabah penyakit menular yang berpotensi terjadi penyebaran dan penularan ke tengah-tengah masyarakat. Hal ini penting untuk menjadi pelajaran bahwa tidak ada siapapun yang kebal hukum karena penyakit tidak mengenal kasta, tahta dan golongan maupun kelompok. Semakin abai atas protokol kesehatan maka risiko tertular lebih tinggi walaupun terdapat faktor lain yang mempengaruhi seperti kelompok usia rentan, kondisi imunitas, kebersihan lingkungan dan pola perilaku sehat seseorang. Kedua, memberikan efek jera. Dalam konsep sosial kesehatan menerangkan bahwa secara psikologis masyarakat akan cepat sadar jika ada kasus yang menjadi atensi publik dan prioritas pemerintah ditangani dan dipublikasi agar mengingat semua untuk tidak main-main dengan “urusan” nyawa dan kesehatan.

Harus diakui bahwa sebagian masyarakat baru “ngeh” ketika terdapat seseorang yang melanggar hukum akan membuka mata dan hati yang lain agar kejadian serupa tidak terjadi dan tidak main-main terhadap aturan negara/pemerintah sebab sebuah aturan dirancang dan diberlakukan dalam rangka menata, menertiban dan melindungi setiap warga negara atau masyarakat tanpa kecuali. Terlebih aturan tentang wabah penyakit menular yang sangat berisiko terjadi bencana sosial (social disaster) dan bencana kemanusiaan (humanity disaster). Ketiga, mencerminkan bahwa hukum berwibawa dan menjadi panglima bagi semua. Kasus kaburnya Rachel juga menyeret oknum TNI yang diduga turut serta dengan membantu kaburnya selegram tersebut. Pada prinsipnya wabah penyakit menular merupakan salah satu ancaman terbesar dalam konteks kesehatan masyarakat. Kesehatan apalagi menyangkut keselamatan nyawa tidak boleh dipandang sebelah mata, diberlakukan sama bagi setiap orang dan tidak ada toleransi (zero tolerance).

Oleh karena karakteristik penyakit menular baik disebabkan oleh virus, kuman, bakteri atau sebab lain berpotensi menyerang setiap orang dan memiliki derajat penularan (virulensi) yang tinggi, berkembang cepat dan menimbulkan aspek kebencanaan skala luas. Jika satu saja seseorang dibiarkan atau tidak terdeteksi maka sanagat berpotensi besar untuk menyebarkan ke orang lain dengan mengikuti deret ukur dan dapat pula bersifat eksponensial. Pandemi Covid-19 belum berakhir dan kondisi darurat belum dicabut meski saat ini terjadi penurunan kasus yang signifkan namun semua harus berhati-hati untuk tetap selalu menerapkan protokol kesehatan dan mengenjot program vaksinasi di semua lini dalam rangka mencapat target kekebalan kelompok (herd immunity) setidaknya 70 persen dari populasi telah dilakukan vaksinasi minimal 2 kali.

Harus diakui upaya pengendalian kasus Covid-19 oleh pemerintah harus diapresiasi bahkan menjadi rujukan negara lain dalam pengendalian pandemi menuju endemi. Namun demikian semua tidak boleh lengah dan kendor terhadap protokol kesehatan sehingga ancaman gelombang ketiga kasus Covid-19 tidak terjadi mengingat saat ini beberapa negara tengah (kembali) terjadi lonjakan kasus seperti China, Singapura, Rusia, Turki dan Inggris. Kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius jika tidak ingin terjadi gelombang ketiga yang sungguh sangat tidak harapkan semua masyarakat. Semua sudah lelah dengan pandemi, oleh karena itu tidak ada jalan lain untuk selalu mengingatkan dan mewaspadai potensi timbulnya atau risiko terjadinya lonjakan kasus.

Strategi Foresight

Pandemi Covid-19 membawa dunia memasuki era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiquity) yang mendorong negara-negara di dunia mempertimbangkan berbagai skenario. Adanya Covid-19 telah mengubah berbagai kondisi fundamental berbagai negara termasuk upaya dan strategi keluar dari cengkeraman pandemi yang secara perlahan menuju endemi (kasus mampu dikendali, hanya bersifat sporadis) seperti kasus BDB, Tubercolosis, Pneumonia, Cacar dan lain-lain. Desain, roadmap dan strategi dalam rangka pengendalian Covid-19 harus merujuk dan berbasis data (evidance based). Salah satu strategi yang dapat menjadi opsi adalah strategi foresight yakni kemampuan untuk dapat memperkirakan hal positif maupun hal negatif yang dapat terjadi di masa yang akan datang tanpa melupakan data historis yang ada. Kondisi tersebut membutuhkan sumber daya yang memadai dan mumpuni dan bertumpu pada eksistensi data historis yang mencerminkan realita yang sebenarnya.

Oleh karena kebijakan (wisdom) merupakan akumulasi atau komposit dari knowledge yang diperoleh dari informasi yang disusun berdasarkan basis data. Problem data saat ini masih menjadi problem krusial pemerintah termasuk data Covid-19. Meski pada awalnya terdapat kesimpangsiuran data namun secara perlahan, data dapat teratasi meski harus terus dilakukan penyempurnaan kualitas dan validitas data secara secara sahih dan merujuk standar keilmuan statistika sebagai acuan (guidance). Dalam konteks pengendalian pandemi bahwa target yang ingin dicapai adalah menurunkan angka penularan seminimal mungin (positive rate) sesuai rekomendasi WHO. Kondisi tersebut memerlukan prasayarat antara lain : penerapan protokol kesehatan tetap menjadi acuan masyarakat, percepatan vaksinasi di berbagai lini, testing, tracing terus digenjot, peningkatan kapasitas layanan rumah sakit dan edukasi kepada masyarakat tentang new normal untuk beberapa tahun kedepan. Semoga pandemic Covid-19 terus ditekan dan dikendalikan yang selanjutnya masuk dalam kondisi endemi dimana sebuah kasus dapat dikendalikan meski secara sporadis masih ditemukan sehingga sosial ekonomi dapat kembali pulih, bangkit dan bergairah dari keterpurukan disemua bidang kehidupan akibat pandemi, semoga.

———- *** ———-

Tags: