Kebaya Masuk UNESCO

foto ilustrasi

Pakaian tradisi budaya jenis Kebaya, akan didaftarkan sebagai “Warisan budaya tak-benda” ke UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization). Kementerian Dikbudristek RI meng-inisiasi pakain Kebaya dalam pawai perempuan di car free day Jakarta. Sebagai budaya adiluhung pakaian perempuan, Kebaya hanya dikenakan pada saat seremonial acara pemerintahan (pusat hingga daerah). Juga dalam gelar hajatan (pernikahan) kostum adat Jawa, Sunda, dan Bali.

Pakaian Indonesia sudah kondang di tingkat global. Terutama motif batik telah disandang delegasi resmi pada forum Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB). Tak terkecuali Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, dan delegasi pemegang hak veto, juga mengenakan baju bermotif batik. Sidang Dewan Keamanan PBB yang lazim terasa “garang” berubah menjadi bernuansa damai, penuh warna.

Dress-code (seragam) baju batik merupakan penghargaan kepada Indonesia sebagai presiden DK PBB. Saat itu (awal Oktober 2019) Sekjen PBB mengenakan baju tenun batik bermotif troso (warna cerah). Sedangkan pimpinan delegasi pemegang hak veto, Perancis, China, dan Amerika Serikat, mengenakan motif batik yang berbeda-beda. Dress-code (seragam) baju batik merupakan penghargaan kepada Indonesia sebagai presiden DK PBB. Dress-code (pakaian seragam) motif batik, kini menjadi andalan, dan kebangaan nasional dan internasional.

Batik terasa bisa mengubah suasana forum debat terbuka DK PBB menjadi adem. Beberapa tokoh internasional juga gemar (sampai fanatik) mengenakan baju batik. Misalnya, Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, telah mengenakan baju batik sejak tahun 1990 (sebelum menjadi Presiden). Nelson Mandela semakin fanatik mengenakan baju batik pada acara resmi kenegaraan di Afrika Selatan, sampai akhir hayatnya.

Kain pakaian bermotif batik, dikukuhkan sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO, pada 2 Oktober 2009. Badan dunia yang mengurusi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan (dibawahkan PBB), menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan kategori Budaya Lisan dan Bukan Benda (bangunan).Sejak itu pemerintah Indonesia, melalui Keppres Nomor 33 tahun 2009, terdapat Hari Batik Nasional.

Saat ini terdapat delapan sertifikat ICH (Intangible Cultural Heritage) Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO.Berdasar data UNESCO, kedelapan itu adalah Keris, dan Wayang, terdaftar tahun 2008. Disusul Batik dan Pelatihan Batik (tahun 2009), lalu Angklung Sunda (2010), Tari Saman asal Aceh (2011), Noken asal Papua (2012) dan tiga genre Tari Tradisional Bali (2015). Yang terbaru, kapal phinisi, pada September 2017, menerima sertifikat ICH dari UNESCO.

Kini sertifikat ICH asal Indonesia akan bertambah dengan pendaftaran pakaian Kebaya. Konon, kebaya berasal dari Timur Tengah dengan sebutan qaba. Juga populer di kalangan perempuan Persia, Turki, dan Urdu (seluruhnya mayoritas berpenduduk muslim). Namun Kebaya baru populer pada abad ke-19, dikenakan secara masif perempuan Jawa, Sunda, dan Bali. Serta biasa pula dikenakan perempuan beberapa negara tetangga (Malaysia, Brunei, dan Singapura).

Kebaya yang sudah mulai memudar, coba diungkit kembali. Antaralain menjadi kostum personel penerbangan di kawasan Asia Tenggara. Awak kabin maskapai Singapore Airlines, Malaysia Airlines, Royal Brunei Airlines, dan Garuda Indonesia, juga nampak anggung dengan Kebaya. Sebelumnya Indonesia telah memiliki 10 tradisi budaya yang diakui UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization). Termasuk Pantun (seni bertutur indah).

Tradisi budaya yang diakui UNESCO, tidak menyertakan negara asal “pemilik budaya.” Sehingga budaya dunia tidak dapat di-klaim dimiliki satu negara. Namun negara asal memiliki tanggungjawab melestarikan dan mengembangkan budaya, bersama negara lain yang peduli.

——- 000 ——–

Rate this article!
Kebaya Masuk UNESCO,5 / 5 ( 1votes )
Tags: