Kebut Vaksin dan Obat

foto ilustrasi

Segala daya (kewenangan, dan keuangan) wajib dikerahkan untuk menangani pandemi yang telah berlangsung selama 16 bulan. Tingkat kesembuhan sebanyak 1,93 juta pasien (sebesar 84,42%) masih harus ditingkatkan. Terutama melalui percepatan vaksinasi tanpa syarat, tanpa batas usia. Penderitaan rakyat terasa pedih akibat kehilangan anggota keluarga. Penderitaan semakin komplet dengan hilangnya nafkah pekerjaan. Juga surutnya ke-guyub-an sosial, karena ancaman penularan wabah.

Satgas Penanganan pandemi juga patut memberi “hiburan” dengan informasi berbagai obat yang dapat mengurangi risiko pewabahan. Sesuai hasil penelitian berbagai institusi terpercaya (lembaga virologi) internasional, dan penyelarasan penelitian di dalam negeri. Misalnya, obat kumur, yang telah dipublikasi dalam Journal of Medical Virology. Berdasar penelitian di Amerika Serikat, cairan pembersih kumur per-oksdida, efektif (sampai 99,9%) mengurangi virus di mulut.

Tidak sulit menjejaki (sebagai penyelerasan di Indonesia), karena di dalam negeri terdapat sekolah kedokteran cukup memadai. Begitu pula obat cacing ivermectin yang telah menjadi perburuan (sebagai obat CoViD-19), sedunia! Jika benar bisa dikurangi dengan obat yang remeh temeh, maka tingkat kesembuhan CoViD-19 akan melonjak pesat. Sekaligus mengurangi beban rumah sakit yang overload, karena pasien bisa menjalani isolasi mandiri di rumah.

Sokongan obat yang remeh temeh, niscaya mengurangi beban tanggungan pemerintah terhadap perawatan (dan obat) di rumah sakit yang sangat mahal. Pemerintah bisa memproduksi obat yang remeh temeh secara masal, berharga murah melalui BUMN ke-farmasi-an. Indonesia memiliki pabrik farmasi level (diakui) dunia. Misalnya, PT Indofarma Tbk, yang spesialis memproduksi obat generik. Serta PT Bio Farma Tbk, spesialis produksi vaksin. Sudah kesohor sedunia.

Mempercepat vaksinasi dan pengobatan CoViD-19, menjadi mandatory (kewajiban) pemerintah. Sehingga pandemi bisa diselesaikan dalam waktu se-singkat singkatnya. Perluasan vaksinasi terhadap remaja ABG (anak baru gede) usia 12 hingga 17 tahun bisa digencarkan untuk mencapai herd immunity. Khususnya membangun kekebalan pada tingkat keluarga. Remaja ABG seluruh Indonesia di perkirakan sebanyak 45 juta anak. Biasanya cukup berani disuntik.

Target vaksinasi nasional CoViD-19, akan menjadi sebanyak 226,5 juta orang. Dibutuhkan vaksin sebanyak 453 juta dosis suntik. Saat ini telah dilakukan penyuntikan sebanyak 14,5 juta dosis kedua, dan sebanyak 33 juta vaksinasi dosis pertama. Total sasaran masih sebanyak 405,5 juta dosis. Jika dalam sehari dilakukan suntik terhadap 2 juta orang, maka diperlukan 203 hari kerja. Sehingga diperlukan kerja lebih keras tenaga vaksinator sampai akhir tahun (2021) ini.

Pemerintah patut membuka lokasi vaksinasi yang mudah dijangkau masyarakat. Selain vaksinasi di tempat fasilitas kesehatan, seyogianya juga disediakan lokasi vaksinasi di mal, dan pusat perbelanjaan. Juga bisa menggunakan lokasi Posyandu yang biasa digunakan kegiatan ibu-ibu PKK di tingkat RW (Rukun Warga). Serta vaksinasi di tempat ibadah, dan pondok pesantren.

Vaksinasi dan pengobatan perlu dipercepat beriringan dengan PPKM Darurat. Namun tidak gampang memperoleh vaksin, yang kini menjadi kebutuhan utama di seluruh dunia. Sehingga pemerintah perlu memberi “insentif” sebagai penglipur menunggu kecukupan vaksin. Diantaranya, mengakui beberapa jenis obat yang bisa meningkatkan imun (kekebalan tubuh). Termasuk kearifan lokal berupa obat herbal (misalnya minuman berbahan jahe, dan sereh) tanaman endemik dalam negeri.

Ketahanan kesehatan diamanatkan konstitusi, dijamin sebagai hak asasi manusia (HAM). UUD pasal 28H ayat (1), menyatakan, “Setiap orang berhak … mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.” Seluruh dunia yakin, setiap penyakit pasti ada obatnya.

——— 000 ———

Rate this article!
Kebut Vaksin dan Obat,5 / 5 ( 1votes )
Tags: