Kecukupan Vaksin PMK

Pemerintah telah memiliki vaksin yang didatangkan dari Perancis, tetapi jumlahnya jauh dari memadai. Vaksinasi ternak berkuku belah akan berpacu dengan pe-wabah-an PMK (Penyakit Mulut dan Kuku). Sehingga harus melibatkan puluhan petugas di tiap kecamatan yang dikategori “daerah merah” penyakit ternak. Termasuk karyawan KUD (Koperasi Unit Desa) yang bergerak pada sektor per-susu-an. Jika lambat wabah PMK akan menyebabkan kerugian besar kalangan rakyat di perdesaan.

Sebanyak 800 ribu dosis dalam kemasan 8 ribu botol ukuran 200 mili-liter. Vaksin sudah di-distribusi-kan ke seluruh daerah wabah. Artinya, satu botol untuk seratus hewan ternak. Harus habis seketika. Sehingga setiap aksi vaksinasi harus terdapat 100 ekor sasaran. Ini tidak mudah, karena biasanya setiap kandang hanya berisi 2 – 4 ekor hewan ternak. Bisa menimbulkan kecemburuan, manakala salah dalam membuat skala prioritas. Maka perlu “pengawalan” TNI dan Polri pada setiap lokasi vaksinasi.

Harus dihindari perebutan vaksin antara kelompok tani di desa dengan perusahaan yang memiliki ratusan ekor hewan ternak. Suntik vaksin PMK diberikan untuk hewan yang sehat pada “daerah merah” wabah. Sedangkan sapi yang sakit harus diobati hingga sembuh. Sapi perah (yang diambil susunya) menjadi prioritas. Berdasar paradigma veteriner, sapi betina yang siap perah lebih menderita (sakit). Kantung susu telah besar, tetapi tidak dapat diperah karena puting membengkak.

Vaksinasi PMK mirip penanganan CoViD-19. Diberikan dalam dua kali dosis berselang 4 pekan. Serta ditambah booster. Sesuai instruksi presiden, 800 ribu dosis yang sudah datang segera bisa disuntikkan. Terutama pada daerah wabah (Jawa Timur), yang sekaligus sebagai penyaangga utama ketersediaan daging nasional. Gubernur sudah men-deklarasi-kan Jawa Timur berstatus “Keadaan Darurat Bencana Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).”

Anggaran menjadi masalah lain dalam penanganan wabah PMK. Tetapi UU tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, telah meng-garansi. UU pada pasal 46 ayat (2), menyatakan, “Dalam hal suatu wilayah dinyatakan sebagai daerah wabah, pemerintah daerah provinsi atau pemerintah daerah kabupaten atau kota wajib menutup daerah tertular, … serta pengalokasian dana yang memadai di samping dana Pemerintah.” Terdapat frasa kata “pengalokasian dana yang memadai” bisa disepakati bersama DPRD dalam Perubahan APBD 2022.

Saat ini seantero pulau Jawa telah dilaksanakan vaksinasi. Sudah hampir habis. Dijanjikan akan datang lagi sebanyak 2,2 juta dosis secara bertahap. Namun tetap belum mencukupi kebutuhan. Diperkirakan akan membutuhkan 25,9 juta dosis (2 kali suntik) mewujudkan “herd immunity” (70%) hewan ternak. Belum termasuk hewan berkuku belah yang hidup liar di hutan lindung. Sapi liar, kerbau liar, dan rusa, yang hidup di hutan lindung, juga patut memperoleh perhatian seksama.

Hewan yang hidup liar tidak dapat di-sepele-kan. Termasuk pencegahan melalui penyemprotan disinfektan melalui pesawat water boomber. Penularan PMK secara airbone bisa terbawa angin masuk kawasan hutan. Terutama di hutan berstatus Geo-park global. Jika diabaikan, hewan yang hidup liar di hutan bisa menjadi mata rantai pembawa virus. Berpotensi menularkan virus serotype-O (PMK) pada hewan ternak milik warga desa dekat hutan.

Pusat Veteriner Farma juga patut bekerja keras, segera kembali memproduksi vaksin PMK. Bahan vaksin dari Perancis bisa menjadi modal pembiakan vaksin dalam negeri. Sukses vaksinasi (tahun 1983 – 1986) telah diakui dunia, melalui Badan Kesehatan Hewan Dunia (Office Internatuonal des Epizooties – OIE) pada tahun 1990. Maka Pusvetma perlu “bangkit kembali,” sebagai produsen vaksin (dan antisera) serta bahan biologis lainnya.

——— 000 ———

Rate this article!
Kecukupan Vaksin PMK,5 / 5 ( 1votes )
Tags: