Kedepankan Belajar dan Ilmu sebagai Refleksi dari Pengalaman

Para peserta Jambore JSAN IV mengikuti petualangan Surabaya City Adventure, Minggu (15/10) kemarin. [Gegeh Bagus Setiadi]

Jambore JSAN 2017 Dihadiri 1.500 Peserta
Surabaya, Bhirawa
Lingkungan sekolah sangat berpengaruh bagi perkembangan belajar siswa-siswi. Dengan lingkungan dan metode pembelajaran yang menyenangkan, akan memantik munculnya ide dan kreativitas dari proses belajar dan mengajar yang berlangsung. Dengan demikian, lingkungan mampu menjadi media belajar siswa sekaligus menumbuhkan cara belajar yang aktif dan kreatif .
Jambore Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) 2017 yang digelar di Sekolah Alam Insani Mulia (Saim) yang sekaligus didapuk sebagai panitia penyelenggara diharapkan mampu menjadi wadah untuk komunikasi Sekolah Alam di Indonesia.
Sebagai tuan rumah JSAN yang ke IV ini diikuti kurang lebih 1.500 peserta. Mulai dari pendiri Sekolah Alam, guru, siswa, akademisi pendidikan, Dindik Provinsi/Kabupaten, hingga pemerhati pendidikan. Dengan mengusung tema ‘Urban Nature Synergy’ dihadiri oleh pakar-pakar pendidikan nasional dan internasional.
Seperti Panel Diskusi ke-4 yang diisi oleh Helen Tyas Tunggal dari Learnscapes Planning dan Design Australia ini. Menurutnya, sekolah yang baik adalah sekolah yang memiliki lingkungan dan halaman yang baik. Halaman sekolah yang menginspirasi adalah halaman yang dapat ditanami beragam jenis tanaman dan terdapat beragam jenis hewan didalamnya.
“Halaman yang baik ini mampu memberikan pengetahuan serta mampu mengembangkan potensi dan cara berpikir siswa,” jelas dia.
Helen mengakui bahwa sistem pendidikan Indonesia sudah banyak yang mengubah konsepnya menjadi konsep sekolah alam. Dimana, anak-anak diajak belajar bersama alam, dilatih dalam kegiatan yang melibatkan alam serta menemukan solusi terhadap masalah lingkungan yang terjadi.
“Cara sederhananya memulai pendidikan berdasarkan masalah berupa membuat karakter anak yang cinta dan peduli lingkungan, menanam dan merawat serta melakukan konservasi lingkungan sekitar,” paparnya.
Lalu, sekolah yang dibutuhkan di Abad ke-21 ini seperti apa, menurut guru di Sekolah Alam Depok, Jawa Barat Gouvara Wulandini menjelaskan pertama-tama sekolah harus jadi sekolah yang kreatif. Pengajaran yang diterapkan di sekolah harus dapat menginspirasi dan percaya diri.
“Kurikulum yang digunakan harus berbeda. Lebih dalam dan dinamis, serta menerapkan penilaian yang mampu memotivasi dan berstandar,” kata Gouvara yang juga Pakar Pendidikan ini.
Sementara itu, Dewan Pendidikan Kota Surabaya¬† Dr Martadi menyatakan bahwa untuk membangun sekolah yang memiliki mutu unggul harus dimulai dari guru yang hebat. “Bukan dari kurikulumnya yang hebat,” tegasnya.
Pernyataan Martadi itu sontak membuat para peserta yang mengikuti diskusi panel tersebut tertawa lepas. Menurutnya, saat ini para konsumen pendidikan yaitu para orang tua sudah pandai memilih sekolah yang bermutu dengan memiliki guru-guru hebat dan kreatif.
“Kurikulum saat ini itu sebaiknya memanusiakan manusia,” jelas Martadi.
Gelaran Jambore JSAN  IV ini sendiri juga ada beberapa diskusi panel yang terbuka untuk umum. Selain itu, di penghujung acara kemarin peserta juga mendapatkan informasi tentang sejarah Kota Pahlawan dalam Surabaya City Adventure dengan petualangan.

Sekolah Alam Berikan Angin Segar di Dunia Pendidikan
Ketua JSAN Nurul Hamdi, B.Eng juga mengharapkan bahwa jerih payah dalam mengembangkan Sekolah Alam di Indonesia dapat memberikan angin segar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Sebab, Sekolah Alam tidak harus gunung dan laut. Melainkan Sumber Daya Alam dan konten budaya didalamnya. Dan area perkotaan juga bisa menjadi sumber belajar-mengajar.
“Sekolah Alam itu sejatinya serupa tapi tak sama dalam konsep pelaksanaannya. tergantung kearifan lokal yang ada di daerah tersebut yang mereka bangun dalam perkembangan sekolahnya,” katanya saat ditemui Bhirawa, Minggu (15/10) kemarin.
Menurut Nurul Hamdi, desain dalam jambore sendiri disesuaikan dengan perkembangan inovasi pendidikan dan tempat diselenggarakan jambore. Dipilihnya Surabaya karena sistem budaya yang kuat. Mulai dari pahlawan yang ada di Surabaya dan juga heritage-nya. Dengan tujuan menciptakan ruang terbuka untuk berbagi informasi di dunia pendidikan.
“Ini merupakan representasi dari keluarga besar Sekolah Alam untuk Negeri. Dengan masing-masing perwakilan sekolah membawa pola untuk mengembangkan proses belajar. Karena Sekolah Alam itu mengedepankan belajar dengan mengalami. Dan ilmu itu adalah refleksi dari pengalaman itu sendiri,” terangnya.
Karakter, lanjut dia, tidak bisa tumbuh dan berkembang tanpa adanya action. Oleh sebab itu, Sekolah Alam yang ada di Indonesia akan melahirkan generasi-generasi muda unggul berkarakter yang menyayangi alamnya dan membangun kewajibannya sebagai khalifah di bumi. [geh]

Tags: