Kejar Swasembada Kedelai 2023

Foto: ilustrasi

Tingginya penggunaan kedelai dalam negeri guna mengimbangi tingkat pemenuhan konsumsi berbahan dasar kedelai menjadikan pemerintah melalui menteri pertanian meski harus putar otak guna mewujudkan swasembada kedelai. Bahkan, demi menggenjot produksi kedelai dalam negeri inipun pemerintah berencana memulai pengembangan kedelai genetically modified organism (GMO) atau rekayasa genetik.

Bahkan, tidak segan-segan Kementerian Pertanian (Kementan) pun mengalokasikan pagu anggaran tahun 2023 sebesar Rp 745,1 miliar untuk pengembangan kedelai di tahun 2023. Kendati demikian, menurut Badan Pangan Nasional (BPN) negeri ini masih butuh impor kedelai. Pasalnya, kebutuhan kedelai bulanannya sekitar 250.000 ton per bulan tapi kemampuan produksi dalam negeri hanya sekitar 200.000 ton per tahun, dan rata-rata kebutuhan kedelai nasional 3 juta ton, itu terdiri atas kebutuhan tahu 1 juta ton dan tempe 2 juta ton, (Republika, 12/9/2022).

Oleh sebab itu, semangat pemerintah untuk menggenjot produksi kedelai hingga mencapai swasembada bukan tanpa tantangan. Merosotnya produksi kedelai lokal setiap tahunnya menjadi problematika tersendiri terhadap kebutuhan pasokan kedelai dalam negeri. Berdasarkan data USDA, Indonesia menghasilkan 580.000 ton kedelai di tahun 2015 dan merosot 18 persen menjadi hanya 475.000 ton pada tahun 2020. Berdasarkan data yang dihimpun CIPS melalui Food Monitor, penurunan ini berbanding terbalik dengan jumlah total konsumsi nasional pada 2020 yang meningkat sebesar 15 persen mencapai 3.283.000 juta ton dari total konsumsi 2015 yang berjumlah 2.854.000 juta ton.

Itu artinya, jalan terjal menuju swasembada kedelai justru menanti dihadapan. Mengingat Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan impor kedelai. Logis, jika komoditas kedelai hingga kini terus mendapatkan perhatian pemerintah. Rendahnya daya saing kualitas kedelai lokal, baik secara harga maupun produktivitas menjadi salah satu permasalahan. Untuk itu, perlu terus diupayakan peningkatan kualitas kedelai lokal agar bisa membantu meningkatkan daya saing kedelai lokal, yang pada akhirnya berpotensi membawa dampak pada penyerapan. Dan, kualitas yang lebih baik akan membuka peluang kedelai lokal mampu bersaing dengan kedelai impor, yang selama ini memang mendominasi kebutuhan nasional.

Gomoyo Mumpuni Ningsih
Dosen FPP Univ. Muhammadiyah Malang

Rate this article!
Tags: