Kekerasan Pendidikan Salah yang Siapa ?

Ahmad RifaiOleh :
Amir Rifa’i
Mahasiswa Pascasarjana FAI UMM dan Pecinta Buku
Siapapun kita tentu tidak setuju dengan kekerasan, namun dewasa ini kita sering dikejutkan dengan berbagai macam kasus mengenai kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Kasus ini seakan seperti fenomena gunung es yang terlihat sedikit di permukaan, namun akan terlihat lebih besar jika kita teliti lebih dalam. Apapun bentuknya tanpa terkecuali yang namanya tindak kekerasan tak pernah diinginkan oleh siapapun, apalagi di lembaga pendidikan yang sepatutnya menyelesaikan masalah secara edukatif. Akan tetapi tidak bisa dihindari, di lembaga yang seharusnya menjadi teladan ternyata masih sering terjadi tindak kekerasan.
Banyak sekali kekerasan yang kita jumpai entah dari media Televisi, Koran atau radio di dalam dunia pendidikan. Mungkin kita masih ingat disalah satu kota ada seorang ibu guru menghukum murid-murid yang tidak mengerjakan PR dengan menusukkan paku yang dipanaskan ke tangan siswa. Di jawa timur, seorang guru oleh raga menghukum lari seorang siswa yang terlambat datang beberapa kali putaran. Tapi karena fisiknya lemah, pelajar tersebut tewas. Dalam periode yang yang tidak berselang lama, ada juga kejadian seorang guru menghukum muridnya dengan lari keliling lapangan dalam kondisi telanjang bulat. Ada juga seorang pembina pramuka bertindak asusila terhadap siswinya saat acara kemah diluar sekolah..
Belum lama ini kekerasan dalam dunia pendidikan sudah terjadi lagi. Seolah tidak pernah berhenti, beberapa bulan silam kita menyaksikan kasus orientasi mahasiswa baru yang terjadi di salah satu perguruan tinggi dimalang yang mengakibatkan salah seorang mahasiswa meninggal dunia, dilanjutkan beberapa rentetan peristiwa kekerasan yang lain. Bahkan yang terbaru kita mengetahui dijakarta kekerasan seksual yang dialami siswi yang masih dibawah umur yang mengakibatkan beberapa siswi trauma untuk masuk sekolah dan lagi-lagi seolah bagaikan hilang pergi silih berganti kekerasan itu tidak pernah surut disebuah perguruan tinggi bidang pelayaran juga terjadi kekerasan yang menyebabkan satu siswa meninggal dunia dan 6 lainya luka-luka karena dianiyaya oleh seniornya.
Selain tersebut di atas, banyak lagi kasus kekerasan pendidikan masih menghiasi wajah pendidikan kita baik secara fisik dan psikis. Masih menjadi pertanyaan besar yang seolah tiada pernah terpecahkan ketika melihat kenyataanya seperti ini. Bisa dibayangkan didalam dunia pendidikan yang sejatinya mengemban amanah sebagai perjuangan perubahan suatu jiwa dan bangsa saja terjadi seperti ini apalagi diluar pasti lebih mengerikan lagi. Lantas yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, siapa yang patut disalahkan dalam hal ini?
Tidak bisa dibantah lagi dan menjadi pengetahuan bagi kita bahwa pendidikan merupakan proses untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh manusia agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Guna mencapai tujuan tersebut, diperlukan kondisi belajar yang kondusif dan jauh dari kekerasan.
Namun sayang kenyataanya kekerasan dalam dunia pendidikan selalu menghiasi pendidikan saat ini. kekerasan yang sering terjadi dalam pendidikan adalah berupa kekerasan fisik, yang banyak dilakukan di jenjang pendidikan perguruan tinggi dan SMA  sementara kekerasan psikis dan seksual banyak terjadi di jenjang pendidikan SD dan SMP. Ada beberapa penyebab yang paling banyak berpengaruh dalam kekerasan adalah banyak dilakukan oleh guru kepada anak didiknya dan laki-laki lebih banyak berperan dalam terjadinya kasus-kasus kekerasan tersebut, baik sebagai korban maupun pelaku.
Kasus perilaku kekerasan dalam pendidikan juga bervariasi, ada yang beranggapan bahwa kasus kekerasan bersifat ringan, langsung selesai di tempat dan tidak menimbulkan kekerasan susulan atau aksi balas dendam oleh si korban. Untuk kekerasan dalam klasifikasi ini perlu dilihat terlebih dahulu, apakah kasusnya selesai secara intern di sekolah dan tidak diekspos oleh media massa ataukah tidak selesai dan diekspos oleh media massa. Ada juga kategori sedang namun tetap diselesaikan oleh pihak sekolah dengan bantuan aparat, dan ada pula kategori berat yang terjadi di luar sekolah dan mengarah pada tindak kriminal serta ditangani oleh aparat kepolisian atau pengadilan.
Hal ini harus segera dicarikan solusinya dan cara untuk meminimalisir tindakan kekerasan dalam dunia pendidikan. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep pendidikan karakter yang selama ini didengungkan oleh para praktisi pendidikan serta humanisasi dalam pendidikan. Yang diantara prakteknya adalah memaksimalkan peran karakter dari seorang guru untuk memberi contoh yang baik kepada siswanya serta menjadikan anak didik sebagai subjek pendidikan, bukan sebagai objek. Selain itu peran  peran orang tua, guru, lingkungan, serta media massa agar lebih berperan aktif dan positif terhadap adanya kasus-kasus kekerasan tersebut.
Pada umumnya kasus perilaku kekerasan dikarenakan kurangnya pengendalian dari berbagai kalangan yang terlibat dalam misi pendidikan. kerja sama lintas sektoral ini diperlukan agar perilaku kekerasan di lingkungan pendidikan tidak terjadi lagi. Karena itu, sangatlah penting untuk segera dilakukan sinergi agar semua pihak tahu bagaimana melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan. Guna meminimalkan tindak kekerasan pada siswa, para praktisi pendidikan atau pengawas sekolah harus lebih jeli dan lebih sering turun ke lapangan. tidak terjadinya tindak kekerasan. Tidak kalah pentingnya masyarakat, termasuk wali murid dan komite sekolah, harus berpartisipasi mengontrol sekolah agar berjalan bagus, bermakna, sejalan dengan prinsip pendidikan, dan terbebas dari kekerasan.
Akhirnya, kita berharap tidak ada lagi tindak kekerasan terhadap anak didik dengan berkedok pendidikan. Kekerasan tidak akan mengantarkan anak didik menggapai tujuan pendidikan. Pendidikan pun tidak akan menciptakan generasi berkarakter jika masih melegalkan kekerasan. Kita juga berharap agar orang tua siswa juga dapat mengawasi anaknya yang berada di sekolah. Sebab, tidak menutup kemungkinan penyebab terjadinya kekerasan dikarenakan anak yang memang dari awal sudah terkenal nakal. Oleh karena itu semua pihak harus bekerja keras membenahi demi terciptanya pendidikan yang bagus serta bebas dari praktik kekerasan.

——– *** ———

Tags: