Kelola Zakat Bermanfaat

Potensi zakat nasional setiap tahun bisa mencapai Rp 327 trilyun. Dana besar zakat terutama dari perhitungan zakat penghasilan, jasa pertanian, peternakan, kelautan, dan sektor lainnya. Belum termasuk zakat fitrah yang biasa dibayarkan pada setiap menjelang Idul Fitri, bagai “habis pakai.” Tetapi lembaga zakat (Badan Amil Zakat Nasional, Baznas) belum mampu mengoptimalkan pemungutan. Rendahnya rasio zakat disebabkan tidak adanya “daya paksa” seperti pajak.

Paradigma zakat hingga kini masih bersifat “sukarela.” Bahkan hingga kini belum terdapat profesi (dan lembaga) konsultan zakat yang diminta menghitung nilai zakat per-orangan (penghasilan). Zakat mal (harta kekayaan) masih dihitung secara self assessment, seperti pajak. Namun nominalnya belum sesuai nishab (takaran). Masih banyak yang disembunyikan oleh muzaki (wajib zakat). Padahal pada zaman Nabi Muhammad SAW, zakat bersifat wajib.

Sehingga menunaikan zakat bukan hanya dengan disetor oleh muzaki. melainkan dipungut oleh petugas. Secara lex specialist telah diterbitkan UU Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan zakat. Pada pasal 23 ayat (2) dinyatakan, “Bukti setoran zakat digunakan sebagai pengurang penghasuilan kena pajak.” Nyata-nyata berkait langsung dengan pajak penghasilan (PPh). Yakni, pengurangan pada penghasilan bruto. Karena penghasilan bekurang (setelah menunaikan zakat), maka penghasilan kena pajak otomatis berkurang.

Berdasar UU 23 Tahun 2011, pemerintah membentuk Baznas, terdiri dari 11 personel (3 dari unsur pemerintah). Juga Baznas propinsi, serta Baznas Kabupaten dan Kota. Peraturan, dan jenis zakat, seluruhnya berdasar syari’ah. Jenis zakat terdiri dari zakat mal (berupa emas, perak, uang, surat berharga, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, tambang, dan penghasilan). dan zakat fitrah. Sedangkan zakat fitrah berupa beras yang diserahkan oleh setiap orang (termasuk anak bayi), dan orangtua yang sudah renta.

Selain kewenangan pengumpulan zakat, Baznas juga diberi kewenangan pendistribusian, dan pendayagunaan. Baznas juga bisa membentuk UPZ (Unit Pengumpul Zakat) di tingkat kecamatan, kampung, pada BUMN, perusahaan swasta, Kelompok masyarakat (Ormas) yang juga diberi kewenangan membentuk LAZ (Lembaga Amil Zakat) di bawah pembinaan Baznas. Namun pembentukan LAZ hanya terbatas pada ormas berbadan hukum bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.

Telah banyak LAZ di tengah masyarakat. Menjadi pemungut terbesar. Walau sebenarnya belum kepercayaan masyarakat secara optimal. Hanya sekitar 5% dari total potensi zakat yang bisa dipungut. Begitu pula Baznas hanya mampu memungut 5,2% zakat. Terutama dari zakat PNS (Pegawai Negeri Sipil), kalangan pegawai BUMN. Meliputi zakat penghasilan, dan zakat harta kekayaan (zakat maal). Namun kemanfaatannya telah terasa.

Pada tahun 2022, perolehan Baznas ditargetkan bisa memungut sekitar Rp 26,2 trilyun. Rinciannya, hasil LAZ sebesar Rp 16,17 trilyun, Baznas Kabupaten dan Kota sebesar Rp 6,94 trilyun, Baznas propinsi menghasilkan Rp 2,12 trilyun, dan Baznas pusat Rp 760 milyar. Berdasar data Baznas, terdapat sebanyak 57,650 juta jiwa mustahik (penerima manfaat zakat).

Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik), sebanyak 28% mustahik gakin, sudah terentas dari status miskin. Sehingga program pengentasan kemiskinan bagai memperoleh jurus baru melalui zakat. Bisa membantu pemerintah dalam pengentasan gakin, lebih cepat sampai 3,5 tahun. Sebanyak 36% gakin mustahik, kini telah berpotensi menjadi pembayar zakat. Sehingga jumlah pembayar zakat akan bertambah pada setiap tahun.

Nilai zakat secara nasional ditaksir sebesar 1,57% total nilai PDB (Produk Domestik Bruto). Tumbuh sekitar 8% per-tahun. Diharapkan, dengan zakat semua keluarga (muslim) patut bergembira, dengan kecukupan makanan, dan berpakaian yang paling baik (baru).

——— 000 ———

Rate this article!
Kelola Zakat Bermanfaat,5 / 5 ( 1votes )
Tags: