Kemandekan Regenerasi Kepemimpinan Nasional

Oleh :
Wahyu Kuncoro SN
Wartawan Harian Bhirawa

Suksesi kepemimpinan nasional memang masih 3 tahun lagi yakni saat berlangsung pemilihan presiden (pilpres) tahun 2024 mendatang. Selain menjadi momentum untuk memilih pemimpin nasional, juga akan mempertontonkan bagaimana sebuah bangsa melakukan regenerasi kepemimpinan nasional. Harapannya,ajang Pilpres selain mampu menghadirkan presiden baru yang terpilih secara demokratis juga diharapkan memberikan kabar baik tentang bagaimana regenerasi kepemimpinan bangsa berjalan lancar.

Namun nampaknya, harapan akan tersaji episode manis tentang regenerasi kepemimpinan nasional dalam Pilpres mendatang masih jauh panggang dari api. Sampai hari ini publik masih belum mendapatkan konfirmasi yang memadai akan terjadinya regenerasi kepemimpinan nasional. Tokoh yang diperkirakan akan muncul pada tahun 2024 nampaknya masih tergantung pada tokoh yang itu itu saja. Boleh saja, tokoh tokoh muda bermunculan tetapi kalau pemegang tiket menuju gelanggang kontestasi Pilpres masih dipegang politisi veteran, maka nampaknya sulit diharapkan akan membuka pintu akan hadirnya pemimpin yang fresh dan baru. Partai politikmasih dikuasai oleh generasi-generasi veteran yang masih haus kekuasaaan. Imbasnya, tokoh-tokoh yang dimunculkan masih saja tokoh yang itu itu saja.

Simak saja berbagai pemberitaan yang muncul di media massa, atau pun perdebatan yang membuat bising media sosial lebih menunjukkan kecilnya harapan akan hadir sosok sosok baru yang mengindikasikan terjadinya regenerasi kepemimpinan nasional. Negara sebesar Indonesia sepertinya kesulitan untuk menemukan sosok pemimpin baru yang bisa diharapkan akan menghela perjalanan bangsa ini menjadi lebih baik lagi.

Bangsa ini seolah hanya punya dua tokoh yang boleh memimpin bangsa ini, Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Sepertinya tidak boleh ada figur lain yang muncul di luar kedua tokok tersebut. Memang secara konstitusi, Jokowi sudah tidak memungkinkan untuk maju lagi dalam kontestasi 2024 mendatang. Namun yang kini ramai muncul wacana tentang amandemen konstitusi agar Jokowi bisa menjabat lagi. Bangsa yang menggelikan.

Di luar Jokowi, nama Prabowo Subianto masih yang tertinggi dalam berbagai survei. Yah, ketika publik tengah bergairah membahas tentang generasi milenial dan seolah sedang memberi ruang bagi generasi ini untuk berkembang, namun ironisnya dalam kepemimpinan nasional justru alpa dari perbincangan tentang perlunya karpet merah bagi regenerasi kepemimpinan nasional.

Regenerasi kepemimpinan nasional harusnya tidak hanya meriah di forum-forum diskusi dan panggung — pangung seminar saja. Pemikiran ini harus mewujud dalam bentuk upaya konkret berupa proses seleksi dan rekrutmen kepemimpinan nasional yang mempertimbangan aspek regenerasi. Namun sayangnya, kondisi itu tidak terjadi. Pemimpin nasional yang direpresentasikan presiden berikut jajaran kabinetnya dipenuhi oleh generasi yang harusnya sudah turun panggung. Kontestasi kepemimpinan nasional pun hanya menampilkan figur figur tua, dan tidak menyediakan ruang bagi kader muda untuk tampil.

Kondisi lebih menyedihkan lagi justru terjadi di partai politik. Partai politik tidak bisa menjadi barometer bagi gairah untuk mewujudkan regenerasi kepemimpinan nasional. Partai politik sebagai lembaga pengemblengan calon pemimpin bangsa harus menjadi miniatur bagaimana regenerasi kepemimpinan itu terjadi. Namun sayangnya, lagi lagi tidak banyak partai politik yang memberikan ruang bagi anak muda untuk menjadi pemimpin.

Hari ini, kepemimpinan di partai politik mayoritas masih di bawah kendali para politisi senior. Sungguh sangat sedikit partai politik yang berani menampilkan politisi muda pada posisi yang strategis dan menentukan. Kondisi yang sama juga masih terjadi di lembaga legislatif. Artinya, sumber daya politik yang ada saat ini masih dikuasi oleh barisan politisi veteran.

Lantaran itu, penyiapan sumber daya politik menjadi salah satu kebutuhan yang harus menjadi perhatian. Dalam teori politik, kaidah rekrutmen politik calon yang bertarung dalam kontestasi politik sesungguhnya bukan an sich memperhitungkan menang-kalah secara elektoral. Namun juga perlu menyertakan pertimbangan keberlanjutan regenerasi kepemimpinan.

Proses regenerasi kepemimpinan nasional sulit diharapkan jika institusi-institusi demokrasi yang penting seperti parpol mengalami pembusukan politik (political decay). Pembusukan politik seperti pernah disebut Huntington dalam proses pembangunan negara bangsa, bisa menjadi faktor penghambat regenerasi politik.

Sejarah sesungguhnya juga sudah memberikan pelajaran kepada kita ketika rezim yang berkuasa terlalu lama seperti masa Orde Baru sesungguhnya akan menghambat terjadinya regenerasi politik.

Muda adalah Kekuatan

Hari ini kita tengah dihadapkan pada tantangan dan harapan baru, jaman baru dan generasi baru. Dalam upaya mengatasi permasalahan bangsa ini sejatinya dibutuhkan pemimpin dengan energi yang kuat, tanpa dibebani sejarah masa lalu. Bangsa ini membutuhkan pemimpin alternatif dan ini hanya bisa dilakukan oleh kaum muda.

Secara filosofis dan sosiologis generasi politik perlu dipersiapkan agar sebuah bangsa tidak menghadapi krisis kepemimpinan politik. Perlu terobosan dan keberanian untuk mengesampingkan kepentingan sesaat, ambisi kelompok yang terlalu besar sehingga mengesampingkan kepentingan bangsa. Semua itu membutuhkan kesadaran bersama agar bangsa ini tidak mengalami stagnasi.

Fenomena berulangnya beberapa nama tokoh sebagai calon presiden yang maju berkali-kali dengan polesan politik pencitraan telah menjebak politik lima tahunan kita. Di sinilah jiwa kenegarawanan para politisi diuji. Sosok negarawan akan tahu kapan harus maju dan pada saat apa dirinya harus mundur dalam dunia politik. Tujuannya bukan melanggengkan kekuasaan, melainkan memberi kesempatan munculnya sosok baru agar politik-demokrasi memberi harapan masa depan bangsa yang lebih baik.

Sejarah Sumpah Pemuda 1928 telah memberikan contoh konkret bagaimana pemuda Indonesia bisa menjadi pelopor dalam mempersatukan Nusantara dalam sebuah nation bernama Indonesia. Karena itu, tidak berlebihan jika kita katakan dalam diri pemuda Indonesia terdapat gen pemersatu dan pejuang republik.

Dunia berkembang begitu cepat yang membutuhkan peran-peran akseleratif generasi muda untuk bisa mengendalikan perubahan itu dan mengarahkannya pada kemajuan bersama. Lambat generasi muda bangsa meresponsnya, bangsa ini akan ketinggalan atau bahkan dilibas oleh laju perubahan yang cepat.

Di antara karakteristik pemimpin yang paling penting adalah kemauan dan kemampuan untuk bergerak dan menggerakkan orang untuk maju dan menjadi problem solver bagi permasalahan dan tantangan yang dihadapi bangsanya. Inilah tantangan pemuda hari ini yang sekaligus menjadi risalah kehadirannya dari masa ke masa yakni pemuda yang selalu tampil menjadi pemimpin perubahan.

Kegagalan Tokoh Muda

Kita sebenarnya pernah memiliki tokoh tokoh muda pemimpin partai politik besar. Sebut saja Anas Urbaningrum (AU) yang pernah memimpin Partai Demokrat yang digadang-gadang akan menjadi pemimpin masa depan Indonesia. Masih muda, santun cerdas dan mempunyai jaringan dan pengaruh yang kuat. Namun sayang, kejamnya dunia politik membuat AU harus tersungkur karena kasus korupsi. Nasib yang sama juga dialami Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy,yang lagi-lagi karier politiknya tersandung kasus korupsi. Sebelumnya, juga ada tokoh Andi Malarangeng yang sempat moncer di dunia politik. Sayangnya, karirnya terbunuh oleh kasus korupsi yang membekapnya. Setelah itu, dunia politik kembali dikuasai pemain-pemain lama, dengan baju parpol yang berganti-ganti. Nampaknya, atmosfera politik tidak memberi ruang bagi anak muda untuk tampil menjadi pemain utama dalam panggung politik. Ironisnya lagi, anak – anak mudanya juga tidak berani melakukan gerakan untuk mendobrak kemandekan regenerasi politik baik di panggung politik maupun di tubuh partai politik. Padahal, sekali lagi, bangsa ini mencatat kalau anak muda banyak berperan dan terbukti sanggup membawa perubahan bangsanya. Kesadaran sejarah ini menjadi penting agar pemuda hari ini tampil percaya diri untuk tampil dalam ajang kontestasi kepemimpinan nasional.

Wallahu’alam Bhis-shawwab

——– *** ———

Tags: