Kembang Kempis Pedagang Masker di Situbondo

Samsuri saat menjajakan usaha dagang aneka jenis masker di pangkalan miliknya di Jalan Akhmad Jakfar Kabupaten Situbondo. [sawawi]

Pandemi Tak Mengerek Hasil Penjualan, justru Mengalami Penurunan Drastis
Kabupaten Situbondo, Bhirawa
Hingga saat ini hantaman pandemi Covid-19 merontokkan semua sektor kehidupan. Yang paling terasa dialami kalangan UMKM, termasuk di Kabupaten Situbondo. Salah satunya dialami Samsuri, warga asal Lingkungan Paraaman, Kelurahan Dawuhan Kecamatan Kota Situbondo. Kini pria yang sudah puluhan tahun menekuni profesi sebagai pedagang aneka jenis masker itu sangat terpukul dengan adanya pandemi Covid-19.
Setiap pagi, Samsuri dipastikan selalu berada di pangkalan usaha dagangnya, di kawasan Jalan Akhmad Jakfar Kabupaten Situbondo. Lokasi dagang usaha yang ditekuni Samsuri cukup strategis karena berdekatan dengan jejeran perkantoran pemerintahan.
Mulai Kantor Rutan Kelas II-B Situbondo, Kantor Pos dan Rumah Dinas Bupati Situbondo, berhadap hadapanan dengan tempat berjualan Samsuri. “Saya baru setahun berjualan disini. Sebelumnya saya jualan di Jalan Akhmad Yani,” ujar Samsuri disela sela menjaga usaha dagangnya.
Kata Samsuri, ia sudah cukup lama menekuni usaha dagang aneka masker. Seingat Samsuri, ia mulai membuka lapak berjualan masker sejak era kepemimpinan Presiden Soeharto, puluhan tahun silam. Hanya saja, saat itu jenis masker tidak sebanyak era saat ini yang penuh dengan corak dan desain yang unik. “Dahulu itu desainnya polos dan tidak banyak pernak pernik seperti saat ini,” kupasnya.
Untuk jenis masker yang ia jajakan saat ini cukup banyak motif coraknya. Mulai dari masker dengan logo TNI dan Polri serta jenis bunga dan motif hewan juga ia pajang di lapaknya. Menurut Samsuri, usaha dagang masker yang paling laris yakni masker corak sedang dengan harga Rp10 ribu. “Sedangkan masker yang berharga Rp5 ribu kurang banyak diminati karena bahannya kurang bagus,” terang Samsuri.
Khusus masker jenis timbul desain TNI/Polri, di mata Samsuri juga cukup lumayan diburu masyarakat. Selain desainnya tergolong unik juga memiliki bahan yang sangat bagus. Biasanya pembeli jenis masker ini berasal dari kalangan usia paroh baya. Selain lebih keren, rata-rata pembeli masker logo TNI Polri enak dipakai. “Ya memang bahannya lebih bagus. Kainnya juga halus kalau dipakai. Harganya cukup mahal Rp35 ribuan,” ungkapnya.
Sebelum ada pandemi Covid-19, hasil usaha dagang masker yang di jalani Samsuri cukup lumayan. Bahkan sehari bisa mengumpulkan hasil dagangan sebesar Rp200 ribu. Sebaliknya, mulai ada pandemi Covid-19, hasil yang diperoleh jumlahnya turun drastis. Bahkan beberapa kali, tidak ada satupun yang mau membeli usaha dagang masker. “Ya terpaksa tidak ada keuntungan. Ya bagaimana lagi, kami harus terus berupaya berjualan lagi keesokan harinya,” tutur Samsuri.
Hingga saat ini, Samsuri tidak tahu harus kemana agar bisa kembali mendapatkan hasil yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Apalagi, stan jualan yang dikelola anak-anaknya sudah mulai gulung tikar karena terkendala keterbatasan modal. Mau tidak mau, kini hanya dia seorang diri sebagai tulang punggung keluarga.
“Saya harus mengeluh kepada siapa kalau kondisinya seperti ini terus. Bayangkan saja, untuk menjual masker kini cukup sulit lakunya. Apalagi banyak elemen yang ikut membagi-bagikan masker secara gratis kepada warga membuat usahanya semakin kelimpungan,” ungkap Samsuri.
Namun Samsuri tetap berharap, dalam waktu dekat ada bantuan dari pemerintah setempat untuk ikut mengangkat usahanya menjual aneka jenis masker. Samsuri masih optimis usaha dagang yang sudah lama ia geluti masih memiliki peluang yang cukup cerah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. “Ya kami terus optimis berjualan, semoga terus mendapatkan rejeki,” pungkasnya.
Edi, kolega Samsuri yang membuka usaha makanan dan minuman mengakui sosok Samsuri cukup rajin menjajakan usaha dagang aneka masker. Samsuri, dalam pandangan Edi, selain rajin juga tekun setiap pagi membuka lapaknya yang persis berada di sebelah timur alun-alun Kota Situbondo. Selain rajin, pria yang sudah memiliki empat anak itu juga dikenal sabar dalam melayani setiap pembeli. “Dia orangnya sangat sabar serta memiliki sikap yang baik hati,” ujarnya.
Namun Edi kadang kala ikut merasa iba karena seringkali usaha dagang yang ditekuni Samsuri belakangan sulit untuk laku. Agar tetap optimis, Edi sering mengajak Samsuri untuk duduk di lapaknya untuk sekadar minum kopi. Ini dilakukan Edi, selain untuk memberikan hiburan juga untuk mengajak ngobrol saat seorang diri menjajakan usaha dagang aneka masker. “Sering kalau sudah sepi, dia saya ajak ngopi bareng,” katanya. [sawawi]

Tags: