Kembangkan Teknologi Induksi Ovulasi

Aftabuddin (tengah) mengenakan jas berfoto bersama tim penguji setelah menyelesaikan ujian disertasinya di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya.

Ujian Desertasi Kepala UPT Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak
Pemprov, Bhirawa
Lama menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya, Aftabuddin yang menjabat saat ini menjabat Kepala UPT Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (UPT dan HMT) Dinas Peternakan Jatim di Singosari Malang, akhirnya selesai mengikuti ujian disertasi.
Menurut pria kelahiran Medan ini, alasan mengangkat pengembangan kambing dalam disertasinya, karena dirinya bekerja di UPT ini. ”UPT ini memang biasanya spesifikasinya kambing. Yang terpikir pertama, mengembangkan kambing secara totalitas di Jatim maupun nasional. Titik awalnya dari situ,” akunya yang kelahiran 29 April 1968.
Disertasi itu, lanjutnya, membantu masyarakat untuk bisa beternak kambing yang berkualitas namun dari sisi harga tak terlalu mahal. Tentunya terkait hal itu, ada turut campur dari pemerintah untuk membantu teknologinya masuk dalam masyarakat. Teknologi yang didisertasikan adalah induksi ovulasi.
Adanya induksi ovulasi, lanjutnya, tingkat kebutuhan semakin tinggi dengan jarak kelahiran semakin pendek, biaya bisa ditekan daripada memelihara pejantan maupun IB (Inseminasi Buatan) berulang karena ada beberapa kelemahan didalam deteksi birahi oleh peternak.
“Sederhana saja sebenarnya, tapi tujuannya itu menjawab apa yang diinginkan peternak agar mereka bisa mengembangkan kambing tanpa harus dengan biaya yang mahal,” katanya suami dari Nelly A Ende.
Teknologi ini juga tidak hanya diterapkan pada kambing, namun domba juga bisa. Hal ini mengingat domba juga menjadi produk ekspor Jatim saat ini. Menilik hal itu, sejatinya pemenuhan populasi domba harus lebih banyak. Biasanya ekspor tidak hanya sekali dua kali, namun biasanya permintaan selalu ada dan hal itu harus dipenuhi.
“Disinilah, teknologi induksi ovulasi ini bisa menjawab tantangan itu untuk mempercepat pertumbuhan populasi itu. Jangan sampai ketika ekspor, sudah kehabisan populasi. Adanya teknologi ini, maka dalam waktu dekat bisa mendeteksi kebuntingan atau tidaknya,” katanya menempuh pendidikan agak lama, karena sambil bekerja sebagai ASN.
Aftabuddin berharap, dengan disertasi ini maka ada nilai aplikatif ke lapangan karena tujuan awal mencarikan solusi dalam pengembangan kambing lebih baik lagi di Jatim dan Indonesia. ”Kami nantinya melakukan pilot project pengembangan kambing dengan induksi ovulasi di UPT ini dan diujicoba secara terus menerus sampai bisa diaplikasikan ke masyarakat,” katanya.
Ia juga menambahkan, nilai ekonomisnya sudah terlihat dari waktu lebih pendek daripada sebelumnya, tidak harus pelihara pejantan, kawinnya tidak perlu berulang karena ada induksi ovulasi dan bisa dideteksi langsung bunting . “Setelah itu mengaplikasikan pada masyarakat dengan mensosialisasikan dan regulasinya, hingga melatih tenaga teknisnya,” katanya.
Tim penguji Disertasi terdiri dari Prof Dr Pudji Srianto drh MKes (Promotor) (Dekan FKH Unair), Prof Dr Chairul Anwar Nidom drh MS (Ko-Promotor) (FKH Unair), Prof Dr Ismudiono drh, M.Si (FKH Unair), Prof. Dr. Widjiati, drh, M.Si (FKH Unair), Prof. Dr. Ir. Samadi, M.Sc (Dekan Takultas Pertanian Unsyiah NAD), Prof. Mas’ud Hariadi, drh, M.phil, P.hd (FKH Unair).
Selanjutnya, Prof Dr Herry Agus Mariadi drh MSi (FKH Unair), Prof Dr Rr Sri Pantja Madyawati drh MSi (Pimpinan Sidang) (FKH Unair), Dr Kadek Rachmawati drh MSi (FKH Unair), dan Dr Iswahyudi drh MP (Kepala UPT IB Disnak Jatim).
Usai menempuh disertasi ini, bapak dua anak ini mengaku kebanggaan sekaligus bisa mengajari anak – anaknya agar tetap bersemangat dalam menempuh pendidikan. ”Meski sudah menginjak usia tua, namun tetap berupaya menyelesaikan pendidikan dan memberikan semangat pada keluarga,” katanya. [rac]

Rate this article!
Tags: