Kembangkan Wisata, Budaya dan Ekonomi di Desa Plunturan, Ponorogo

Kegiatan Workshop yang dilakukan Dosen Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya untuk mengembangkan potensi wisata, budaya dan ekonomi di Desa Plunturan, Ponorogo.

Pengabdian Dosen Untag Surabaya
Surabaya, Bhirawa
Kabupaten Ponorogo, Jatim memiliki kawasan wisata dan budaya yang bisa dikembangkan. Salah satunya destiniasi wisata andalannya adalah Telaga Ngebel dan Kesenian Reog Ponorogo. Sebenarnya masih ada potensi wisata maupun budaya yang bisa dikembangkan di kabupaten yang memiliki luas 1.371,78 kmĀ², terutama di daerah pedesaan yang tentunya memiliki produk unggulan.
Untuk menggali potensi itulah, dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya melakukan kegiatan pengabdian masyarakat hibah Perguruan Tinggi (PT) Untag 45 tahun 2020 ke Desa Plunturan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo untuk mengembangkan desa wisata budaya berbasis potensi lokal.
Desa Plunturan ini memiliki banyak potensi lokal yang layak untuk dikembangkan dan diperkenalkan kepada warga masyarakat di luar Kabupaten Ponorogo, khususnya di bidang kesenian seperti Reog, Gajah – gajahan, Jathilan, Ganongan, Tledekan, Karawitan, Coke’an, dan masih banyak lagi.
Ada dua kegiatan wisata budaya di desa ini, yakni setiap tanggal 25 setiap bulannya dan tanggal 11 Januari digelar pagelaran Seni Tari Reog. ”Kegiatan ini bisa menjadi agenda wisata budaya sekaligus promosi bagi Desa Plunturan,” kata Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Untag 45 Surabaya, Anggraeny Puspaningtyas SAP MAP saat dihubungi melalui telepon genggamnya, Kamis (3/12).
Untuk mengembangkan potensi di Desa Plunturan Anggraeny Puspaningtyas bekerja sama dengan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Dr Tri Pramesti MS bersama dua mahasiswa Untag 45 Ingesti Lady Rara Prastiwi dan Mita Octaviani untuk terjun dalam pengabdian ini.
Lebih lanjut, Anggraeny menjelaskan, setidaknya diperlukan tujuh program untuk mengembangkan wisata dan budaya di Desa Plunturan, yakni penciptaan brand atau merk pada kerajinan, makanan, oleh-oleh khas Desa Plunturan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan BUMDes untuk menggerakkan kembali UMKM yang sempat tak terkelola dengan baik, pengembangan produk unggulan lokal seperti singkong, jagung, dan ubi jalar. Penyusunan calendar of event, pelaksanaan pelatihan guide tour dan bahasa asing, pembuatan paket wisata budaya, kuliner, dan perancangan aktivitas bersama masyarakat.
“Kemudian pelaksanaan publikasi atau promosi melalui media sosial maupun secara langsung,” katanya. [wwn]

Tags: