Kementerian PPPA Pantau Kasus Pedofil di Tulungagung

Winarno

Tulungagung, Bhirawa
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI melakukan pemantauan kasus pedofil yang terjadi di Tulungagung. Mereka meminta laporan hal itu ke Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Pelindungan Anak dan Keluarga Berencana (PPPAKB) Kabupaten Tulungagung.
Soal sudah terungkap adanya temuan Lelaki Suka Lelaki (LSL) di Kabupaten Tulungagung mencapai 498 orang dan 60% merupakan pelajar, Winarno justru mengingatkan semua anak di Tulungagung berpotensi menjadi korban pedofilia.
Kasi Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas Sosial PPPA dan KB Kabupaten Tulungagung, Winarno, Rabu (29/1), mengakui jika Kementerian PPPA sudah meminta laporan pada Dinas Sosial PPPA dan KB Kabupaten Tulungagung terkait kasus pedofil.
“Kementerian PPPA sudah kami laporkan apa yang sudah, sedang dan akan kami lakukan dalam hal menyikapi beberapa kasus terakhir. Nantinya laporan ini menjadi bahan kajian yang akan dilakukan oleh Kementerian PPPA,” ujarnya.
Menurut Winarno, dari lima kasus pedofil terakhir, Dinas Sosial PPPA dan KB Kabupaten Tulungagung melakukan tiga tindakan untuk korban. Yakni intervensi penegakan hukum, penanganan psikososial dan pelayanan kesehatan.
“Untuk intervensi penegakan hukum kami memberi bantuan hukum dengan melibatkan dua lembaga bantuan hukum yang ada di Surabaya dan Tulungagung,” terangnya.
Sedang untuk pencegahan agar kasus pedofil tidak terulang dan tidak semakin berkembang di Tulungagung, Winarno menyebut Dinas Sosial PPPA dan KB Kabupaten Tulungagung terus menggiatkan sosialialisasi. Utamanya di sekolah menengah, baik itu di tingkat SMP dan SMA.
“Respon dari Dispendikpora Kabupaten Tulungagung dan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi di Tulungagung sangat baik. Mereka sangat mendukung langkah kami. Termasuk terkait penanganan korban,” paparnya.
Selain itu, Dinas Sosial PPPA dan KB Kabupaten Tulungagung juga menggandeng tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk menyosialisasikan betapa pentingnya perlindungan anak.
“Harapannya masyarakat ikut mengawasi. Terutama orang tua. Diawasi juga pergaulan anak meski sesama jenis. Bisa jadi itu fenomena gunung es. Hal ini juga bisa terjadi kalau semua komponen masyarakat dan orang tua tidak mau melindungi mereka (anak-anak),” paparnya lagi.
Diberitakan sebelumnya, bermunculannya kasus pedofil atau kekerasan seksual yang menyasar pada anak – anak di bawah umur di Kabupaten Tulungagung, belakangan ini membuat Komisi C DPRD Tulungagung prihatin. Mereka meminta Pemkab Tulungagung, utamanya Dinas Sosial, PPPA dan KB untuk lebih perhatian terhadap kasus ini.
Ketua Komisi C DPRD Tulungagung, Asrori menyatakan, sudah menjadi tugas Dinas Sosial, PPPA dan KB Kabupaten Tulungagung untuk mencari solusi agar kasus pedofil tidak terjadi lagi di Tulungagung. ”Dinas harus mencari solusi dalam kasus ini. Jangan sampai terus berkembang,” ujarnya. [wed]

Tags: