Kendali Cabai dan Migor

Pucuk pimpinan di Kementerian Perdagangan RI telah diganti. Tetapi harga minyak goreng (migor) tidak serta merta turun. Hingga kini harga migor curah masih di atas HET (Harga Eceran Tertinggi, Rp 14 ribu per-liter). Harga migor yang masih tinggi seolah-olah berpacu dengan harga cabai. Sama-sama masih “membandel,” sekaligus menjadi motor penggerak inflasi. Indeks Harga Konsumen (IHK) juga melejit menjadi 110,42. Menandakan harga yang diterima konsumen naik 10,42%.
Terbukti, kenaikan harga bahan pangan tidak dapat dibebankan pada satu Kementerian. Melainkan keterpaduan sistemik pengendalian harga. Termasuk antisipasi cuaca ekstrem. Tanaman cabai, sangat rentan terhadap penyimpangan iklim. Cabai, dan berbagai tanaman hortikultura lainnya sangat rentan terhadap guyuran hujan. Kembang dan cabe ranum bisa membusuk. Bahkan akar pohon cabe juga membusuk, diikuti daun layu. Suasana yang sama juga menerpa aneka tanaman sayur.
Ironisnya, kelapa sawit memiliki kebutuhan berbalikan dengan cabai. Berdasar pengalaman per-sawit-an, jika curah hujan meningkat maka produksi kelapa sawit juga meningkat. Sehingga cuaca ekstrem sepanjang tahun 2022 (sejak bulan April), sangat menguntungkan pengusaha kebun sawit. Lebih lagi didukung harga CPO (Crude Palm Oil) yang melambung sampai US$ 1.700,- (setara Rp 25 juta lebih per-ton). Niscaya banyak pengusaha CPO mabuk keuntungan. Menguras hamper seluruh CPO untuk ekspor.
Kalangan pengusaha kebun sawit, CPO, dan pabrik migor, sudah “keok” terpukul kebijakan moratorium bahan minyak goreng (sawit dan CPO). Walau moratorium hanya tiga pekan. Ketersediaan sawit melimpah, dan murah. Tetapi tidak merugikan petani sampai mendalam. Karena sebelumnya petani juga menerima “berkah” harga sawit global yang super mahal. Saat ini harga TBS (Tandan Buah Segar) sawit rata-rata sebesar Rp 4 juta per-ton di kebun.
Pemerintah telah membuka kembali “keran” ekspor CPO (Crude Palm Oil, minyak sawit), karena stok bahan migor sudah melimpah. Tetapi seluruh kebijakan pemerintah belum bisa serta-merta mewujudkan harga migor murah terjangkau. Juga belum sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi) yang ditetapkan pemerintah. Pemerintah masih perlu secara ketat menjamin pasokan bahan migor dalam negeri. Pemerintah juga mencabut subsidi minyak goreng (migor) yang semula diberikan kepada industri migor.
Menteri Perdagangan yang baru, masih yakin migor bisa dikendalikan. Antara lain dengan lebih ketat menjalankan kebijakan DMO (Domestic Market Obligation). Yakni, setiap pengusaha CPO wajib memasok 20% kuota ekspor untuk kebutuhan dalam negeri. Bukan hal yang sulit, karena sebenarnya kebutuhan minyak goreng dalam negeri hanya 194 ribu ton sebulan. Dalam setahun hanya 2,328 juta ton. Sangat kecil dibanding kapasitas produksi nasional CPO yang mencapai 45 juta ton. Tak lebih dari 6%.
Komponen pangan bergejolak (volatile food) bukan hanya minyak goreng. Tetapi juga meliputi sembilan bahan pokok (Sembako) yang lain. Kelangkaan menjadi penyebab kenaikan harga. Sebagian komoditas yang langka, biasa dipasok dengan impor. Antara lain susu, bawang, dan cabai, sering mengguncang perekonomian. Pemerintah patut meng-antisipasi menyusutnya ketersediaan susu karena wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku).
Sudah ribuan sapi perah terjangkit wabah. Kantung kelenjar susu membesar, tetapi puting susunya terluka. Menyebabkan sapi frustasi, dan mati. Susu yang diperas juga tidak laku dijual, karena mengandung desinfektan. Peternak sapi perah merugi, usaha UMKM susu menyurut.
Pemerintah memikul tanggungjawab pasokan pangan berdasar UU Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan. Juga mandatory UU Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan. Ketersediaan pasokan, dan ke-terjangakau-an harga, wajib diwujudkan. [*]

Rate this article!
Kendali Cabai dan Migor,5 / 5 ( 1votes )
Tags: