Kepala OPD dan Staf Pemkot Probolinggo Banyak Terpapar Covid 19

Pejabat dan Kepala OPD cek kesehatan di Pospindu cantik. [wiwit agus pribadi/bhirawa]

Kota Probolinggo, Bhirawa
Penerapan Work From Home (WFH) di lingkungan Pemkot Probolinggo, khusus kepala organisasi perangkat daerah (OPD) tidak diperpanjang. Namun selain kepala OPD, masih bisa melanjutkan untuk bekerja di rumah.

“Tidak diperpanjang untuk WFH,” ujar Sekda Kota Probolinggo Ninik Ira Wibawati, Selasa (19/1). Penjelasan lebih lengkap disampaikan Kepala Diskominfo Kota Probolinggo Aman Suryaman. Menurutnya, WFH bagi kepala OPD tidak diperpanjang. Namun bagi staf tetap bisa melakukan WFH dan WFO.

“Dengan pengaturan mekanisme yang sama seperti SE (surat edaran) wali kota seperti sebelumnya,” ujarnya. Berdasarkan SE Wali Kota Probolinggo Nomor 065/5842/425.022/2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja ASN dan Non-ASN dalam Pencegahan Penyebaran Covid-19, menyebutkan pelaksanaan WFH dilakukan sejak 4-15 Januari. Kemudian, dilakukan evaluasi. Hasilnya, WFH untuk kepala OPD tidak diperpanjang.

Namun, terkait alasan tidak diperpanjangnya WFH kepala OPD, baik Ninik maupun Aman, enggan memberikan penjelasan. Namun, dengan masuknya kepala OPD, bukan berarti mereka akan sendirian di kantor. Sebab, staf masuk bergantian melakukan WFH.

Aman mengatakan, penerapan WFH dan WFO bagi staf tidak berbeda jauh. Mereka akan bergantian 50 persen ke kantor dan 50 persen bekerja di rumah. “Hanya nomor surat edaran saja yang berbeda. Untuk mekanisme lainnya, sama,” ujarnya.

Sejak 4 Januari 2021, Pemkot Probolinggo menerapkan WHF bagi kepala OPD maupun staf. Staf di setiap OPD diatur masuk ke kantor hanya 50 persen dari total pegawai. Pengaturan jam kerja ini dilakukan pascabanyaknya pegawai di lingkungan Pemkot yang terpapar Covid-19. Bahkan, sejumlah kepala OPD juga dinyatakan positif dan beberapa di antaranya meninggal dunia.

Kepala OPD yang terpapar Covid dan meninggal itu di antaranya Kepala Dispertahankan Sudiman dan Kepala Dishub Sumadi. Termasuk, Wakil Wali Kota Probolinggo Mochammad Soufis Subri. Ada juga yang terpapar korona dan sudah sembuh. Di antaranya, Kabag Perekonomian Wawan Soegyantono dan Plt Direktur RSUD dr. Mohamad Saleh Abraar HS Kuddah.

Selain itu Kepala Diskominfo, Statistik dan Persandian Kabupaten Probolinggo Yulius Christian Selasa (19/1) mengaku bersyukur terpapar Covid-19. Alasannya, dirinya mengalami langsung bagaimana rasanya terpapar Covid-19 dan karenanya berupaya menjaga imunitas tubuh.

Mentalnya juga dilatih saat menerima kenyataan terkonfirmasi corona. “Saya bersyukur, bisa merasakan terinfeksi corona sebagai pengalaman. Bahwa corona itu ada dan bersyukur saya bisa sembuh,” ujarnya.

Yulius yakin tertular dari anak buahnya di kantor. Berdasarkan rentetan pemeriksaan rapid dan swab, dia yakin tertular dari anak buahnya yang sakit. Meski begitu, dia tidak menyalahkan anak buahnya karena yang bersangkutan juga tidak tahu jika terpapar. Anak buahnya itu sakit tapi tetap bekerja.

Setelah Yulius terkonfirmasi positif pada awal Januari 2021 lalu, langsung dilakukan tracing. Hasilnya, istri dan dua anaknya juga positif. Lalu, empat anak buahnya di Diskominfo juga positif. Diskominfo lalu di-lockdown, sementara Yulius bersama keluarganya isolasi mandiri di rumah.

Mantan Camat Sukapura ini berani memilih isolasi mandiri di rumah karena anaknya yang pertama seorang dokter. Jika tak ada orang medis di rumah, Yulius memilih dikarantina di lokasi yang ditentukan Satgas penanganan Covid-19. “Saya isolasi di rumah untuk menjaga orang lain tidak tertular. Rumah saya di-lockdown.

Tapi, isolasi di rumah lebih berat secara ekonomi, karena beli makan, obat dan vitamin sendiri. Karenanya, warga yang positif sebaiknya dikarantina di tempat Satgas,” tutur Yulius.

Gejala yang dirasakan Yulius selama sakit Covid-19 seperti masuk angin tiap hari dan linu-linu di sekujur tubuh. Mudah lelah dan tak enak badan juga dialaminya. Sedangkan gejala keluarganya tidak sama.

“Pesan saya, jangan masuk kantor kalau sakit. Kalau ada pemeriksaan rapid antigen, sebaiknya ikut. Agar diketahui kita sehat atau tidak dari corona.

Jika sakit dan tetap kerja dan capeknya menumpuk lalu ternyata corona, itu tambah parah. Kebetulan saya mengidap Covid-19 tidak sampai parah,” ujar Yulius.

Pria yang hobi bersepeda ini juga mengaku tidak malu saat diketahui orang banyak mengidap Covid-19. Sebab, dirinya yang bertugas mensosialisasikan pencegahan Covid-19 bisa mendapatkan wawasan lebih setelah terkena langsung virus tersebut.

Sejak Senin (18/1) kemarin, saya kembali bekerja setelah dinyatakan sembuh pada pekan lalu. Dia berpesan, tidak menghindar tes rapid antigen demi kebaikan dan kesehatan bersama, khususnya demi keluarga.

“Kalau terkena corona sudah lama dan terus menumpuk, semakin parah. Kena corona tapi tetap kerja, bisa bahaya. Itu yang membuat banyak pasien positif lalu meninggal dunia. Kalau sakit, jangan tunda periksa ke layanan kesehatan,” tambah Yulius. [wap]

Tags: