Kesalahan-Kesalahan Guru Ketika Mengajar

Judul Buku : 101 Kesalahan Guru dalam Pembelajaran
Penulis : Erwin Widiasworo, S.Pd.
Penerbit : Araska
Cetakan : I, 2020
Tebal : 252 halaman
ISBN : 978-623-7537-41-0
Peresensi : Sam Edy Yuswanto
Penulis lepas mukim di Kebumen.

Seorang guru harus membekali dirinya dengan beragam ilmu pengetahuan. Tujuannya agar ilmu pengetahuan yang dimilikinya semakin bertambah luas dan luwes. Sehingga dia dapat mengajar dengan baik dan bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Karena, sebagaimana kita tahu, model belajar mengajar zaman sekarang sudah banyak mengalami pergeseran atau perbedaan. Sehingga diperlukan sistem atau cara-cara yang segar dan baru, agar para siswa tidak lekas bosan ketika menerima penjelasan materi pelajaran dari guru-gurunya.

Selain metode mengajar, seorang guru juga sangat perlu mengetahui sederet hal yang mestinya dihindari ketika datang ke sekolah dan mengajar di kelas. Hal ini penting agar guru benar-benar dapat menjadi teladan yang baik bagi para peserta didiknya. Dalam buku ini, Erwin Widiasworo, S.Pd. membeberkan 101 kesalahan guru dalam pembelajaran.

Penampilan guru yang tidak rapi misalnya. Adalah salah satu kesalahan yang harus dihindari oleh seorang guru ketika mengajar. Penampilan adalah bentuk citra diri yang terpancar dari seseorang dan merupakan sarana komunikasi antara seorang individu dengan individu yang lainnya. Tampil menarik dapat menjadi salah satu kunci sukses dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Orang lain akan merasa nyaman, betah, dan senang dengan penampilan diri yang enak dipandang mata (halaman 13).

Erwin Widiasworo, S.Pd. menjelaskan, bagi seseorang yang berprofesi sebagai guru, penampilan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan. Setiap hari guru berhadapan dengan peserta didik untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Sudah dapat dipastikan bahwa penampilan seorang guru akan sangat berpengaruh pada proses pembelajaran, terutama pada ketertarikan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Kesalahan guru yang harus dihindari lainnya ketika sedang mengajar ialah pemakaian aksesoris dan perhiasan yang berlebihan. Memakai aksesoris dan perhiasan memang telah menjadi kebiasaan masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan. Guru pun banyak yang menggunakan aksesoris dan perhiasan. Tak hanya guru wanita, guru pria juga mengenakan aksesoris seperti jam tangan, cincin dan lain sebagainya (halaman 24).

Erwin Widiasworo, S.Pd. menjelaskan, bagi seorang guru, menggunakan aksesoris dan perhiasan sebaiknya diminimalisir. Hal ini bukan berarti tidak diperbolehkan, namun jangan sampai berlebihan karena justru dapat mengganggu dan membuat ketidaknyamanan baik peserta didik maupun rekan guru yang lain. Guru yang menggunakan aksesoris dan perhiasan berlebihan akan mengganggu konsentrasi peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Perhatian peserta didik justru akan lebih kepada aksesoris dan perhiasan yang dikenakan guru dibanding memperhatikan pelajaran yang disampaikan.

Kesalahan guru berikutnya yang diulas dalam buku ini ialah tidak memiliki keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran merupakan komponen utama yang harus dimiliki oleh guru. Guru harus memberikan pengantar atau pengarahan mengenai materi yang akan diajarkan kepada siswa sehingga siswa siap mental dan tertarik untuk mengikutinya. Di saat akhir pembelajaran guru harus memberikan penguatan materi dan menyimpulkan hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Keterampilan membuka pelajaran merupakan kunci dari seluruh proses pembelajaran yang hendak dilakukannya. Sedangkan keterampilan menutup pelajaran dapat menentukan bagaimana peserta didik menguasai materi yang telah dipelajari, mengingat dan mengamalkannya dalam kehidupan (halaman 55).

Tentu masih ada begitu banyak jenis kesalahan guru yang dibahas lebih lanjut dalam buku terbitan Araska ini. Di antaranya: tidak memiliki pengetahuan tentang penggunaan berbagai media pembelajaran, tidak memiliki keimanan yang baik, tidak memahami gaya belajar peserta didik, sebatas mengajar tanpa mendidik, humor yang melampaui batas, tidak memberikan kesempatan pada peserta didik untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat, dan lain sebagainya.

Terbitnya buku ini semoga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi para guru, agar berusaha membekali diri dengan etika yang baik dan beragam pengetahuan ketika akan melakukan pembelajaran di sekolah.

———– 000 ————

Tags: