Keselamatan di Jalan

karikatur ilustrasi

Perlu ekstra waspada berkendaraan di jalan raya. Banyak jalan utama (milik negara), jalan propinsi, serta jalan milik kabupaten, dan kota, dalam keadaan rusak. Bahkan banyak ruas jalan tol nampak retak. Jalan berlubang, dan bergelombang, bisa menyebabkan kecelakaan hingga merenggut jiwa. Terutama pengendara motor berpotensi terancam setiap saat. Karena jalan berlubang tertutup genangan air. Pemerintah (dan daerah) perlu meng-inspeksi jalan, sekaligus memberi tanda jalan rusak.

Mencegah kecelakaan lalulintas, kinerja urusan Perhubungan, dan Ke-Bina Marga-an (pusat dan daerah) juga berkewajiban melengkapi sarana jalan. Antara lain pemasangan tanda patok tikung, dan penerangan jalan umum (PJU), karena jarak pandang pada saat hujan sangat terbatas. Seperti kecelakaan yang terjadi di Sumedang (yang merenggut 29 korban jiwa), seharusnya bisa dicegah dengan kelengkapan sarana jalan.

Realitanya, banyak jalan berkelok, dan menanjak tidak dilengkapi guard-rail (pagar pengaman jalan) di seantero pulau Jawa, terutama lintas selatan. Termasuk beberapa jalan di Jawa Timur. Antara lain, poros Kediri-Malang, poros Trenggalek-Ponorogo, seta poros Pacitan- Ponorogo. Juga lintasan perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah pada poros Sarangan-Tawangmangu. Serta jalan kabupaten yang rawan kecelakaan.

Sedangkan pada perlintasan jalur utara (sepanjang Gresik – Tuban, sampai Semarang) juga patut dicermati. Musim hujan selalu menjadi periode pengelupasan aspal jalan. Lubang di jalan, bagai jebakan yang mengintai. UU Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalulintas dan Angkutan Jalan, mengamanatkan jaminan keselamatan berlalulintas. Harus diakui (dalam paradigma ke-sipil-an konstruksi jalan) curah air hujan merupakan “musuh” utama jalan aspal. Niscaya menyebabkan jalan berlubang dan bergelombang.

Jalan yang rusak meliputi jalan negara, jalan propinsi, serta jalan di pedesaan yang dibangun oleh pemerintah kabupaten dan kota. Berlalulintas di jalan terasa tidak nyaman. Bahkan setiap saat terancam terperosok ke dalam lubang. Di berbagai daerah, kecelakaan yang diakibatkan jalan rusak telah menyebabkan korban jiwa. Ditambah dengan tiadanya PJU (penerangan jalan umum), lubang jalan bagai jebakan maut yang tidak terlihat.

Indonesia masih menempati urutan teratas dalam jumlah kecelakaan lalulintas (lakalantas). Padahal telah terdapat amanat undang-undang (UU) yang menjadi pengarah keselamatan berlalulintas. UU Nomor 22 tahun 2009, dalam pasal 24 ayat (1), menyatakan, “Penyelenggara Jalan wajib segera dan patut untuk memperbaiki Jalan yang rusak yang dapat mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas.”

UU Lalulintas juga telah meng-antisipasi kemungkinan potensi kecelakaan pada jalan yang rusak. Pada pasal 24 ayat (2), dinyatakan, “Dalam hal belum dapat dilakukan perbaikan Jalan yang rusak …, penyelenggara Jalan wajib memberi tanda atau rambu pada Jalan yang rusak untuk mencegah terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas.” Maka memberi tanda jalan yang rusak merusakan kewajiban pemerintah (dan daerah) sebagai penyelenggara jalan.

Pemerintah daerah (propinsi serta kabupaten dan kota) perlu mendesak pemerintah pusat, agar segera menambal jalan berlubang. Setidaknya memberi tanda jalan yang rusak dengan tanda yang jelas (dilengkapi lampu tanda bahaya). Karena semakin banyak kondisi jalan tergolong tidak laik. Juga tidak dilengkapi Penerangan Jalan Umum. Sudah gelap berlubang pula. Selain jalan, kondisi jembatan juga patut memperoleh perhatian.

Banyak jembatan jalan pada lintas kabupaten, dan lintas propinsi yang perlu di-audit konstruksi. Karena pada musim hujan, banyak pondasi jembatan (pada tepi sungai) terkikis hujan dan arus air. Beberapa jembatan ambruk. Juga tebing jalan telah longsor. Berdasar UU Lalulintas pasal 236, pemerintah dapat dihukum, manakala jalan rusak yang nyata-nyata mengakibatkan kecelakaan.

——— 000 ———

Rate this article!
Keselamatan di Jalan,5 / 5 ( 1votes )
Tags: