Kesengsem Rujak Manis Surabaya, Lebih Pedas Lebih Nikmat

01-_features_tam (1)Selalu ada pengalaman baru yang bisa diperoleh mahasiswa asing saat mengunjungi Kota Surabaya. Mulai kesan mereka terhadap masyarakat sekitar, kesenian, hingga ragam makanan tradisional. Itu pula yang kini dirasakan 16 mahasiswa Khon Kaen University ketika bertandang di Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya dalam program cross culture.

Adit Hananta Utama, Kota Surabaya

Dua minggu terakhir adalah dua minggu yang sangat mengesankan bagi ke-16 mahasiswa asal Thailand ini. Di samping bisa mempelajari Indonesia dan Surabaya, mereka juga berkesempatan bertukar gagasan mengenai penelitian yang sedang mereka kerjakan di kampus masing-masing.
Kesan itu diungkapkan Sitichai Sricharoen, mahasiswa yang kini studi di departemen Teknik Sipil. Dia merasa senang bisa berkawan dengan mahasiswa asal Surabaya, apalagi saat diajak membuat rujak manis. Bukan hanya karena rasanya yang enak, tetapi kebersamaan yang terbangun saat mereka belajar membuat salad buah tradisional itu bisa muncul begitu saja. Dan ini adalah pertama kalinya bagi mereka.
“Rasanya enak, tapi akan lebih enak jika ditambah tujuh cabai lagi. Jadi akan semakin pedas dan semakin nikmat,” ungkap Tar, sapaan akrab Sitichai, memberi isyarat selera pedasnya yang tinggi. Ucapan Tar sontak saja membuat mahasiswa pribumi di situ tercengang. Maklum, tujuh cabai bukan jumlah yang sedikit untuk satu porsi kecil rujak manis, apalagi bagi yang tidak suka pedas.
Usai mencicipi rujak buatan mereka sendiri, Tar pun berterus terang. Di Thailand, umumnya masakan  dominan rasa pedas. Sehingga maklum jika lidah masyarakatnya kurang puas kalau belum menyantap yang pedas-pedas.
Hal lain diungkapkan Miss Atchariyo Nannun. Mahasiswa semester VI departemen Teknik Mesin yang akrab disapa Toon itu merasa sedikit akrab dengan rujak manis. Dia teringat masakan tradisional di negaranya yang mirip sekali dengan rujak manis, yaitu yum-pon-la-mai. Persis seperti rujak manis, bahan dasarnya adalah buah-buahan, namun racikan bumbunya saja yang berbeda.
“Kalau rujak manis lebih mudah membuatnya. Berbeda dengan yum-pon-la-mai. Saya saja tidak tahu bagaimana membuatnya dan apa saja bumbunya,” tutur dia.
Ditanya apa sudah mengerti filosofi rujak bagi masyarakat Indonesia? Toon menggelengkan kepala dan mengerutkan kening tanda penasarannya. Melihat respon yang ditunjukkan Toon, salah seorang pengurus Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris (Himasi) Untag langsung nyerobot memberi penjelasan. Dikatakan pada Toon, bahwa rujak itu dibuat dari berbagai macam buah-buahan. Namun saat diolah menjadi satu, rasanya tetap nikmat. Begitulah Indonesia, didirikan dari berbagai suku dengan ragam budaya warisan nenek moyangnya, tapi tetap satu jua. “Iya-iya mengerti…,” timpal Toon merespon penjelasan pengurus Himasi Untag itu.
Selain makanan tradisional, permainan tradisional juga terdapat beberapa jenis persamaan. Misalnya bakiyak bergandeng dan egrang. Di Thailand, permainan itu juga sempat populer namun kini mulai ditinggalkan karena serbuan game-game modern. “Kalau permainan tradisional di sini masih banyak yang minat, berarti orang Surabaya bisa menghargai keseniannya,” tutur dia.
Toon menambahkan, hal yang khas dan paling disukainya terhadap masyarakat Surabaya adalah ramah-tamahnya. “Di sini orangnya murah senyum. Kalau mau tanya sesuatu pasti dijawab. Meskipun kita belum saling mengenal,” pungkasnya.*

Keteramgan Foto : Mahasiswa  Khon Kaen University tengah asyik meracik bumbu rujak di Universitas 17 Agustus Surabaya, Kamis (12/6). [adit hananta utama/ bhirawa]

Tags: