Ketahanan Keluarga Pondasi Ketangguhan Bangsa

Oleh:
Rio F Rachman
Dosen Institut Agama Islam Syarifuddi Lumajang

Para pakar menyebutkan, ketahanan keluarga (family strength atau family resilience) merupakan kondisi ketercukupan maupun kesinambungan akses bagi sebuah keluarga terhadap sumber daya pemenuh kebutuhan sehari-hari (Timothy R. Frankenberger and M. Katherine McCaston, 1998, The Household Livelihood Security Concept).

Menariknya, sejumlah ahli di bidang ketahanan nasional berpendapat bahwa ketahanan keluarga adalah tumpuan ketangguhan sebuah negara (Soemarno Soedarsono, 1997, Ketahanan Pribadi Dan Ketahanan Keluarga Sebagai Tumpuan Ketahanan Nasional).

Tak heran, di era pandemi Covid 19, ada banyak program pemerintah daerah dan pemerintah pusat yang menargetkan pemenuhan kebutuhan keluarga terdampak. Baik mereka yang terdampak di aspek ekonomi, maupun yang terpapar virus corona. Selain bantuan sosial, baik tunai maupun paket sembako, eksis pula bantuan obat-obatan atau makanan siap santap bagi warga yang melakukan isolasi mandiri. Pasalnya, sebuah negeri tidak akan stabil apabila komunitas terkecil di sana, dalam hal ini keluarga, banyak yang limbung dan kebingungan.

Sehubungan dengan program bantuan sosial untuk segenap keluarga Indonesia, isu yang hangat dan kerap timbul adalah pertanyaan mengenai apakah paket yang dibagikan telah tepat sasaran atau tidak. Sejatinya, problem itu tidak perlu mengemuka bila data yang digunakan setiap pihak terintegrasi. Data yang ada di pemerintah daerah, pemerintah pusat dalam hal ini kementerian sosial atau yang lain, serta data milik Badan Pusat Statistik atau BPS, mesti seirama.

Di sinilah urgensi pembaruan data secara berkesinambungan dan terpusat. Momentum hari statistik nasional yang jatuh saban 26 September bisa dijadikan titik tolak untuk menyempurnakan data statistik secara komprehensif. Keterpaduan atau kesatuan data merupakan faktor fundamental dalam proses implementasi kebijakan.

Ketahanan sosial versi BPS

Setidaknya ada tiga indikator yang biasanya digunakan untuk menelaah level ketahanan keluarga. Yakni, ketahanan fisik, ketahanan psikologis, dan ketahanan sosial (Euis Sunarti, 2006, Indikator Keluarga Sejahtera: Sejarah Pengembangan, Evaluasi Dan Keberlanjutannya). Artinya, ketahanan keluarga sebenarnya tidak hanya soal fisik atau materi. Namun juga perkara psikologis atau ketenangan serta kesenangan jiwa. Tak ketinggalan, tentang bagaimana kemampuan atau keuletan sebuah keluarga untuk bertahan di segala zaman. Tepatnya, kesanggupan unit terkecil di masyarakat itu untuk beradaptasi dengan perubahan.

Variabel-variabel yang dipakai BPS untuk mengukur ketahanan sosial keluarga menarik untuk disimak. Alasannya, variabel atau faktor pengaruh itu sesungguhnya kerap dibahas oleh orang-orang. Mulai mereka yang mengobrol saat belanja di pasar atau mengudap di warung kopi, hingga mereka yang melakukan pembahasan di forum besar.

BPS menjelaskan, ketahanan sosial berhubungan dengan dinamika masyarakat, di level lokal, nasional, bahkan global. Ketahanan sosial memiliki sejumlah faktor penentu, di antaranya, derajat integrasi sistem ekonomi pasar global termasuk prevalensi upah/gaji buruh, moneterisasi, mekanisasi, penggunaan teknologi, penanaman modal asing, orientasi dan ketergantungan pada ekspor maupun impor.

Faktor lain yang berpengaruh pada ketahanan sosial adalah arus pengetahuan dan informasi global. Hal ini terkait erat dengan perkembangan informasi dan teknologi. Derajat integrasi tata kehidupan perkotaan atau kewilayahan dan penerapan kebijakan skala internasional, nasional, lokal juga menjadi faktor yang punya implikasi pada ketahanan sosial sebuah keluarga.

Bila ditarik lebih jauh, turunan dari ketahanan sosial adalah adanya perlindungan bagi mereka yang berusia lanjut, kaum miskin dan terlantar, keluarga rentan, dan mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Tidak hanya perlindungan bagi sebuah keluarga, namun bagi keluarga-keluarga dalam suatu populasi interaksi. Dengan kata lain, harus ada usaha memunculkan kepedulian pada sesama, atas dampak merata akibat perkembangan zaman.

Sebuah keluarga yang punya ketahanan sosial baik, akan dengan mudah membaur di masyarakat. Keluarga yang punya ketahanan sosial kokoh pasti mudah menerima keberadaan pihak lain saat proses sosialisasi. Meskipun, pihak tersebut punya latar belakang berbeda dengannya.

Peran semua elemen

Upaya mewujudkan ketahanan keluarga, termasuk di era pandemi Covid-19, adalah tanggung jawab semua pihak. Tentu saja, masing-masing anggota keluarga punya peran sentral, khususnya bagi orang tua. Terlebih, orang tua memiliki fungsi memberikan sarana pendidikan, ekonomi, proteksi, pemenuhan nilai agama, rekreasi, prokreasi, afeksi, dan melatih adaptasi anak. Di mana semua sarana tadi bisa menjadi penopang ketahanan keluarga (Connie R. Sasse, 1981, Person to Person).

Pemerintah, di daerah maupun pusat, juga harus punya perhatian. Tidak hanya memberikan bantuan sosial yang sifatnya praktis. Lebih dari itu, perlu pula program berkelanjutan di bidang pemberdayaan. Baik pemberdayaan ekonomi, sosial, budaya, serta pelayanan pendidikan dan kesehatan.

Semua program mesti berjalan secara tepat sasaran dan didukung keterpaduan data. Sehingga, jelas mana keluarga beserta anggota keluarga yang butuh intervensi sosial, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Tanpa ada data statistik yang valid, program pemerintah akan sukar berjalan dengan proporsional.

Di era media baru yang serba digital, kesatuan data pasti mudah dikelola melalui aplikasi yang pas. Terpenting, tiap instansi atau pemangku kebijakan bisa bersinergi dan menggerus egosektoral. Demi kebermanfaatan yang lebih besar bagi masyarakat.

———- *** ———-

Tags: