Ketapanrame, Desa Miliarder yang Jeli Memanfaatkan Potensi

Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto kini telah menjadi desa wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan.


Dulu, tak ada yang tahu Desa Ketapanrame. Sebuah desa yang berada di lereng Gunung Welirang, dengan jumlah pengangguran yang tinggi. Namun kini, Ketapanrame telah bangkit dan menjadi desa miliarder. Desa yang memiliki pendapatan miliaran rupiah setiap tahun.

Oleh:
Zainal Ibad
Wartawan Harian Bhirawa

Hari itu, Diah Kusumastuti dan keluarga berencana healing bersama. Lokasi yang dituju adalah desa wisata Ketapanrame. Tepatnya di Wisata Sawah Sumber Gempong. Destinasi ini berada di Dusun Sukorame, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Diah tertarik mengunjungi destinasi ini, setelah sang suami melihatkan foto-foto yang dibagikan temannya. Tempatnya terlihat indah, hijau, sejuk dan segar. Latar belakang pemandangan Gunung Penanggungan menambah eksotisnya tempat itu. Ditambah hamparan persawahan terasering dengan sumber mata air yang jernih.

“Kami sampai di lokasi sekitar pukul 10.00 Wib. Pemandangan sawah dan pegunungan terpampang jelas di depan mata. Waktu saya berkunjung, sudah banyak wisatawan yang datang,” kata ibu empat orang anak ini, membagikan ceritanya di blog pribadinya, www.dekamuslim.com yang diunggah pada Selasa (20/12/2022).

Meski ramai, namun perempuan yang berdomisili di Sidoarjo ini tidak kecewa. Sebab anak-anaknya sangat senang. Di obyek wisata ini, mereka bermain air langsung dari mata airnya. Airnya begitu segar dan murni tanpa menggunakan kaporit sedikitpun. Lalu naik kuda, ayunan, kereta keliling sawah dan juga ngemil aneka jajanan khas Trawas.

“Dari namanya, Wisata Sawah Sumber Gempong. Tentu yang disuguhkan adalah wisata sawah. Pengunjung bisa menikmati hijau dan indahnya sawah berlatar belakang pegunungan. Tentu saja bukan hanya sawah seperti pada umumnya, tapi ada wahana permainan yang menarik. Wisata ini sangat recomended bagi keluarga,” jelasnya.

Ada banyak spot menarik di Wisata Sawah Sumber Gempong. Diantaranya kolam pemandian, pondok sawah dan ikan terapi. Spot ini gratis bagi wisatawan yang berkunjung.

Selain itu, ada juga spot berbayar. Namun jangan khawatir, karena sangat terjangkau. Seperti kereta sawah dengan tarif Rp10 ribu, ayunan jantra Rp10 ribu, sepeda layang Rp15 ribu, bebek air Rp20 ribu, becak terbang Rp20 ribu dan ATV Rp25 ribu.

Kepala Desa (Kades) Ketapanrame, H Zainul Arifin SE mengatakan, Wisata Sawah Sumber Gempong dibangun pada 2021 lalu. Meski tergolong baru, sudah mendapat tempat di hati para wisatawan. Karena wisata ini menawarkan pemandangan alam persawahan yang indah. Bernuansa pedesaan yang sangat asri, cocok bagi wisatawan yang ingin sejenak melupakan bising perkotaan.

Wisata Sawah Sumber Gempong merupakan pengembangan dari wisata Taman Ghanjaran yang sebelumnya lebih dulu eksis. Pembangunan destinasi Sumber Gempong sangat unik. Sumber dananya dari masyarakat dengan konsep investasi. Metode ini melanjutkan konsep di Taman Ghanjaran yang sebelumnya sudah diterapkan. Dan sukses.

“Sumber Gempong ini dibangun di tanah kas desa (TKD). Luasnya empat hektare. Konsepnya wisata alam, karena alamnya sangat mendukung. Total ada 98 kepala keluarga (KK) dari total 160 KK di Dusun Sukorame, yang ikut berinvestasi. Setiap KK dibatasi maksimal membeli 10 lembar, dengan setiap lembar nilai investasinya Rp1 juta,” jelas Arifin, saat ditemui di Wisata Sawah Sumber Gempong, Sabtu (17/12/2022).

Menurut Arifin, warga Dusun Sukorame yang berinvestasi di Taman Ghanjaran tidak banyak. Sehingga dengan pengembangan wisata Sumber Gempong, menjadi salah satu upaya untuk pemerataan dari program desa.

“Yang bisa berinvestasi hanya Dusun Sukorame. Di luar mereka tidak boleh. Bagi masyarakat yang tidak berinvestasi, bisa berjualan di dalam destinasi. Total ada 28 lapak. Sedangkan yang tidak bisa berinvestasi dan berjualan, diberikan kesempatan untuk menjaga parkir atau menjadi mitra BUMDes untuk mengelola wisata,” jelasnya.

Setelah setahun berjalan, masyarakat yang ikut investasi sudah balik modal atau BEP (break even point). “Alhamdulillah, kita dapat membagikan hasil usaha ke masyarakat dengan nilai yang lebih besar dari pada di Taman Ghanjaran. Satu bulan bagi hasilnya bisa mencapai Rp100 hingga Rp165 ribu per lembar saham. Kalau punya 10 lembar saham satu bulan dapat Rp 1.650.000,” rinci Arifin.

Kades kelahiran Mojokerto, 10 Juni 1972 ini mengatakan, pendapatan Wisata Sawah Sumber Gempong lebih besar dibanding Taman Ghanjaran, karena di Wisata Sawah Sumber Gempong ada tiket masuknya sebesar Rp5 ribu per orang. Sedangkan di Taman Ghanjaran gratis, tidak ada tiket masuk.

Taman Ghanjaran
Sejak beberapa tahun terakhir, pariwisata di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto memang sedang menggeliat. Berbagai pilihan destinasi terus bertambah sebagai tujuan rekreasi keluarga, komunitas atau sebatas mampir ngopi, menikmati pemandangan Gunung Penanggungan atau Welirang.

Dikutip dari www.javatravel.net, di Trawas total ada 15 tempat wisata. Khusus di Desa Ketapanrame, selain Wisata Sawah Sumber Gempong, tentu ada Taman Ghanjaran yang dibangun pada 2017 dan dibuka sejak 2018.

Khusus di Taman Ghanjaran, setiap akhir pekan pengunjung yang mendatangi lokasi wisata tersebut sangat ramai. Terkadang kapasitas parkir kendaraan roda empat selalu meluber hingga keluar. Khususnya saat malam hari.

Destinasi ini begitu menarik. Salah satu kelebihannya adalah tak ada biaya untuk tiket masuk. Kemudian terdapat berbagai pilihan wahana permainan. Mulai dari kereta jalan, bianglala, playground, sky wave, carrousel, cinema 9 dimensi, bom-bom car, swinger, pontang-panting, sky bike dan kolam renang. Namun, untuk wahana ini pengunjung memang harus membeli tiket terlebih dahulu. Harganya cukup terjangkau, mulai dari Rp5 ribu hingga yang paling mahal Rp20 ribu.

Jika tak berminat untuk mencoba wahana permainan, di luar area wahana pengunjung juga dapat menikmati berbagai pilihan kuliner dari 99 lapak pujasera yang tersedia. Soal harga, lagi-lagi sangat bersahabat dengan kantong

Pandai Manfaatkan Potensi
Dibalik ramainya Taman Ghanjaran seperti sekarang ini, ternyata ada perjuangan berdarah-darah sebelumnya. Arifin bercerita, butuh waktu yang cukup panjang dan energi yang besar, untuk menyiapkan destinasi wisata Taman Ghanjaran. Selain masih merintis, anggaran yang dibutuhkan juga belum ada. Berbeda dengan sekarang, dimana BUMDEs sudah memiliki pendapatan laba mencapai miliaran setiap tahunnya dari sharing usaha.

“Sama seperti Wisata Sawah Sumber Gempong, Taman Ghanjaran ini berdiri di atas tanah bengkok atau TKD seluas tiga hektare. Awalnya hanya disewakan untuk kegiatan pertanian dan hasil sewanya dimasukkan dalam APBDes untuk tambahan penghasilan kepala desa dan perangkat desa,” jelas Arifin

Seiring waktu berjalan, nilai ekonomi yang diperoleh dari pengelolaan pertanian tersebut begitu kecil. Ini karena mata pencahariaan utama masyarakat Desa Ketapanrame adalah pedagang, sehingga bertani hanya dijadikan sebagai sampingan. Di sisi lain, biaya produksi untuk pertanian juga cukup tinggi dan tak sebanding dengan hasilnya.

“Jadi secara kemampuan bertaninya kurang dan faktor tanah juga berpengaruh. Kandungan airnya yang terlalu banyak membuat padi itu tumbuh sangat baik pada batangnya, tetapi bulirnya sedikit sehingga hasil panen di bawah rata-rata,” jelas Arifin.

Karena itu, nila tawar untuk sewa lahan pertanian di tanah bengkok ini sangat murah. Satu tahun hanya sekitar Rp25-Rp30 juta. “Tapi semurah-murahnya sewa lahan pun dulu kita berikan. Karena perangkat desa memang tidak diperbolehkan mengelola sawah sendiri agar tetap fokus melayani masyarakat,” jelas dia.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, pada 2010 Arifin pun berinisiatif membangun destinasi wisata. Hal itu dilatar belakangi, karena Trawas merupakan salah satu kawasan wisata yang banyak dikunjungi. Selain itu, Desa Ketapanrame juga memiliki lokasi yang indah pemandangannya. Potensi ini yang coba dimanfaatkan dengan baik.

Gagal Dapat Investor
Selama dua tahun, konsep dibuat. Mulai membuat gambar termasuk rencana anggaran. Setelah dihitung, membutuhkan anggaran mencapai Rp25 miliar. Sebuah anggaran yang sangat besar, apalagi hanya di level pemerintah desa.

Pada 2013, ada salah satu investor yang siap bekerjasama. Artinya pembangunan destinasi ini akan dibantu oleh pihak ketiga untuk permodalannya. “Kita sudah membuat kesepakatan-kesepakatan. Apa hak dan kewajiban investor dan begitu juga sebaliknya,” ujar Arifin.

Setelah konsep kerjasama disepakati, ditindaklanjuti dengan penandatangan MoU (memorandum of understunding). Namun ternyata rencana kerjasama itu harus putus sebelum proyek dijalankan pada 2015.

“Investor terpaksa berfikir ulang, karena di Trawas rencananya akan dibangun Jatim Park III. Investor khawatir kalah bersaing, dan akhirnya batal untuk melanjutkan kerjasama. Sangat disayangkan, konsep kerjasama yang selama dua tahun direncakan harus batal,” kenangnya.

Gagal mendapat investor, Arifin pun mencoba mengusulkan rencana pengembangan desa wisata ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto. Potensi itu pun mendapat respon positif, karena waktu itu Pemkab Mojokerto tengah merancang Segi Tiga Emas wisata, yang meliputi Kecamatan Trowulan, Kecamatan Pacet dan Kecamatan Trawas. Melalui usulan tersebut, Pemkab Mojokerto mengucurkan Bantuan Keuangan (BK) sebesar Rp5 miliar.

“Setelah kita sampaikan proposal dan paparan, Pemkab Mojokerto siap membantu pendanaan. Dari total kebutuhan Rp25 miliar, pada tahap awal dibantu Rp5 miliar. Anggaran ini turun pada akhir 2017 dan langsung dibangun pada 2018 awal, serta selesai pada tahun itu juga,” jelas Arifin.

Dengan BK tersebut, pembangunan Taman Ghanjaran mulai berjalan dengan pembangunan pengerasan lahan, pagar, pavingisasi, penanaman pohon untuk taman dan pembangunan pujasera. “Setelah rampung kita resmikan hanya berupa taman dan pujasera. Saat itu masih sekitar 16 stan penjual kuliner dan belum ada wahananya,” ujarnya.

Masyarakat Ikut Berinvestasi
Saat awal dibuka, animo pedagang dari masyarakat setempat mulai tampak menggeliat. Bahkan lokasi yang semestinya untuk taman dan parkir digunakan berjualan. Akhirnya yang tampak justru seperti pasar kaget atau pasar senggol yang kumuh.

“Dari tingginya animo itu, kita akhirnya berupaya memperluas lokasi pujasera. Namun, tetap tidak dapat mengakomodir seluruh pedagang,” jelasnya.

Dari situ, muncullah ide untuk mengajak masyarakat Desa Ketapanrame untuk berinvestasi. Baik mereka yang semula bertani maupun pedagang kaki lima yang tidak mendapatkan lapak berjualan. Situasi ini cukup menguntungkan bagi pengembangan Taman Ghanjaran. Sebab, pemerintah desa juga membutuhkan dukungan modal untuk membangun wahana permainan.

“Akhirnya, pemerintah desa menghitung saham yang akan dijual ke masyarakat untuk berinvestasi. Ketemulah hitung-hitungan harga saham Rp1 juta per lembar,” katanya.

Tawaran itu pun disambut positif masyarakat Desa Ketapanrame. Bahkan beberapa ada yang ingin membeli hingga seratus lembar. Namun, pihaknya membatasi maksimal bisa membeli 10 lembar saham per KK agar terjadi pemerataan. Dari penjualan saham tersebut, tercatat sebanyak 444 KK dari total 1857 KK di Desa Ketapanrame turut membeli, dengan total saham yang terjual sebanyak 3.800 lembar atau senilai Rp3,8 miliar.

“Kita batasi agar saham itu tidak diborong salah satu orang saja. Karena sejak awal munculnya inisiatif menjual saham ini, untuk mengakomodir masyarakat agar dapat merasakan manfaat dari Taman Ghanjaran,” ujar dia.

Bersyukur, setelah dua tahun dana investasi itu diputar sejak akhir 2019, pada akhir 2021 lalu sudah mencapai BEP. Padahal saat itu situasi pandemi Covid-19 sedang begitu berat. Bahkan selama dua tahun beroperasi, Taman Ghanjaran sempat tutup selama sembilan bulan karena pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah, dua tahun sudah bisa BEP. Sementara, kontrak yang berjalan dari pembelian saham ini berjalan hingga 15 tahun. Jadi yang 13 tahun ini investor akan terus menikmati hasilnya,” jelas dia.

Terkait pembagian hasil investasi, Arifin mengaku cukup banyak variabelnya. Mulai bagi hasil untuk BUMDes, alokasi dana sosial, persentase untuk perawatan, persentase untuk pengembangan dan biaya operasional setiap bulan.

“Untuk bagi hasil dengan investor kita target paling kecil tiga persen. Tapi kenyataannya kita bisa memberikan hingga enam persen. Jadi setiap bulan per lembar sahamnya bisa mendapat hasil sekitar Rp60 ribu, kalau punya 10 lembar saham sudah dapat Rp600 ribu,” rincinya.

Arifin mengaku, bagi hasil tersebut berasal dari omset per bulan yang saat ini telah mecapai lebih dari Rp1 miliar. Angka ini cukup pesat peningkatannya dari saat awal berdiri omsetnya hanya sekitar Rp25 juta per bulan sampai akhir tahun 2018.

“Tahun 2018 itu kita baru buka dua bulan saja. Kemudian akhir tahun dilaporkan omsetnya sekitar Rp50 juta. Jadi rata-rata per bulannya masih Rp25 juta, sangat kecil,” jelas dia.

Terkait kunjungan wisatawan, setiap bulan jumlahnya terus meningkat. Apalagi setelah sarana dan prasarana wisata semakin baik karena banyak yang mendukung. Baik dari pemerintah ataupun swasta seperti Astra.

Selama 2022, di Taman Ghanjaran setiap akhir pekan seperti hari Minggu kunjungan wisatawan bisa mencapai 4.000-5.000 orang. Sedangkan hari biasa rata-rata 500 orang. Sedangkan di Wisata Sawah Sumber Gempong jumlahhnya mencapai 4.000 orang pada hari Minggu. Sedangkan pada hari-hari biasa antara 300-400 orang.

“Untuk di Taman Ghanjaran, kalau parkirnya penuh kita arahkan untuk parkir di area terminal di depan Taman Ghanjaran. Keuntungannya selain menambah pendapatan parkir, PKL di sekitar area tersebut juga semakin ramai pembeli,” ujar dia.

Warga Menerima Manfaat
Hadirnya Taman Ghanjaran ini sekaligus membawa berkah bagi peningkatan serapan tenaga kerja di desanya. Di Taman Ghanjaran, setidaknya ada 830 orang yang terlibat baik sebagai investor, pedagang, penjaga parkir maupun karyawan BUMDes.

“Petugas parkir saja sampai 55 orang. Kemudian yang buka lapak di pujasera setidaknya sudah 99 keluarga, ada juga pemilik wahana permainan mandiri yang mencapai 30 orang. Lalu yang sudah berinvestasi dan telah menikmati penghasilannya ada 444 keluarga,” kata dia.

Sementara jika secara keseluruhan, baik yang terlibat di Wisata Sawah Sumber Gempong dan Taman Ghanjaran, total mencapai 1.000 KK dari total 1.857 KK. Namun jika yang mendapat manfaatnya, hampir semua KK. Contoh penerima manfaat paling kecil adalah menerima program sosialnya.

“Kalau dihitung, mungkin mencapai 80 persen warga Desa Ketapanrame mendapat manfaat dari destinasi wisata yang kita bangun. Yang 20 persen tidak terlibat karena sudah berkecukupan. Kami buat program sosial seperti renovasi rumah tidak layak huni, bantuan pendidikan, bantuan untuk rumah ibadah hingga bantuan berobat untuk warga yang sakit,” katanya.

Semua orang yang terlibat sebagai pegawai hingga investor, tegas dia, syaratanya adalah warga Desa Ketapanrame. “Bahkan jika tidak punya kemampuan apa-apa sekalipun, kalau statusnya adalah warga Ketapanrame dan mau belajar akan kita terima. Bahkan pengelola BUMDes pun tidak kita batasi harus sarjana,” ujar Arifin.

Kendati demikian, Arifin tetap menaruh perhatian serius terhadap kualitas SDM. Sebab, sebagai pekerja di sektor wisata harus memahami bahwa mereka menjual jasa. Maka untuk hal-hal terkecil seperti menjaga kebersihan, harus tumbuh dari kesadaran di masing-masing.

“Untuk mengelola tempat wisata, SDM-nya harus punya wawasan wisata. Dan itu terus kita latih dan diberikan contoh yang baik. Jangan sampai ada sampah terlihat di depan mata tapi menunggu petugas kebersihan untuk membersihkannya,” tegas dia.

Kehadiran Wisata Sawah Sumber Gempong dan Taman Ghanjaran ini, kata Arifin, telah mampu meningkatkan 80 persen kesejahteraan warga. Karena yang dulu warganya hanya menjadi buruh, pengangguran sekarang bisa bekerja di destinasi wisata itu.

“Saya bisa klaim di Desa Ketapanrame sekarang sudah tidak ada pengangguran. Justru kita kesulitan mencari tenaga kerja. Yang dulu sang istri nganggur di rumah, sekarang bisa bantu suaminya dengan membuka lapak di Sumber Gempong atau di Ghanjaran,” ungkapnya.

Bahkan, Arifin yang sudah tiga periode menjadi Kades Ketapanrame ini bisa memastikan di desanya tidak ada kemiskinan ekstrim. “Di Ketapanrame tidak ada lagi kemiskinan ekstrim. Meskipun begitu kami tetap menerima program bantuan pemerintah. Seperti PKH (Program Keluarga Harapan), Bantuan Langsung Tunai (BLT) BBM atau beras miskin,” jelasnya.

Jadi Desa Miliarder
Keberadaan Taman Ganjaran dan Wisata Sawah Sumber Gempong, ternyata tidak semua asetnya dimiliki langsung BUMDes Ketapanrame. Desa melalui BUMDes hanya memberikan fasilitas kepada masyarakat, untuk dikelola secara profesional dengan model kemitraan. Sehingga pendapatan yang diperoleh merupakan bagian dari sharing yang telah ditetapkan besarannya.

“BUMDes Ketapanrame bukan pelaku usaha. Tapi hanya penyelenggara dan memfasilitasi kegiatan usaha masyarakat. Ada lima usaha yang difasilitasi BUMDes. Yakni unit wisata, pengelolaan air minum, pengelolaan sampah, pengelolaan kandang dan kios serta unit simpan pimjam dan kemitraan,” jelasnnya.

Dari lima jenis usaha itu, lanjut Arifin, BUMDes hanya mendapat sharing pendapatan. “Contohnya sharing pendapatan parkir 30 persen dari nilai tiket yang di tetapkan yang masuk ke BUMDes, selebihnya ke pelakunya. Begitu juga dengan jenis usaha lainnya,” paparnya.

Setiap tahun, lanjutnya, omsetnya mencapai Rp4 hingga Rp5 miliar dari sharing omzet sekitar 10-20 persen. Seandainya usaha itu dikelola langsung oleh BUMDes, jumlahnya bisa mencapai Rp10 miliar lebih. Untuk itu, tak berlebihan jika Desa Ketapanrame mendapat julukan desa miliarder. Karena pendapatan desanya mencapai miliaran rupiah.

“Dari sharing yang mencapai Rp4 hingga Rp5 miliar itu, 40 persen untuk operasional dan 60 persen untuk laba. Sehingga laba bersih BUMDes sekitar Rp3 miliar setiap tahunnya. Dana ini diputar lagi untuk pengembangan wisata, perbaikan jaringan air minum, tambahan modal untuk simpan pinjam, untuk membangun TPA sampah dan lainnya,” jelasnya.

Bangun Slepi Forest Park
Setelah sukses membangun Taman Ghanjaran dan Wisata Sawah Sumber Gempong, Arifin juga berencana membangun destinasi baru di Dusun Slepi. Dusun ini berbatasan langsung Kabupaten Pasuruan, dan letaknya sangat strategi di Jalan Raya Trawas-Prigen.

Menurut Arifin, Dusun Slepi yang berjumlah 620 KK ini minim potensi. Tidak ada potensi alam seperti di Dusun Ketapanrame atau Dusun Sukorame. Sehingga dirinya harus memutar otak, agar dusun ini bisa dibangun destinasi wisata yang bisa menyejahterakan warga.

Setelah melalui musyawarah dan diskusi, akhirnya Arifin bersama warga sepakat untuk membangun rest area dan tempat oleh-oleh. Nantinya, oleh-oleh dari Desa Ketapanrame dipusatkan disana. “Nanti akan ada pasar buah, oleh-oleh khas Trawas khususnya Desa Ketapanrame dan restoran,” katanya.

Saat ini, lanjut Arifin, tempat yang akan di bangun rest area itu masih digunakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah. Nantinya, TPA itu akan direlokasi ke daerah pinggir.

Agar rest area ini semakin berkembang, Arifin sudah mempunyai ancang-ancang untuk bekerjasama dengan Perhutani. Di wilayah Perhutani ini adalah lahan yang memiliki pemandangan sangat bagus.

“Segmentasi dari destinasi kami membidik kalangan menengah atas. Kalau destinasi di Taman Ghanjaran atau Sumber Gempong untuk semua kalangan. Kalau yang ini beda. Wisata ini rencananya kami berinama Slepi Forest Park,” ungkapnya.

Pembangunan rest area dan destinasi ini akan dimulai pada 2023 nanti. Arifin mengaku, BUMDes sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp1 miliar. “Program ini juga akan kami usulkan ke Astra dan kementerian, agar mendapat bantuan modal. Total pembangunannya membutuhkan Rp10 miliar,” katanya.

H Zainul Arifin SE

Torehkan Puluhan Penghargaan
Di bawah kepemimpinan Arifin, Desa Ketapanrame menorehkan sejumlah prestasi dan inovasi yang menghidupkan ekonomi warganya. Sesuai visinya, berupaya mewujudkan desa mandiri, sejahtera dan berdaya saing dengan tata kelola pemerintahan yang profesional.

Arifin menjabat kepala desa sejak 2007 silam. Hingga kini, sudah ada 25 penghargaan yang ditorehkan selama ia menjabat. Diantaranya; juara satu lomba Kesatuan Gerak PKK-KB-Kesehatan 2008 Provinsi Jatim, juara satu lomba BUMDes Terbaik 2018 Kabupaten Mojokerto, juara satu lomba Bumdes Terbaik 2020 Provinsi Jatim, juara satu sebagai Desa Sejahtera Astra (DSA) 2020 oleh Astra Indonesia.

Kemudian; sebagai Tokoh Inspiratif Pariwisata Kabupaten Mojokerto 2022, peraih BUMDes terbaik dalam penghargaan Community Development and Engagement BUMDes Award Nasional 2022, peraih 10 Terbaik Dewi Cemara (Desa Wisata Cerdas, Mandiri, Sejahtera) Provinsi Jawa Timur Tahun 2022, dan peraih Promosi Desa Wisata Nusantara peringkat 15 Nasional oleh Kementrian Desa PDTT Tahun 2022.

“Penghargaan itu dicapai dengan empat aspek ekosistem. Semua pencapaian itu kita upayakan melalui BUMDes yang aktif sebagai penggerak ekonomi desa, digitalisasi terimplementasi, lalu inovasi desa kreatif, serta desa tangguh yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” ujarnya.

Arifin mengatakan, selain mengedepankan empat aspek ekosistem, pihaknya juga mewujudkan sejumlah inovasi guna membantu perekonomian masyarakat dari latar belakang desa dengan tiga dusun itu. Dia menjelaskan, latar belakang pembangunan desa dipicu dari angka pengangguran yang tinggi, pengelolaan TKD yang tak maksimal, PAD rendah, serta SDM maupun SDA yang belum berkembang.

Dapat Pendampingan Ubaya
Kehadiran Taman Ghanjaran dan Wisata Sawah Sumber Gempong tak hanya menjadi destinasi wisata yang menarik datangnya pengunjung. Lebih dari itu, Ghanjaran telah menjadi pintu masuk dari berbagai energi positif untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat desa. Hal itu dapat terlaksana lantaran kerjasama pentahelix yang berhasil dibangun antaran pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi hingga dukungan dari perusahaan.

“Kami bersama Universitas Surabaya (Ubaya) telah bekerjasama selama dua periode sejak 2019. Setiap periode berjalan selama tiga tahun. Pendampingan yang dilakukan mulai dari peningkatan kualitas SDM, pendampingan UMKM maupun penguatan manajemen pariwisata,” jelas Arifin.

Menurut Arifin, Ubaya memberikan pendampingan karena Desa Ketapanrame memiliki banyak program. Sehingga Ubaya mengupayakan mendapatkan dana untuk merealisasikan program tersebut. Karena Ubaya banyak akses, salah satunya menawarkan ke PT Astra Internasional Tbk.

“Awalnya Ubaya mengikutkan Desa Ketapanrame lomba Desa Sejahtera Astra (DSA) dan Kampung Berseri Astra (KBA) pada 2020. Kita kirim profil dan potensi termasuk dampak serta permasalahan Desa Ketapanrame. Untuk KBA kita lolos sekian besar. Saya lupa pastinya. Tapi untuk DSA kita meraih juara pertama, menyisihkan 750 desa di Indonesia,” ungkapnya.

DSA merupakan program CSR PT Astra Internasional yang berfokus pada pengembangan ekonomi desa, dengan berupaya memberikan nilai tambah melalui pelatihan, pendampingan, bantuan prasarana, permodalan, dan pencarian offtaker pada produk unggulan kawasan pedesaan.

Program ini merupakan bentuk kerjasama antara Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa, PDTT) dengan PT Astra Internasional Tbk.

Saat ikut lomba itu, jelas Arifin, memang baru ada destinasi Taman Ghanjaran. Tapi yang dihitung bukan Taman Ghanjarannya saja, tapi semuanya. Seperti program pemberdayaan masyarakat, peningkatan dan perbaikan kesejahteraan, keterlibatan masyarakatnya seperti apa, hingga dampak apa yang bisa diberikan masyarakat.

Sejak kemenangan itu, program Astra mulai banyak masuk ke Desa Ketapanrame melalui Ubaya. Bantuan itu tidak berupa uang, tapi barang. Seperti pemberian bantuan sarana dan prasarana usaha BUMDes. Termasuk perlengkapan untuk warung, perlengkapan usaha, kesenian dan perlengkapan pengurus BUMDes. Astra juga memberikan bantuan seperti pendampingan, pelatihan wisata, digitalisasi marketing dan masih banyak lagi.

Desa Ketapanrame, kata Arifin, juga mendapatkan bantuan senilai Rp300 juta dari program Desa Super Prioritas Astra. Bantuan ini untuk pengembangan Wisata Sawah Sumber Gempong, dengan membuat spot edukasi ‘Pojok Dolanan’.

“Spot wisata ini baru selesai November lalu. Di tempat ini wisatawan yang masih sekolah bisa belajar berbagai macam tanaman yang ada. Ada juga sejumlah permainan tradisional,” jelasnya.

Setiap tahun, lanjut Arifin, karena Desa Ketapanrame termasuk desa binaan Astra, saat ulang tahunnya Astra, Desa Ketapanrame juga mendapat bantuan sembako untuk warga tidak mampu. Seperti beras, minyak, gula dan lain sebagainya.

“Banyak hal yang kita terima dari Astra melalui Ubaya sebagai tim pengusul. Kami adalah mitra Ubaya. Jadi komunikasi kami dengan Astra banyak dilakukan Ubaya. Apalagi setelah juara pertama DSA, Astra sangat mendukung pengembangan Desa Ketapanrame. Saya ucapkan terima kasih kepada Ubaya,” ungkapnya.

Belajar Pengelolaan Wisata
Selama dua periode, Ubaya melalui program pengabdian kepada masyarakat terlibat dalam pendampingan Desa Ketapanrame, menjadi desa wisata yang mampu berinovasi dan mengoptimalkan potensi daerah dengan maksimal.

“Dengan dukungan dana dari berbagai pihak seperti Kemenristek/BRIN serta PT Astra Internasional Tbk, sekaligus didampingi tim dosen Ubaya, maka berbagai inovasi dihasilkan untuk menuju desa sejahtera. Desa Ketapanrame bertransformasi menjadi desa wisata yang menarik bagi pengunjung lokal maupun asing,” kata Ketua Tim Dosen Pengabdian Kepada Masyarakat Ubaya, Aluisius Hery Pratono SE MDM PhD.

Tim Ubaya yang terlibat dalam pendampingan Desa Ketapanrame selain Hery Pratono, juga ada Veny Megawati ST MM, Dr Delta Ardy Prima SST MT, Teguh Wijaya Mulya SPsi MEd PhD, dan Utomo SS.

Menurut dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Ubaya ini, obyek wisata Taman Ghanjaran mampu menarik pengunjung hingga lima ribu orang setiap minggu. Hal tersebut bisa mendorong serta meningkatkan pendapatan asli desa mencapai lebih dari Rp 250 juta per tahun.

“BUMDes Ketapanrame memiliki berbagai unit usaha seperti penyediaan jasa pengelolaan air minum, jasa pengelolaan kebersihan lingkungan, jasa pengelolaan kios dan kandang, serta unit simpan pinjam. Ratusan warga sekitar terlibat dalam kegiatan di kawasan ini. Bahkan muncul kesenian yang mencapai 15 kelompok,” terang Hery Pratono.

Sementara itu, Koordinator Fasilitator DSA dari Ubaya, Veny Megawati mengatakan, keberhasilan pengelolaan Taman Ghanjaran merupakan hasil dari jerih payah warga dan pemerintah desa setempat. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Ubaya bersama Astra bersifat mendampingi untuk memaksimalkan potensi yang ada di Desa Ketapanrame.

“Kita lebih mendampingi pada manajemen dan pengelolaan BUMDes serta Taman Ghanjaran. Bentuk pendampingan itu salah satunya adalah mengajak pemuda setempat studi banding ke destinasi wisata lain untuk belajar pengelolaan wisata agar lebih baik,” katanya.

Beberapa destinasi wisata yang telah dikunjungi antara lain; Kampung Wisata Taman Sari Yogyakarta, Desa Wisata Adat Osing Kemiren Kabupaten Banyuwangi, Desa Wisata Pentingsari, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Kampung Mataram, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Borobudur, Kabupaten Magelang, Desa Wisata Ranu Pani, Kabupaten Lumajang dan Sanggar Bhagaskara, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Pendampingan dari Astra dan Ubaya di Desa Ketapanrame ini, lanjut Venny, bukan untuk pengembangan Taman Ghanjaran saja, melainkan juga destinasi wisata di Dusun Sukorame dengan konsep pariwisata pendidikan yaitu Wisata Sawah Sumber Gempong.

“Desa Ketapanrame masuk Desa Super Prioritas Astra, sehingga kita mendapatkan dana dari Astra sebesar Rp300 juta untuk Sumber Gempong,” terang dosen Manajemen Layanan dan Pariwisata Fakultas Bisnis dan Ekonomika Ubaya ini.

Venny menyebutkan, Dusun Sukorame merupakan dusun terkecil dengan pendapatan terendah dibandingkan dusun yang lain di Desa Ketapanrame. Mayoritas penduduk di dusun tersebut adalah petani dan ibu rumah tangga.

Wisata Sumber Gempong sudah dibuka namun pembagunan serta pendampingan untuk mewujudkan pariwisata pendidikan masih terus berjalan. “Kita latih warganya untuk bermain gamelan, menari, dan berperilaku wisata. “Ada yang berjualan di lapak, ada yang barista, petugas kebersihan, tukang parkir dan lainnya. Semangat kita adalah mengangkat sebuah lembah jadi berkah,” tegasnya.

Wujudkan Jiwa Sales Person
Sebagai desa wisata yang memiliki kekayaan alam melimpah, Desa Ketapanrame juga memiliki dukungan dari keterlibatan masyarakat sekitar. Pada 2022, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) berfokus pada pemberdayaan sumber daya manusia (SDM). Diharapkan, semua warga bisa memiliki rasa bangga terhadap kearifan lokal yang dimiliki.

Ketua Pokdarwis Desa Ketapanrame, Karno Adi Sucipto mengatakan, setelah memanfaatkan potensi alam, pihaknya mengajak masyarakat terlibat dalam mengembangkan Desa Ketapanrame sebagai desa wisata. Sehingga pada 2016 lalu, dibentuklah Pokdarwis Rakasiwi. Akronim dari Penggerak Aksi Wisata. “Peranan kami menggandeng masyarakat untuk aktif dalam keterlibatan mereka mengembangkan sektor pariwisata,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Karno ini menjelaskan, dengan total 50 anggota Rakasiwi, wisata edukasi Sumber Gempong mulai dirintis. Mulai dari fasilitas, tata kelola, hingga sektor perdagangan di tempat wisata tersebut.

“Karena wisata Sumber Gempong ini punya potensi yang tinggi. Kami lalu berupaya mengajak semua warga sekitar untuk mulai memanfaatkan peluang tersebut sebagai pendongkrak ekonomi,” papar pria 47 tahun tersebut.

Caranya, lanjutnya, dengan pembinaan masyarakat sekitar untuk lebih mengenal desa mereka sendiri. Sehingga, semua warga bisa memiliki rasa bangga dan kepemilikan terhadap Desa Ketapanrame. Yang mana kaya akan sumber daya alamnya maupun menjadi jujukan wisata.

“Setelah rasa kepemilikan sebagai warga asli terbentuk, nantinya mereka otomatis akan memiliki jiwa sales person. Dengan munculnya jiwa sales person ini, akan menarik pengunjung atau wisatawan dari luar untuk mampir ke Desa Ketapanrame,” ungkapnya.

One Village One CEO
Di Jawa Timur, sudah ada 152 DSA yang tersebar di 15 kabupaten. Baik dari sisi wisata maupun produk hasil desa. Sejauh ini juga terdapat dua desa yang tergolong sebagai desa wisata super prioritas. Di antaranya DSA Ketapanrame dan DSA Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso.

Head of Social Engagement PT Astra International, Triyanto mengatakan, Astra juga melakukan pengembangan sembilan pondok pesantren di Jatim, untuk membina lebih dari 50 DSA yang turut mengembangkan produk unggulan desa. Termasuk mengembangkan UMKM melalui dua Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) di Jatim, yaitu LPB Waru Sidoarjo dan Banyuwangi.

“Hingga saat ini, telah dilakukan pembinaan 180 UMKM dengan beberapa fokus yaitu pembinaan bengkel roda dua dan roda empat, kerajinan, kuliner, manufaktur, serta pertanian perikanan. Astra turut bersyukur, bahwa upaya dan sinergi seluruh pihak mulai membuahkan hasil yang manis,” ujarnya.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, mendorong tiap desa menerapkan format One Village One CEO, alias program satu desa satu manajer untuk membangun desa sejahtera. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan manajerial skill, untuk membangun desa yang sudah berkembang agar menjadi maju, sementara yang sudah maju menjadi desa mandiri.

“Alhamdulillah pada pertengahan 2021 lalu, Jatim sudah bebas desa tertinggal, yang sekarang menjadi desa berkembang. Bagaimana desa maju, supaya naik kelas jadi desa mandiri. Dari indeks desa membangun yang dikeluarkan Kemendesa Mandiri, di Jatim tertinggi diantara seluruh provinsi di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, hal tersebut merupakan kinerja dari para kepala desa di Jatim. “Kalau dilihat dari prestasi paling tinggi desa mandiri di Indonesia, berarti mereka sudah sangat bagus. Tapi kita masih punya tantangan-tantangan hari ini, dan yang akan datang juga bisa lebih variatif dan bisa lebih kompleks,” ujarnya.

Dikatakannya, oleh karena itu format one village one CEO yang ada bisa dijalankan dengan baik, maka kades dari masing-masing desa harus memiliki jiwa enterpreneurship selain jiwa kepemimpinan. Apalagi desa merupakan pondasi bagi kemajuan bangsa, seperti pesan yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Pembangunan di desa merupakan pondasi dasar bagi kemajuan bangsa,” ujarnya.

Khofifah juga mengutip ucapan Wakil Presiden pertama RI Bung Hatta. Menurutnya, Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta, tapi akan bercahaya karena lilin-lilin di desa. Sehingga perlu peran penting kepala desa untuk membangun wilayahnya semakin hebat.

“Bung Hatta pun juga melihat desa adalah sebuah kekuatan. Jadi, kepala desa memang harus hebat. kalau tidak hebat enggak ditakdirkan jadi kepala desa karena begitu kuatnya tugas kepala desa,” kata Khofifah.

Kunjungan Wisatawan Meningkat
Menggeliatnya pariwisata di Kabupaten Mojokerto ini mendongkrak kunjungan wisatawan domestik maupun mencanegara. Data kunjungan ini telah dihimpun Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Mojokerto dalam kurun Januari-Agustus 2022.

Kepala Disbudporapar Kabupaten Mojokerto, Norman Handito mengatakan, sebanyak 861.377 wisatawan domestik dan 50 wisatawan mancanegara telah menikmati tempat-tempat wisata di Kabupaten Mojokerto. “Hal itu dilihat dari data kunjungan ke objek wisata di Kabupaten Mojokerto pada bulan Januari-Agustus 2022,” ungkap Norman Handito.

Sektor pariwisata di Kabupaten Mojokerto sendiri paling banyak terletak di Kecamatan Trawas dan Kecamatan Pacet. Dua kecamatan ini paling mendominasi di sektor wisata alam dan wisata buatannya. Norman mengatakan, pada sektor kecamatan, kunjungan wisatawan di Kecamatan Trawas dalam tempo Januari-Agustus 2022 mencapai 100 ribu orang lebih. “Kalau jumlah kunjungan untuk Kecamatan Trawas saja, itu 118.446 orang sepanjang Januari-Agustus 2022,” jelas Norman.

Jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara di Kabupaten Mojokerto sendiri meningkat 100 persen lebih dibandingkan tahun lalu. Tahun 2021 Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto mencatat jumlah wisatawan domestik sebanyak 447.291 orang. Angka ini cenderung turun dibandingkan dengan tahun 2020.

“Jumlah wisatawan domestik dan mancanegara pada tahun 2021 tercatat sebanyak 447.291 orang. Jumlah ini menurun dibandingkan wisatawan tahun 2020 sebanyak 832.330 orang, dikarenakan dampak pandemi,” tulis BPS Kabupaten Mojokerto dalam publikasi statistik di laman resminya. [*]

Tags: