Kethek Ogleng, Tari Legenda Kota 1001 Gua yang Tak Lekang oleh Masa

17-kethek-oglengMadiun, Bhirawa
Tubuh renta itu masih tangkas. Langkah kaki dipadu gerak lincah seakan menepis kenyataan usianya menjelang senja. Di bawah iringan gamelan Jawa yang rancak, Sutiman (70) terus meliuk, berjingkrak, memutar, dan sesekali jungkir balik. Dibalut pakaian serba putih ala sosok wayang Hanoman, Sutiman benar-benar menjelma seekor kera. Itu adalah secuil adegan Tari Kethek Ogleng. Tarian asli Pacitan yang melegenda.
“Sekitar tahun 1962, saya masih petani. Waktu saya sering melihat perilaku kera di hutan. Lalu saya ciptakan tari ini. Lha saya dianggap gila oleh para tetangga,” tutur Sutiman memulai ceritanya kepada detikcom di kediamannya, Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan belum lama ini.
Julukan orang gila tak membuat Sutiman muda patah arang. Cemoohan dan ejekan yang datang bertubi-tubi justru menjadi pelecut semangat untuk terus berkarya. Setahun setelah Tari Kethek Ogleng tercipta, Sutiman berkesempatan tampil pada lomba desa tingkat kabupaten. Mulai saat itu, tarian karya Sutiman makin dikenal dimana-mana. Bahkan tidak jarang, kelompok tari beranggotakan puluhan orang itu diundang tampil di sejumlah acara resmi kenegaraan. “Pernah diminta juga tampil ke provinsi dan pusat,” ucapnya
Di Desa Tokawi sendiri, lanjut Sutiman, Tari Kethek Ogleng sudah melekat dengan tradisi warga. Maklum, pada tahun 60-an wilayah yang berada di perbatasan dengan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah itu tergolong terpencil.
Kehadiran Kethek Ogleng seakan menjadi penyejuk di tengah kehausan masyarakat terhadap hiburan. Seni ini menjadi menu wajib tiap acara hajatan, seperti pernikahan, khitanan, maupun ritual menyambut kelahiran bayi.
Untuk menyempurnakan koreografi Kethek Ogleng seperti saat ini, Sutiman membutuhkan waktu sedikitnya 2 tahun. Selama rentang waktu tersebut popularitasnya terus meluas hingga ke seluruh penjuru wilayah Kota 1001 Gua. Bahkan seni itu juga berkembang hingga wilayah kabupaten tetangga.
5 dasawarsa berlalu, dan Kethek Ogleng makin terpatri kuat di hati tiap insan Pacitan. Hadir menjadi kebanggaan sekaligus bukti kepiawaian seniman asli yang lahir dari dasar ngarai kesunyian alam pedesaan.
Kini Sutiman tak seperkasa dulu. Nafasnya tak cukup kuat untuk menirukan gerakan si kera. Sadar bertambahnya usia tak mungkin dilawan, Sutiman pun menyerahkan tongkat estafet kepada Sukisno, sang menantu.
Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah inilah yang sepenuhnya bertanggung jawab terhadap pengelolaan sanggar seni Krido Wanoro yang dirintis Sutiman.
Dari situlah persoalah hukum bermula. Kendati sejarah mencatat bahwa Tari Kethek Ogleng satu-satunya adalah lahir di Bumi Pacitan, namun ada daerah lain yang mengklaim hak paten atas karya intelektual tersebut.
Sudah pasti, Sutiman dan rakyat Pacitan kecewa. Tapi apa daya, kekecewaan saja tak mampu mengubah keputusan hukum. Bupati Indartato sendiri tidak kuasa menahan kegalauan. “Secara de jure biar saja ada yang mengklaim, tapi de facto budaya itu sudah melekat dengan kehidupan masyarakat Pacitan. Semua pasti tahu itu. Oleh karena itu saya berharap kita bersama dapat mengembangkannya di daerah kita sendiri,” tegas Indartato.
Upaya itu, imbuh Indartato, dinilai lebih utama ketimbang sekadar berkutat dengan kasak-kusuk soal pengakuan. Dia pun berjanji akan mengagendakan masuknya tarian tersebut dalam acara kenegaraan. Ini sebagai wujud kebijakan untuk ikut serta menjadikan Kethek Ogleng sebagai kebanggaan daerah sendiri.
Raga Sutiman memang makin ringkih dimakan usia. Namun tidak begitu dengan karyanya. Roh Kethek Ogleng akan senantiasa hidup seperti bara api nan tak kunjung padam sepanjang zaman. Kethek Ogleng, buah karya putera pertiwi. Lahir dari dedikasi di tengah keterbatasan hingga akhirnya menjadi karya emas yang tak lekang oleh masa. “Kethek Ogleng jangan sampai punah. Eman-eman. Syukur bisa dilestarikan,” katanya berpesan.  [dar]

Tags: