Ketiga Tahfidz MTs NU Sungkem pada Orang Tuanya

Ketiga siswa penghafal Alquran juz 30 saat sungkem kepada orangtuanya masing-masing. [achmad suprayogi]

Sidoarjo, Bhirawa
Setelah berhasil menyelesaikan hafalan Alquran untuk juz 30, ketiga siswa kelas 7 dan 8, yakni Briyan Paudra Alfareza, M Imam Syafi’I dan Nala Sabrina dari MTs Hidayatul Mutaallimin Sawoangkring Wonoayu Sidoarjo melakukan sungkeman, cium tangan dan cium kaki kepada orang tua masing – masing.
Hal itu dilakukan sebagai bentuk sujud kepada orang tuanya karena telah berhasil menghafal juz 30, usai menerima penghargaan sebagai penghafal Alquran dari Lembaga Pendidikan Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Mutaallimiin Wonoayu Sidoarjo.
“Budaya mencium kaki orang tuannya ini merupakan penerapan tradisi sejak dini bagi siswa pengahafal Alquran. Itu sudah dimiliki, tradisi Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama dalam membentuk karakter berakhlakul karimah,” jelas Kepala MTs Hidayatul Muttaallimin, Muh Arifin Ikhwandi, Selasa (14/1) kemarin.
Menurut Arifin, tradisi sungkem kepada orang tua ini terjadi usai ketiga siswa itu menerima penghargaan dari pihak sekolahnya. Sehingga suasana sujud sambil mencium kedua kaki orang tuanya penuh dengan rasa haru dan tangis bahagia bagi orang tua masing – masing.
“Dari 25 siswa, hanya tiga siswa yang telah dinyatakan lulus dalam menghafal Alquran juz 30 oleh pihak sekolah,” pungkas Arifin.
Mereka mengaku sangat bangga dengan predikat sebagai hafidz-hafidzah yang diperoleh oleh anak – anaknya. Mereka umunya tidak menyangka kalau anaknya telah mendapatkan pengahragaan sebagai penghafal Alquran juz 30, karena aktifitas sehari – hari biasa – biasa saja seperti pada anak umumnya.
“Kami sangat senang dengan tradisi yang diterapkan pihak sekolah. Sehingga para siswa yang sudah menjadi penghafal Alquran juga ditanamkan berakhlakul karimah terhadap orangtuanya,” jelas Bambang salah satu orangtua yang hadir.
Bambang menjelaskan, kalau tradisi sungkem kepada orang tua ini sudah diterapkan pihak sekolah dalam sehari – harinya. Termasuk pada saat masuk sekolah hingga pulang sekolah. Karena tradisi ini merupakan budaya Ponpes yang dimiliki NU, sehingga tradisi ini perlu dilestarikan guna membentuk karakter berakhlakul karimah terhadap semua siswa,” harapnya. [ach]

Tags: