Ki Suyanto Pedalang Bersertifikat Profesi

Dr Suyanto SKar MM

Dr Suyanto SKar MM
Menjadi dalang nantinya harus mengikuti sertifikat profesi agar diakui dan memiliki standar kualifikasi. Jika tidak memiliki sertifikat, maka belum ada pengakuan sebagai dalang yang sesuai standar nasional.
“Dalam persaingan global, dalang itu lakunya tidak hanya lokal maupun nasional, bahkan mereka juga bisa ke luar negeri. Sekarang di Eropa, Amerika, dan lainnya sudah menerapkan itu. Kalau dalang tidak memiliki sertifikat maka pendapat mereka disamakan dengan seniman lokal,” ujar salah satu pamong seni pedalangan yang juga seorang pedalang, Dr Suyanto SKar MA.
Menurut Ki Suyanto, seiring perkembangan jaman, seni pedalangan itu sudah fundamental dan universal. Sehingga kini pemerintah juga membuat aturan diantaranya Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKNNI) termasuk kode etik dari seniman pedalang.
“Kini SKNNI sudah selesai dan digedog BNSP, dan 11 hingga 12 November adalah pelatihan kompetensi sertifikasi bagi seniman, tidak hanya dalang,” kata pedalang asli dari Malang, Jatim.
Menilik hal itu, Ki Suyanto yang juga sebagai dosen pengajar seni pedalangan di ISI Surakarta ini turut membekali seni tradisi pedalang, utamanya ketika bergaul dengan masyarakat, di luar lingkungannya apalagi melayani pasar.
Ki Suyanto juga menegaskan, kalau pakem dalam pedalangan itu masih ada saat ini dan sifatnya pegangan dasar bagi pedalang. “Apakah yang Jatim, Jateng, Jogja atau Solo. Pakemnya juga masih terus menjadi pegangan dasar, apalagi bagi calon dalam yang sedang belajar. Pakem tentang seni dalang harus benar – benar dijaga dan jangan merusak pakem,” tegasnya.
Begitupula dengan kode etik pedalang ini, lanjutnya, nantinya juga disesuai dengan budaya lokal masing – masing. ”Tentunya seorang dalang juga akan ada buku kode etik atau instruksi kerja atau SOP. Sehingga semuanya harus tetap terukur,” katanya.
Menanggapi dalang muda yang mulai cemerlang dan hanya mengejar popularitas, Suyatno mengatakan, kesenian hidup bersama kebudayaan masyarakat. Kebudayaan itu juga dinamis sesuai jaman. Sehingga tidak bisa menuduh dalang hanay mengejar kecemerlangan dan popularitas.
Sehingga Ki Suyanto berharap, dalang muda harus tetap selalu belajar mengenai seni pedalangan. Pada akhirnya mereka bisa mendapatkan sertifikasi profesi dimana dalam setiap penampilannya bisa sesuai dengan kode etik.
“Banyak dalang muda yang belum tentu menguasai Bahasa Jawa, apalagi bahasa pedalangan. Dalang melakukan vokal suluk tapi belum mengerti dan lainnya. Untuk itu, pedalang bocah, remaja, maupun muda harus tetap dibekali penguasaan Bahasa Jawa,” ujarnya. [rac]

Tags: