Kisah Cak Sul, Pebonsai Lantana Asal Jombang

Sulistyo atau yang biasa disapa Cak Sul dengan bonsai-bonsai Lantananya di rumahnya di Dusun Tlatah, Desa Kepuhrejo, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. [arif yulianto]

Pengurangan Jam Kerja jadi Motivasi Tekuni Hobi Lama yang Menghasilkan
Kab Jombang, Bhirawa
Adanya kebijakan pengurangan jam kerja di perusahaan tempatnya bekerja akibat pandemi Covid-19, tak membuat Sulistyo, pria asal Dusun Tlatah, Desa Kepuhrejo, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang berdiam diri. Pria 37 tahun yang akrab disapa Cak Sul ini pun kemudian memanfaatkan sejumlah waktu luangnya untuk menekuni hobi lamanya yakni, membuat bonsai dari pohon Lantana atau tembelekan.
Sebelum adanya pengurangan jam kerja akibat pandemi Covid-19 di tempatnya bekerja di sebuah home industri yang memproduksi roti di daerah Surabaya, Cak Sul biasanya bekerja full time dalam 1 bulan. Namun karena perusahaannya juga terimbas pandemi Covid-19, maka ia hanya bekerja 4 hingga 5 hari saja dalam seminggu.
“Sisa waktu itu daripada terbuang, ya cari yang dibonsai dan cepat dapat hasil juga,” kata Cak Sul ditemui di rumahnya, Minggu (13/12).
Hobi membuat bonsai Lantana yang dimiliki sejak tahun 2010 yang lalu itu, kemudian ditekuni kembali pada masa pandemi Covid-19. Alhasil saat ini, Cak Sul pun bisa menjual bonsai-bonsai Lantananya. Terkadang bahkan, dalam 1 bulan, sebanyak 40 hingga 50 batang bonsai Lantana milik Cak Sul terjual. Hal ini merupakan berkah tersendiri bagi Cak Sul di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini.
“Pembeli datang dari Sidoarjo, Tuban, Kediri, Lamongan, Gresik, sampai Jawa Tengah,” ucap Cak Sul.
Bapak 2 orang anak ini mengaku, pembuatan bonsai Lantana relatif cukup cepat. Dari pembuatan awal dengan batang Lantana lokal dan penyambungan pucuk dengan Lantana Mikro yang dibelinya via online, ia mengaku butuh waktu sekitar 1,5 hingga 2 bulan saja, dan bonsai Lantana pun sudah siap dijual. Sementara untuk batang bawah, ia mencari batang/ bonggol Lantana lokal di daerah sekitarnya yang merupakan lereng Gunung Pucangan.
Soal harga, ada 2 jenis tanaman Lantana yang dijual Cak Sul yakni, Lantana untuk taman dan bonsai Lantana. Lantana untuk taman yang sudah jadi dipatok Cak Sul hingga 200 Ribu Rupiah per batang. Sementara untuk bonsai Lantana, harga terpaut 4 kali lebih mahal dari Lantana untuk taman. Pemasarannya sendiri sudah dionline kan oleh Cak Sul.
Rata-rata, para pembeli bonsai Lantana ini kata Cak Sul, tertarik karena warna-warna bunganya. Selain itu, karena saat ini masih jarang ditemui bonsai yang berbahan pohon Lantana. Setidaknya, ada 9 hingga 10 jenis warna bunga bonsai Lantana di tempat Cak Sul. Dan di 1 batang bonsai Lantana ini bisa terdapat beberapa macam warna bunganya.
“Kadang 1 batang 7 warna (bunga) pernah, 8 warna juga pernah. Semakin banyak warna, semakin mahal,” tutur Cak Sul.
Membuat bonsai Lantana menurut Cak Sul, tidak ada kendala yang berarti. Hanya proses perawatan bonsai yang tengah menuju jadi yang butuh perhatian khusus. Jika ada bonsai yang sudah waktunya membuka cungkup (sambungan), namun ia sedang bekerja di Surabaya dan ‘garapan’ di sana sedang ‘rame’, ia pun terpaksa harus mengulangi membuat sambungan lagi.
Untuk pebonsai Lantana, Cak Sul mengaku dirinya merupakan orang pertama di desanya. Saat ini, sudah ada beberapa pebonsai Lantana di desa dan daerah sekitarnya. “Saya dulu belajarnya otodidak,” ucap dia lagi.
Meski begitu, saat awal memiliki hobi membuat bonsai Lantana membuat Cak Sul di bully oleh sebagian orang. Hal ini karena bunga Lantana atau Tembelekan lokal ini memiliki bau yang tidak enak. “Cuma yang Lantana Mikro ini nggak bau, malah bunganya wangi. Dan batangnya nggak ada durinya,” tutur Cak Sul lagi.
Setelah tahu bahwa bonsai Lantana bisa dijual dan menghasilkan uang, cara pandang orang kepada Cak Sul pun berangsur berubah. Bahkan mereka pun akhirnya ikut membuat bonsai Lantana seperti yang dilakukan Cak Sul. “Ikut semua, sampai bonggolnya ini sudah jarang di daerah sini. Sekarang ada ya cuma kecil-kecil,” pungkas Cak Sul. [arif yulianto]

Tags: