Kisah Maimun, Kakek Penjual Alat Rumah Tangga asal Situbondo

Maimun, penjual alat rumah tangga asal Desa Mangaran, Kecamatan Mangaran saat melintas di timur Alun-alun Kota Situbondo. [sawawi]

Meski Penghasilan Kecil, Tetap Gigih Mencari Rejeki Sehari Penuh
Kabupaten Situbondo, Bhirawa
Meski telah tua renta, Maimun pria asal Desa Mangaran, Kecamatan Mangaran, Kabupaten Situbondo tak pernah menyerah dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Bapak dua anak itu setiap pagi harus berkeliling Situbondo, untuk mendapatkan rejeki sebagai penjual alat rumah tangga.
Setiap selesai sholat subuh, Maimun tidak seperti tetangga atau rekan seusianya, pergi ke ladang atau sawah, yang ditekuni sebagian besar warga Desa Mangaran. Maimun, lebih memilih menjadi penjual alat kelengkapan rumah tangga seperti sapu lidi, tempat sampah, skrup dan alat alat dapur yang lain.
“Saya mau kerja di sawah, tetapi tidak punya lahan, mas. Ya terpaksa menekuni pekerjaan ini (menjual kelengkapan alat dapur),” ujar Maimun, saat ditemui di pinggir Jalan Akhmad Jakfar, Kota Situbondo baru-baru ini.
Maimun, setiap usai subuh selalu menyiapkan sepeda ontel kecintaannya. Sepeda kuno itu dia parkir di halaman rumahnya, selanjutnya di bagian belakang di isi sejumlah sapu lidi dan tempat sampah berikut alat kebersihan yang lain. Tak cukup itu, agar barang dagangannya tidak jatuh, Maimun mengikat dengan tali rafia. “Ya setiap pagi saya seperti ini. Sebelum berangkat menjajakan dagangan, saya mempersipakan segala sesuatunya. Termasuk, nasi bungkus dan minuman, untuk sarapan di pinggir jalan,” tegas Maimun.
Setelah semua siap, Maimun mulai mengayuh kendaraan satu satunya yang miliki menuju arah perkotaan Situbondo. Kadangkala saat laris, aku Maimun, baru keluar beberapa kilometer dari rumahnya, sudah ada yang membeli. Sebaliknya, ungkap Maimun, saat sepi, tak satu pun barang dagangannya ada yang laku. “Ya kalau sedang sepi, sabar saja. Mungkin sedang tidak ada rejeki. Saya berdoa, semoga keesokan harinya, bisa laku keras,” tutur Maimun.
Bagi Maimun, meski usianya tidak muda lagi, ia terus bersemangat dalam mencari nafkah. Penghasilan yang dia dapatkan meski sangat minim, tetap ia cintai dan di jalani. Seharian bekerja, kata dia, kadang hanya mendapatkan penghasilan Rp 16 ribu dari pekerjaannya sebagai penjual alat kebutuhan rumah tangga. “Setiap hari saya berkeliling ke setiap desa dan Kota untuk menjajakan barang ini. Ketika letih saya beristirahat di pinggir jalan dan kadang di pinggir sawah. Sesekali juga ngampung beristirahat di rumah kenalan,” aku Maimun seraya mengaku jika mampir rumah warga, biasa di beri kopi dan makan.
Maimun mengaku, penghasilan yang ia dapatkan dari hasil jeri payahnya setiap hari sangat tipis, untuk ukuran hidup jaman saat ini. Dia hanya mendapatkan Rp 16 ribu per hari. Itupun kalau ada dagangan yang laku. Terkadang kalau sedang sial, tidak ada satu warga pun yang membeli. “Ya kalau untung saya dapat Rp 16 ribu. Kalau tidak ada pembeli ya tidak dapat apa-apa. Berjualan seperti saya hasilnya tidak menentu. Kadang dapat rejeki dan kadang sebaliknya,” ulas Maimun.
Bagi Maimun, apa yang ia dapatkan selama sehari bekerja merupakan sebuah ikhtar dan selebihnya ia pasrahkan kepada Sang Ilahi. Dibandingkan hanya merenung sendirian di rumah, ungkap Maimun, ia lebih memilih berusaha untuk mendapatkan rejeki. “Ya tidak apa apa kalau memang tidak mendapatkan rejeki. Daripada tidak berusaha siapa yang mau ngasih rejeki. Yang terpenting, usaha ini saya terus jalani sehingga mendapatkan keuntungan, meski tidak besar,” imbuh kakek tiga cucu itu.
Maimun menambahkan, dagangan yang di bawa setiap hari ada 6 macam. Diantaranya, sebut Maimun, sapu lidi dan sapu lantai yang terbuat dari kulit kelapa, keranjang bambu (tempat sampah), pembuang sampah yang terbuat dari bekas kue dan tampah bambu serta kemoceng. “Sapu lidi ini saya jual Rp 10 ribu. Keranjang bambu dijual Rp 25 ribu, tampah bambu Rp 17 ribu, kemoceng Rp 12 ribu. Namun yang paling banyak laku adalah dagangan sapu lidi dan kemoceng,” jlentreh Maimun.
Suwandi, salah satu pelanggan Maimun mengatakan, ia sering membeli dagangan Maimun untuk di berikan kepada kerabat dan sahabatnya. Terkadang, imbuh Suwandi, barang dagangan itu ia barterkan dengan barang milik teman. Dalam pengamatan Suwandi, kinerja Maimun terbilang rajin dan disiplin saat menjajakan dagangannya. Terbukti hampir setiap hari, Maimun berkeliling menjajakan dagangannya yang sudah dijalani selama puluhan tahun. “Ya dia sangat rajin sekali,” papar Suwandi.
Untuk ukuran saat ini, sambung Suwandi, ia jsangat arang menemukan sosok pria yang sudah sepuh namun tetap rajin mencari rejeki seorang diri. Sifat Maimun yang dikenal rajin bekerja, ungkap Suwandi, patut untuk diteladani. “Ya dia (Maimun) sejak lama sudah dikenal berjualan alat alat rumah tangga. Meski penghasilannya tidak seberapa, ia selalu tekun berkeliling Situbondo,” pungkasnya. [sawawi]

Tags: