Kisah Telaga Buret dan Keangkerannya

Telaga Buret yang berwarna hijau kebiruan sampai saat ini masih menyimpan misteri terkait kedalamannya.

Kelestarian Telaga Terjaga Berkat Cerita Angker dan Mitos di Masyarakat

Kabupaten Tulungagung, Bhirawa
Jika ke Kabupaten Tulungagung sempatkanlah datang ke Telaga Buret. Taman pelestarian lingkungan hidup yang berada di Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat ini bisa jadi jujukan sebagai tempat wisata ekologi. Hawanya sejuk dan bisa melihat hewan kera ekor panjang serta sepasang rusa yang sedang ditangkarkan. Selain juga dapat memandang geliat sejumlah ikan yang berada di telaga berukuran sekitar 40 x 30 meter itu.
Kendati diselimuti keangkeran, Telaga Buret cukup nyaman dijadikan tempat untuk sekedar bersantai di hari libur. Ada 170 jenis pohon tumbuh di tempat seluas 22 hektar dan akan dikembangkan menjadi 60 hektar tersebut. Bahkan jika ingin berkemah sudah ada pula tempatnya.
Menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Telaga Buret, Karsi Nerro Soethamrin, keangkeran Telaga Buret yang mistis justru membuat kawasan yang sekarang setara dengan hutan lindung itu menjadi terjaga. “Sampai sekarang tidak ada yang berani mengganggu kelestarian lingkungan di Telaga Buret. Tidak ada yang berani menebang pohon. Masyarakat sekitar hanya memungut ranting pohon yang jatuh, tidak berani menebang pohon,” katanya.
Keengganan masyarakat menebang pohon ini karena sudah tersebar cerita mistis bagi yang menebang pohon di Telaga Buret akan celaka. “Itu cerita mistis dari nenek moyang,” terang Karsi Nerro, Kamis (16/11).
Pria berambut gondrong penerima Kalpataru dari Presiden Joko Widodo pada 2016 lalu ini menyatakan bersyukur dengan adanya cerita angker dan mitos yang menyelimuti Telaga Buret. Cerita itu efektif untuk menjaga kelestarian Telaga Buret dalam mengaliri areal persawahan di empat desa di Kecamatan Campurdarat. “Kalau sampai lingkungan Telaga Buret tidak terjaga dan banyak penebangan pohon bisa jadi tidak ada lagi air untuk mengaliri sawah di empat desa,” tuturnya.
Karsi Nerro menyebut dengan terjaganya lingkungan di sekitar Telaga Buret, dari dulu sampai sekarang air yang mengalir dari telaga tersebut tidak pernah surut sekalipun musim kemarau. Air dari Telaga Buret tetap mengalir ke areal persawahan milik warga di Desa Sawo, Desa Ngentrong, Desa Gedangan dan Desa Gamping. “Semuanya berkat mitos Mbah Jigang Joyo. Cerita tentang awal mula terjadinya Telaga Buret,” selorohnya.
Diceritakan, awal mula munculnya Telaga Buret, konon ada serombongan penunggang kuda yang dipimpin Jigang Joyo, seorang pejabat Kerajaan Majapahit. Dalam romban itu ada seorang pengiringnya yang menggendong bayi dan bayi itu terus menangis karena kehausan. Melihat keadaan ini Jigong Joyo kemudian menggali tanah hingga muncul mata air. Namun anehnya, mata air itu terus mengalir deras dan membuat telaga. Telaga inilah yang kemudian dikenal dengan nama Telaga Buret dan airnya terus mengaliri empat desa.
Sampai saat ini warga empat desa yang teraliri air dari Telaga Buret setiap tahun menyelenggarakan tradisi ulur-ulur. Tradisi untuk merawat Telaga Buret ini dilakukan dengan cara mengarak dua patung simbol Dewi Sri dan Joko Sedono setelah sebelumnya berziarah ke makam Mbah Jigang Joyo di sisi barat telaga.
Terlepas dari mitos mistis, yang pasti sampai saat ini belum diketahui seberapa dalam Telaga Buret. Belum ada orang yang berani melakukan penyelaman di telaga tersebut. Diduga, di dalam Telaga Buret terdapat pusaran air yang cukup deras dan bisa membahayakan keselamatan penyelam.
Karsi Nerro mengungkapkan dugaan adanya pusaran air di dalam Telaga Buret diperkuat dengan sering munculnya benda seperti balok kayu yang bukan berasal dari lokasi sekitar. Bahkan pohon yang tumbang dan mengarah ke telaga langsung hilang ketika masuk dalam telaga. Seperti ada yang menyedot.
“Sampai sekarang saya tidak tahu dari mana asalnya kayu itu,” ujarnya sambil menunjuk sebatang kayu berukuran cukup besar yang kini teronggok di aliran sungai di bibir Telaga Buret. Karsi Nerro membeberkan sebelumnya kayu tersebut muncul dari dalam Telaga Buret. [Wiwieko DH]

Rate this article!
Tags: