KKP Dorong Jatim Kembangkan Produksi Patin

8-produksi-ikan-patinPemprov, Bhirawa
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pusat terus mendorong beberapa provinsi terutama Jatim untuk meningkatkan produksi ikan patin. Ditargetkan produksi tahun 2014 sebesar 117.840 ton, atau naik dua kali lipat dibandingkan tahun 2013  yaitu sebesar 61.215 ton.
Salah satu alasan KKP pusat agar Jatim dan provinsi lainnya mengembang ikan patin karena ikan dengan nama latin pangasius sebagai komoditas unggulan program percepatan industrialisasi perikanan. Kebutuhan ikan patin terus meningkat tajam. Bahkan untuk kebutuhan perhotelan dan restoran mencapai 100 ton per bulan.
Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi, Anang Noegroho, mengatakan, untuk mendukung produksi fillet Patin, KKP telah membangun Unit Pengolahan Ikan Fillet Patin disejumlah daerah diantaranya Kabupaten Tulungagung, Jatim, Jambi, Karawang dan Purwakarta, serta Banjar. Melalui pengembangan industri pengolahan ikan fillet Patin ini akan berdampak pada penyerapan hasil produksi budidaya ikan patin. Pola ini akan mampu mendukung penyerapan tenaga kerja dan menciptakan industri perikanan yang efisien sehingga mempunyai daya saing, baik di dalam maupun di luar negeri.
“Untuk meningkatkan kualitas Patin, KKP telah melakukan penelitian dan pengembangan teknologi budidaya dan pascapanen agar mutu ikan patin lokal dapat memiliki kualitas yang sama dengan ikan patin impor. Dimana ikan patin dari negara Vietnam dengan kualitas bagus dan harga murah ini tentu menjadi ancaman serius bagi ikan patin lokal. Apabila impor ikan patin terus-menerus dibiarkan, ikan patin lokal akan tidak memiliki daya saing,” kata Anang Noegroho, Senin (7/4).
KKP melalui Permen KP No. 15 Tahun 2011, telah melakukan pengendalian terhadap impor produk ikan fillet patin. Dengan kebijakan ini, diharapkan industri ikan patin lokal menjadi bergairah dan segmentasi pasar ikan patin yang selama ini diisi  patin impor dapat dipasok para pembudidaya dan industri pengolahan ikan fillet patin dalam negeri.
Sementara itu, perkembangan bisnis produk perikanan nonkonsumsi mengalami perkembangan cukup pesat. Secara ekonomi, bisnis perikanan nonkomsumsi  memiliki prospek yang menjanjikan. KKP mencatat nilai perdagangan produk perikanan nonkonsumsi sebesar Rp1,4 triliun  pada tahun 2012 dari target sebesar Rp1 triliun.
Pada tahun 2013, dari target Rp1,5 triliun yang ditetapkan KKP, kembali meningkat hingga Rp1,789 triliun atau naik 119%. Nilai perdagangan terbesar pada tahun 2013 untuk produk nonkonsumsi yang ditangani Direktorat Pengembangan Produk, Ditjen P2HP adalah ikan hias, yakni senilai Rp819 miliar atau mencapai 46%. Kemudian disusul produk tepung ikan Rp 611 miliar atau mencapai 34%, serta rumput laut nonkonsumsi dengan nilai sebesar  Rp74 miliar  atau 4 %.
Ikan hias merupakan salah satu komoditas andalan mengingat pasar internasional yang prospektif dan potensi sumber daya yang melimpah.     Dari sisi suplai, perkembangan produksi ikan hias cukup menggembirakan dengan trend produksi yang terus meningkat. Data Ditjen Perikanan Budidaya,  produksi budidaya ikan hias tahun 2012 mencapai 938 juta ekor. Tahun 2013, produksi ikan hias meningkat 1,04 miliar ekor. Wilayah produksi ikan hias tersebar di 18 Propinsi, dengan sentra budidaya terdapat di Jatim, Jabar, DKI Jakarta, Banten dan Yogyakarta.
Untuk mendukung pengembangan ikan hias menuju industrialisasi, KKP telah menciptakan iklim usaha yang baik melalui penguatan sistem akuabisnis mulai dari hulu (budidaya dan penangkapan) hingga hilir (penanganan dan pemasaran).  Kedua, menciptakan pola kemitraan yang sehat antara pelaku usaha, pembudidaya, supplier, pemasar, hobiis dan eksportir.
KKP juga meningkatkan peran stakeholder ikan hias untuk mewujudkan Industrialisasi Ikan Hias yang berdaya saing melalui implementasi enam strategi, Diantaranya, perbaikan mutu  ikan hias dan diversifikasi produk dan pasar tujuan ekspor. Ketiga, fasilitasi sarana dan prasarana penanganan, pengolahan dan pemasaran. Ke empat, standardisasi dan sertifikasi produk. “KKP juga telah melakukan pembinaan UMKM dan Industri serta penguatan promosi dan jaringan pemasaran ikan hias,” katanya. [rac]

Tahun 2012 produksi budidaya ikan hias mencapai 938 juta ekor.
Tahun 2013 produksi ikan hias meningkat 1,04 miliar ekor
Wilayah produksi ikan hias tersebar di 18 Propinsi, dengan sentra budidaya terdapat di Jatim, Jabar, DKI Jakarta, Banten dan Yogyakarta.
Data Ditjen Perikanan Budidaya KKP RI

Tags: