Klaim BPJS di RSUD Waluyo Jati Probolinggo Nunggak Rp12,5 Miliar

Walau jasa medisnya tertahan karyawan RSUD Waluyo Jati tetap semangat.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Probolinggo, Bhirawa
Macetnya pencairan klaim BPJS Kesehatan di RSUD Waluyo Jati Kraksaan, membuat pembayaran jasa medis di rumah sakit itu tak terbayarkan. Manajemen melakukan hal itu sebagai salah satu strategi agar bisa bertahan.
Ya, manajemen RSUD Waluyo Jati menunda pembayaran jasa medis pada para dokter dan tenaga medis lainnya. Pembayaran jasa medis akan diberikan setelah tunggakan klaim BPJS terbayarkan dan kembali normal. “Alhamdulillah, tenaga medis kami semua memahami kondisinya. Sehingga, jasa medis belum bisa dibayarkan untuk sementara,” terang Direktur RSUD Waluyo Jati Kraksaan dr. Mansur, Senin [3/2/2020].
Cara itu dilakukan agar pelayanan kesehatan pada masyarakat tetap berjalan. Artinya, pelayanan tidak mengurangi standar. Dan di sisi lain, pihaknya terus berusaha mengendalikan sejumlah biaya. Seperti, pemakaian listrik, air, dan obat-obatan.
Tidak hanya itu. Manajemen juga minta pembayaran pendistribusian obat-obatan dijadwal ulang. Pihaknya mengumpulkan sekitar 30 rekanan distributor obat-obatan untuk menjadwal ulang pembayaran.
Sebelumnya, membeli obat harus dibayar dalam waktu sebulan. Karena piutang RSUD yang menumpuk, manajemen minta pembayaran dua bulan berikutnya. “Kondisi ini nasional, termasuk di sini,” ujarnya.
Kondisi keuangan BPJS Kesehatan Kabupaten Probolinggo belum juga stabil. Di tahun 2019, BPJS masih menunggak utang klaim pada RSUD Waluyo Jati Kraksaan. Jumlahnya pun cukup besar, yaitu Rp 12,5 miliar.
Jumlah itu adalah klaim yang belum terbayarkan untuk waktu 3 bulan. Yaitu, bulan Oktober, November, dan Desember 2019. Belum lagi, klaim bulan Januari 2020 yang akan diajukan RSUD Waluyo Jati pada 10 Februari, katanya.
Diperkirakan, tiap bulannya pengajuan klaim BPJS Kesehatan dari RSUD Waluyo Jati sekitar Rp 4 miliar. Artinya, tunggakan klaim BPJS Kesehatan bisa mencapai sekitar Rp 16 Miliar.
Lebih lanjut dr. Mansur mengatakan, sudah tiga bulan pengajuan klaim pada BPJS Kesehatan tidak cair. Yaitu, untuk bulan Oktober, November, dan Desember 2019. “Pengajuan klaim BPJS Kesehatan yang sudah dicairkan hanya sampai September. Sesudah bulan itu, belum cair klaimnya” tuturnya.
Mansur mengungkapkan, kondisi pencairan klaim BPJS kesehatan terhambat sesudah pertengahan tahun 2019. Bahkan, sempat tunggakan klaim BPJS Kesehatan sampai 4 bulan tak terbayarkan. Sehingga, piutang RSUD Waluyo Jati mencapai Rp 16 miliar.
“Pencairan terakhir klaim BPJS Kesehatan itu akhir tahum 2019. Yaitu untuk klaim bulan September,” terangnya. Mansur mengaku, tidak mengetahui pasti kapan rencana pencairan klaim BPJS itu. Mengingat, dari pihak BPJS sendiri tidak menjanjikan pencairan klaim karena tergantung dari pusat.
“Kondisi itu sepertinya sama dengan daerah lain. Semoga saja pengajuan klaim bisa dicairkan semua,” harapnya.
Muhammad Chairul Sholeh selaku Kepala Cabang BPJS Kabupaten Probolinggo belum dapat dikonfirmasi. Saat dihubungi via telepon, tak kunjung diangkat.(Wap)

Tags: