Kolaborasi Unusa, Unicef dan Pemprov Dukung Generasi Bebas Wasting

Cara mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA) pada 1000 balita secara serentak.

Surabaya, Bhirawa
Gizi buruk dan gizi kurang (wasting) masih menjadi perhatian serius pemerintah. Pasalnya bagi anak yang terkena gizi buruk atau gizi kurang masalah yang muncul akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan, sehingga anak wasting berisiko tigakali lebih tinggi menjadi stunting dibandingkan anak dengan gizi baik.

Untuk itu Pemerintah Provinsi Jatim bersama Unicef dan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) berupaya mengatasi stunting dengan mencegah peningkatan balita yang mengalami wasting.

Kepala Seksi Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jatim, Waritsah Sukarjiyah, mengungkapkan berdasarkan data Studi Status Gizi Balita di Indonesia (SSGBI) Tahun 2019 dan 2022, prevalensi wasting di Provinsi Jawa Timur mengalami sedikit penurunan dari 9,2 persen pada tahun 2019 menjadi 7,2 persen pada tahun 2022.

Sedangkan untuk prevalensi stunting Jatim tahun 2023 berada di angka 17,7 persen. Dan di tahun 2024 ini, Jatim menargetkan prevalensi stunting bisa turun di angka 14 persen.

“Beberapa upaya sudah dilakukan kemarin, kami juga melakukan rapat koordinasi tim percepatan penurunan stunting, kita berupaya bagaimana secepat mungkin target itu tercapai,” katanya dalam roadhow “Ayo Cegah dan Obati Wasting Biar Ga Stunting” di Unusa, Rabu (15/5). Selain itu, kolaborasi dengan Unicef dan Unusa diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang wasting atau kekurangan gizi akut.

“Kami juga berupaya meningkatkan partisipasi aktif anggota masyarakat khususnya dari organisasi berbasis agama, untuk berperan aktif dalam deteksi dini dan rujukan tepat waktu bagi anak-anak yang menderita wasting,”lanjutnya.

Ia mengatakan, saat ini Dinkes berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat penurunan stunting, yakni selain dengan Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga dengan Unicef organisasi perlindungan anak. Tahun ini, kata dia, Unicef juga punya program penguatan dan pendampingan terhadap ibu hamil.

Langkah itu menurutnya, akan menjadi upaya bagus untuk mencapai target.

“Kalau sebelumnya ada pemberian tablet tambah darah bagi ibu hamil, nantinya juga ada program baru dari Kemenkes, yaitu pemberian multinutrien suplemen. Nanti InsyaAllah akan dibarengkan dengan program Unicef,” tuturnya.

Pihaknya memastikan, 38 Kabupaten Kota di Jatim nanti, akan mendapatkan Multinutrien Suplemen semua untuk memastikan program percepatan penurunan stunting berjalan sesuai rencana.

“Dari Unicef akan mendampingi tiga Kabupaten, yaitu kabupaten Lumajang, Bondowoso dan Kediri. Mudah-mudahan ini akan lebih cepat lagi untuk mempercepat penurunan stunting,” ujarnya.

Tiga Kabupaten yang didampingi oleh Kemenkes dan Unicef tersebut, lanjutnya, merupakan Kabupaten dengan indikator ibu hamil terbanyak saat ini, sehingga perlu pendampingan yang lebih.

“Kebetulan juga program multinutrien suplemen ini sudah berlangsung. Sudah ada penelitian uji coba dari Kemenkes tahun lalu di dua kabupaten, yaitu Pasuruan dan Nganjuk,” ungkapnya.

Rektor Unusa, Prof Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng., mengungkapkan rasa terima kasihnya karena Unusa kembali dipercaya UNICEF untuk bekerjasama dan mendukung upaya penurunan angka wasting di Jawa Timur.

“Kami sebagai institusi pendidikan sangat berbangga dapat terlibat dalam kerjasama upaya penurunan wasting ini. Dan kami akan selalu turut serta dalam merealisasikan program-program kerjasama ini, utamanya pada mahasiswa yang kami upayakan untuk selalu bisa terlibat mengambil peran dalam pelayanan kepada masyarakat,” ucapnya pada sambutan yang disampaikan.

Ketua Tim Kerja Balita dan Anak Pra-sekolah Direktorat Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan, Yunita Restu Safitri S.Kep. MKM., mengungkapkan permasalahan gizi kurang dan gizi buruk pada balita dapat membawa dampak buruk pada pembangunan sumber daya manusia. Hal tersebut dapat menghambat upaya pemerintah dalam rangka mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.

“Indonesia punya target menurunkan prevalensi stunting sampai 14 persen di tahun 2024. Solusi akan wasting dan stunting perlu merujuk sedini mungkin, melakukan percepatan penurunan stunting, meningkatkan kesadaran orang tua, dan pemantauan rutin dari posyandu. Dan kita perlu berikan pemahaman itu,” ujarnya.

Ditambahkannya, penerapan solusi pada kasus gizi balita membutuhkan dukungan tidak hanya pada sektor kesehatan, melainkan organisasi wanita dan anak. Pemberdayaan masyarakat melalui program-program kesehatan berbasis komunitas juga menjadi salah satu strategi penurunan kasus wasting.

“Kehadiran 101 Ning dalam acara ini menjadi kegiatan pendeklarasian pertama terhadap upaya penanganan wasting. Dengan mengundang para Ning, diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan informasi dan edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang untuk anak-anak,” tukasnya.

Pada acara ini juga dilakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) pada 1000 balita secara serentak, yang berhasil memecahkan rekor MURI sebagai pengukuran LILA terbanyak dan serentak. Hal ini bukan hanya sebuah pencapaian simbolis, tetapi juga upaya nyata dalam mengumpulkan data dan upaya langsung untuk intervensi gizi lebih lanjut.

Sementara itu, Chief Field Office Unicef di Surabaya, Arie Rukmantara mengatakan dengan kolaborasi yang masif, menurutnya, minimal akan ada dua dampak, yakni kuatnya kerja sama dan kuatnya revitalisasi posyandu dalam upaya penurunan wasting dan stunting.

“Bagi kami, satu anak stunting, satu anak wasting itu tidak boleh. Jadi, kami hadir untuk seluruh anak. Jadi Kabupaten Kota yang kita bantu bukan karena besar atau kecil, tapi satu pun tidak boleh ada yang wasting atau stunting. Kita melihat bagaimana cara mempraktekkan dengan cara terbaik,” ucapnya. [ina.why]

Tags: