Komisi B Bawa Keluhan Petani Susu Segar

Surabaya, Bhirawa
Komisi B DPRD Jatim meminta perusahan pengolah susu PT Nestle untuk mempertimbangkan harga susu yang dibeli di petani susu untuk dinaikkan agar semakin membantu pendapatan petani susu di masa Pandemi ini.

Inilah salah satu cuplikan pernyataan Wakil Ketua Komisi B DPRD Jatim Amar Saefudin saat memimpin rombongan komisi B melakukan kunjungan kerja ke PT Nestle Indonesia di Kejayan Pasuruan Jawa Timur.

Diterima sejumlah Direksi PT Nestle dan didampingi Kepala Dinas Peternakan Pemprov Jatim, Drh Wemy Niamawati, juga Ikut hadir dalam kunjungan tersebut, wakil ketua komisi B DPRD Jatim dari FPPP M Mahdi, serta anggota komisi B lainnya Go Tjong Ping, Rohani siswanto, Daniel Rohi, Erma Susanti, Dr Agung Mulyono , Ufiq Zuroida, Prayana Yudha , Mirsa Ananta, Dwi Hari cahyono, Achmad Amir Aslichin, Ahmad Iwan Zunaih.

“Kami membawa pesan dan keluhan dari para petani susu. Minta tolong disampaikan mbok ya harga susu ke petaninya bisa naik tidak lagi 5500, tapi dinaikkanlah,” kata Amar menyampaikan tujuan komisi bidang ekonomi atas kedatangannya ke Pabrik Nestle, Jum’at (18/7).

Selain itu kata Amar Komisinya juga menyampaikan agar kemitraan bisa ditingkatkan agar langkah kerjasama yang selama ini terjalin makin meningkatkan kesejahteraan peternak dan petani susu.

“Kita sangat apresiasi atas kemitraan yang sudah dilakukan, yang dilakukan oleh Nestle sehigga petani susu makin hari makin baik ekonominya. Namun Sebagai wakil rakyat tentu kami berharap seperti yang dititipkan ke kami agar kemitraan dengan petani susu bisa ditingkatkan lagi,” ungkap Politisi PAN ini.

Sementara itu Daniel Rohi, mengatakan keluhan para petani susu ini adalah hal yang wajar mengingat dimasa pandemi ini banyak komponen ternak yang naik. Dari kunjungan ke peternak sapi perah, kata dia, semuanya mengeluh.

“Bahwa saat ini biaya untuk peternak juga mengalami kenaikan. Jadi wajar kalau pesan ini harus kami sampaikan kepada pihak Nestle yang selama ini membeli susu dari peternak yang berharap harga susunya bisa dinaikkan. Jangan landai landai saja tapi sewaktu waktu ada kejutan kenaikan harga lah,” ungkap Daniel.

Sedang Erma Susanti kolega Daniel anggota komisi B dari PDIP menilai perlu adanya elemen elemen baik secara produksi atau transportasi dari petani ke pabrik yang bisa diefisiensikan agar harga ke petani bisa naik dari 5500 menjadi lebih tinggi.

“Kalau memang bisa kita berharap ada dari unsur unsur produksi dan transportasi yang bisa diefisiensikan sehingga harganya bisa dinaikkan,” kata Erma.

Mendapat keluhan tersebut Debora R Tjandrakusuma Corporate Affairs Derictor Mesti menegaskan bahwa saat ini susu segar petani sampai ke pabrik dihargai sebesar Rp6000,- dan harga ini adalah rate dalam kondisi apapun.

“Ada beberapa pola yang kita lakukan agar para petani susu ini tetap bisa stabil usahanya. Misal saat harga susu dipasaran turun, kita tidak ikutan menurunkan, tapi tetap membeli dengan harga yang sebelumnya. selain itu kita juga ajak mereka menaikkan hasil produksinya. Misalnya biasanya perhari cuman 10 liter kita dorong untuk memproduksi hingga 13 liter sehingga penghasilan juga meningkat,” kata wanita yang sudah bergabung di Nestle sejak 1984 ini.

Kemitraan ini kata Debora tidak hanya terkait hasil susu, Nestle juga memberi bantuan untuk pengolahan limbah dan sampah dari sapi. Pihaknya juga bantu untuk pemanfaatan biogas untuk memasak, pemanfatan pupuk untuk petani bisa manfaatin menanam sayuran.

“Sehingga lingkungan tetap bersih hijau dan baunya tidak mengganggu lingkungan. sekaligus menghemat juga untuk biaya memasak dan belanja. Belum lagi bantuan dana untuk membeli alat alat untuk pakan ternak seperti alat potong rumput pakan ternak yang nantinya dikembalikan secara mencicil dengan waktu terrentu, juga alat pendingin susu yang masuk kandang agar susu lebih fresh. Serta sinergi tehnologi sederhana untuk mendukung peternakan sapi perah yang simple, terjangkau , provitable,” kata Deborah lagi.

Terkait sutuasi Pandemi Covid, lanjut Debora tidak berpengaruh pada pembelian susu dari petani. Pihak Nestle tetap menampung 9000 ton susu 24 jam dari peternak tanpa henti, “Saat covid kami tidak mengurangi pasokan susu, sehingga petani susu tidak terpengaruh oleh Covid,” terangnya.

Namun hanya ada tambahan protokol kesehatan untuk proses pembawa susu yang masuk pabrik. Dari data yang ada Januari kita menampung 624 ton, sekarang malah 700 ton.

Terkait usulan kenaikan harga beli susu sesuai harapan petani, tetap jadi masukan buat kami untuk nantinya jadi pertimbangan kedepan,” pungkasnya.

Dari kunjungan ini Komisi B menilai potensi ternak sapi perah sangat besar, sehingga butuh kebijakan dari pemprov untuk menjadikan peluang ini sebagai pendongkrak ekonomi Jatim,

“Saat Pakde Karwo kita pernah import bibit sapi perah dari Australia. Kalau melihat peluang yang besar ini, Komisi B merkomendasikan nantinya bisa dibuat regulasi import sapi lagi. Apalagi saat ini dari 287149 sapi perah Jatim mampu memasok 67% susu nasional dipasok Jatim. Bahkan pabrikan luar Jatim juga ambil bahan susu dari Jatim. Maka sangat layak untuk nanti dikembangkan untuk mendongkrak perekonomian Jatim,” pungkasnya.n [geh]

Tags: