Komunitas Surabaya Berkolaborasi Menyusun Ensiklopedia Sejarah dan Budaya

Surabaya, Bhirawa.
Literasi, mencatat dan menuliskan segala tradisi yang ada di masyarakat, sangat bermanfaat untuk pembelajaran. Terlebih di tengah arus globalisasi saat ini.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya, Komunitas Begandring dan Roode Brug berkolaborasi menyusun ensiklopedia sejarah dan budaya. Hal ini disampaikan dalam, Lokakarya Penulisan Konten Ensiklopedia Objek Pemajuan Kebudayaan di Hotel Novotel, Sabtu (4/12).

“Surabaya memiliki sedekah bumi, gulat okol, jula-juli dan masih banyak lagi. Jangan sampai modernisasi, membuat budaya tersebut luntur,” kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya, Ir. Musdiq Ali Suhudi, MT.

Ia juga menyampaikan, ide tersebut lahir dari diskusi bersama antara akademisi, komunitas pegiat sejarah dan dinas terkait. Dimana potensi kekayaan budaya Arek Suroboyo sangat bermanfaat sebagai media pembelajaran.

Selain itu, kegiatan ini merupakan bagian dari program Gerakan Literasi Nasional Kemendikbud, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, serta UU Cagar Budaya No.11 Tahun 2010. Yang salah satu tujuannya, mendorong ketahanan budaya agar lebih kompetitif menghadapi globalisasi dan pengaruh budaya asing, serta revitalisasi warisan budaya baik benda bergerak dan tidak bergerak.

Sebagai salah satu stake holder gerakan literasi kebudayaan, Dispusip telah melakukan inovasi gerakan literasi. Seperti virtual tour, Taman Kalimas dan e-TBM yang sudah dimanfaatkan oleh publik Surabaya.

“Dispusip sebagai sumber informasi melakukan berbagai upaya untuk menginventarisasi, mendokumentasikan dan mempublikasikan kekayaan budaya yang ada di Surabaya, agar bisa dinikmati dan sekaligus dijadikan bahan edukasi masyarakat. Sebab itu, diperlukan pengolahan manfaat teknologi informasi media sosial  yang ada,” jelasnya.

Sedang Prof. Purnawan Basundoro, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga dalam sambutannya menyampaikan pentingnya kolaborasi dalam pengumpulan dan penyusunan ensiklopedia tersebut.

“Melakukan inventarisasi, lalu menuliskannya sebagai bahan pembelajaran itu bukan pekerjaan ringan. Butuh inisiatif dan kerja sama banyak pihak. Kami mendorong pemerintah kota serta komunitas dan siapa saja untuk ikut bergiat bersama,” ungkap Guru Besar Ilmu Sejarah tersebut.

Mengingat pentingnya upaya pengumpulan dan penyusunan data. Maka peran komunitas dari berbagai pihak akademisi, pekerja seni budaya, pemerintah, media dan industri sangat dibutuhkan sebagai ekosistem budaya. (hel).

Tags: