Konferensi Internasional FK-Fikes Kaji Pandemi dan Pembangunan Berkelanjutan

Malang, Bhirawa
Event internasional kembali dihelat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kolaborasi antara Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) diwujudkan melalui International Conference on Medical and Health Science (ICMedH). Menariknya, konferensi ini juga mengkaji tema Community Health: Addresing the Impact of Covid-19 on the Sustainable Development Goals.
Menurut Ketua Pelaksana, dr Yoyok Subagyo, akhir pekan kemarin, konferensi internasional ini merupakan gelaran kolaborasi pertama yang digelar FK dan Fikes UMM. Menurutnya, dua tahun belakangan menjadi masa – masa yang sulit. Termasuk bagi dunia kedokteran dan medis dalam menghadapi Covid 19. Banyak warga dan tenaga kesehatan yang menjadi korban dari virus mematikan ini.
“Kami menilai pandemi telah mengubah sejumlah kebiasaan manusia. Namun tidak mengubah usaha untuk terus melakukan penelitian dan menyusun paper berkualitas yang bermanfaat secara luas,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor I UMM, Prof Dr Syamsul Arifin MSi, menyebut Konferensi Internasional ini menghadirkan para peneliti yang telah menghasilkan berbagai artikel menarik dan terbaik. Mereka akan membahas banyak aspek baik dari segi preventif, kuratif serta rehabilitasi terkait Covid 19.
Prof Syamsul berharap, kegiatan ini dapat menjadi event tahunan serta membentuk forum menarik untuk berdiskusi. Utamanya dalam aspek kedokteran dan kesehatan. Ia juga ingin agar konferensi ini dapat menghasilkan publikasi yang lebih luas dan mampu memberikan dampak baik bagi sekitar.
“Lebih luas lagi yakni bisa diimplementasikan dan diterapkan di kediaman dan negara para peserta masing-masing. Saya yakin bahwa agenda ini merupakan langkah nyata yang kita ambil dalam upaya mengembangkan penelitian di bidang kedokteran dan kesehatan,” katanya.
Ryuichi Sawa PhD dari Juntendo University Jepang salah satu pembicara menjelaskan, mengenai Jepang sebagai negara dengan usia tua yang besar dan Covid 19. Ryuichi mengatakan, per September 2021 persentase orang yang berusia lebih dari 65 tahun telah mencapai 29,1% di Jepang. Menurutnya, keadaan itu juga menjadi tantangan tersendiri, apalagi di tengah pandemi.
Ryuichi menjelaskan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi disabilitas dan usia lemah di tengah pandemi, khusunya di Jepang. Peningkatan partisipasi sosial menjadi hal yang sangat dibutuhkan. Kegiatan fisik juga perlu digalakkan dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat. Meski begitu, ia masih menekankan akan pentingnya menjaga jarak satu sama lain agar penularan covid-19 bisa tetap ditekan.
“Ditambah dengan meminimalisir kegiatan di luar dan tetap berada di dalam rumah,” tegasnya.
Disamping itu, pemanfaatan teknologi digital harus dimaksimalkan. Ia memberi contoh aplikasi online Kayoinoba yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Jepang. Dalam platform ini, masyarakat dapat menemukan fitur cek kesehatan, program olahraga dan latihan kognitif. Bahkan juga menyediakan rekomendasi rute untuk jalan kaki agar tetap aman.
Selain Ryuichi, ICMedH juga menghadirkan pembicara ahli lainnya. Diantaranya Dr Nazrila Haiziran Nashir dari Kementerian Kesehatan Malaysia dan Prof Yi Hua Chen PhD dari TMU Taiwan. UMM juga meramaikan diskusi dengan hadirnya dua pembicara lain yakni Dr Febri Endra Budi dan Dr Tri Lestari Handayani. [mut]

Tags: