KONI Pusat Puji Program Tali Asih Mantan Atlet yang Digelar KONI Jatim

Ketua Umum KONI Jatim, Erlangga Satriagung bersama Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman dan Wakil Ketua Umum KONI Suwarno bersama atlet yang menerima tali asih. [wawan triyanto]

Surabaya, Bhirawa
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jatim kembali memberikan tali asih kepada mantan atlet Jatim yang berhasil meraih prestasi. Pada kesempatan itu juga digelar acara workshop dengan tema ‘Menata Strategi Meraih Juara di PON 2024’. Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman yang juga hadir diacara itu.
Untuk tahun ini sebanyak 14 mantan atlet yang pernah berprestasi dan mengharumkan nama Jatim dan Indonesia mendapat tali asih dari KONI Jatim. Jumlah penerima apresiasi yang dihelat di Hotel Wyndham Surabaya City Centre, Kamis (2/12) kemarin, itu lebih banyak dibanding periode yang sama tahun lalu.
Program Tali Asih yang dijalankan KONI Jatim ini merupakan amanat dari Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Bahkan, pemberian apresiasi kepada para mantan atlet Jatim yang berprestasi di tingkat nasional maupun internasional tersebut, bukan kali pertama dilakukan KONI Jatim.
Dalam beberapa kali kesempatan, KONI Jatim selalu berupaya untuk tidak melupakan jasa mantan atlet yang pernah mengharumkan nama Jatim dan Indonesia. Program ini mendapat sambutan positif dari Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman.
“Salut dan bangga karena KONI Jatim tidak melupakan jasa para mantan atlet yang berprestasi. Kita (beri) apresiasi kepada mantan atlet berprestasi atas jasa di masa lalu yang buat Jatim bangga. Karena prestasinya baik itu tinju, sepakbola, atletik, serta balap sepeda khususnya sering juara,” puji Marciano.
Sementara itu, Ketua Umum KONI Jatim Erlangga Satriagung mengatakan program ini selalu digelar setiap tahun. Mantan atlet aeromodeling ini menambahkan jika apresiasi juga diberikan kepada para atlet yang masih aktif. ”Setiap tahun kita selalu memberikan tali asih kepada mantan atlet yang berprestasi. Mereka adalah pahlawan olahraga yang tidak boleh dilupakan karena masa kejayaannya selesai,” beber Erlangga.
Selain itu, ini juga tahun ketiga memberikan beasiswa penuh kepada atlet berpretasi sampai S3 (Strata-3) yang ditanggung negara melalui KONI. Sesuai amanat gubernur jangan sampai pendidikan atlet terbengkalai.
Dengan pemberiaan tali asih ini, semoga bisa memberi manfaat kepada para mantan atlet. Harapan serupa juga digaungkan untuk para atlet yang masih aktif. Jangan sampai para atlet dimanfaatkan pada saat berjaya, dan dilepas begitu saja pada saat mereka selesai menjadi atlet.
Ke 14 atlet yang menerima tali asih adalah Musiamin (atletik) peraih medali perak di PON Palembang dan perunggu di PON Kaltim, Abdurrahman bin Semir (atletik) peraih emas POM ASEAN 1985 dan perunggu di PON XIV 1996, Edi Zakaria (atletik) pernah berlari di lintasan Olimpiade Athena 2004, Edi adalah langganan medali emas lari gawang 110 M. Sepanjang 12 tahun sejak PON 2004, di tiga kali perhelatan PON, ia terus jadi yang tercepat di nomor lari 110 m gawang putra.
Kemudian Esther Suma (atletik) emas dari nomor 800 meter di SEA Games Singapura 1993 dan Jakarta 1997. Bahkan, rekor nasional lari 800 meter putri masih atas nama Esther dan belum terpecahkan sejak 1993 sampai sekarang. Eko Bayu Nurhidayat (balap sepeda) meraih emas PON Riau 2012, emas PON Jabar, perunggu di SEA Games Malaysia 2017. Kaswanto (balap sepeda) emas di SEA Games 2003 Vietnam, perak PON Kaltim dan emas di PON Jabar. Supono (tinju) juara Asia kelas terbang mini 49 kg pada 1987.
Setelah itu Tutut Nugroho (tenis lapangan) emas SEA Games XII tahun 1983 di Singapura dan perunggu PON 1985, Suyitno (balap sepeda) tiga emas PON 2000, juara stage di Tour de Langkawi Malaysia tahun 2000, dan juara kedua kejuaraan balap sepeda Jelajah Malaysia 2000. Dua medali emas SEA Games XXI/2001 di Kuala Lumpur, Malaysia. Hadi Sukirno (tinju)The Best Fighter di Piala Wali Kota Malang 1981. Juara kelas Bantam di Piala Menpora dan kembali menjadi petinju terbaik, perunggu di Roma Italia.
Kemudian Mashudi (bola voli) pelatih yang berhasil meraih juara di beberapa event dan dari tangan dinginnya lahir pebola voli berbakat dari Jatim. Dian Novita Sari (panjat tebing) perak boulder dan lead di Asian Youth Cup di Bali, dua tahun berikutnya Dian memperbaiki prestasi dengan meraih medali emas Boulder Perorangan. Emas PON Riau dan perak PON Jabar.
Pesebak bola Wayan Diana berhasil menyatukan gelar kompetisi Perserikatan (Persebaya) dan Galatama (Niac Mitra) dalam karirnya. I Wayan Diana adalah satu dari sedikit yang bisa meraih dua gelar prestisius di era 70an sampai 80an tersebut. Juara Aga Khan Gold Cup tahun 1979 di Bangladesh setelah di final mengalahkan timnas Korea Selatan.
Herihono (pencak silat) emas PON Palembang, PON Kaltim dan PON Riau 2012, perunggu di SEA Games Manila, Filipina 2005, emas Belgia Open Championship 2007, medali perak The 13 World Silat Championship Pahang Malaysia 2007 dan juara 3 World Championship 2010 Jakarta dan emas di event Sebelas Maret International Pencak Silat Championship solo 2012. [wwn]

Tags: