Kontradiksi Islam dan Terorisme

Oleh :
Joko Yuliyanto
Penggagas Komunitas Seniman NU. Penulis buku dan naskah drama. Aktif menulis opini di media daring dan luring.

Pembahasan terorisme tidak pernah ada ujung pangkalnya. Mulai dari difinisi hingga aktualisasi dari terorisme itu sendiri. Terorisme merupakan masalah moral yang bertentangan dengan sisi kemanusiaan dan keagamaan. Menurut Richard Falk (1988), terorisme adalah setiap tindakan kekerasan politik yang tidak memiliki justifikasi moral dan hukum, baik itu yang dilakukan oleh kelompok revolusioner maupun pemerintah atau negara.

Perilaku teror sangat kontradiktif dengan agama, khususnya agama Islam yang mengusung nilai kemanusiaan universal. Islam mengajarkan umatnya untuk berjuang menegakkan keadilan, perdamaian, dan kehormatan tanpa kekerasan atau terorisme. Kunci utama penegakan agama Islam adalah mewujudkan keadilan yang dirasakan oleh setiap manusia di muka bumi.

Melakatnya pelaku terorisme yang mayoritas dilakukan orang Islam tidak bisa disimpulkan bahwa Islam melegalkan tindakan terorisme. Muslim adalah sebuah kesatuan kelompok, bukan individu. Memang ada kewajiban untuk menegakkan kebajikan dan melawan kemungkaran, tapi tidak dengan terorisme yang cenderung bertendensi perilaku kriminal.

Narasi jihad yang dimaksud dalam Alquran bukan dengan perilaku agresif (menyerang) kelompok yang dianggap berbuat zalim, melainkan tindakan defensif (membela diri). Namun konsep jihad kadung dianggap sebagai perilaku terorisme oleh dunia Barat. Padahal dalam konsep agama Islam, jihad mempunyai pengertian yang sangat luas.

Pertama, jihad akbar dengan melawan hawa nafsu. Kedua, jihad asghar dengan melawan musuh-musuh Islam. Lebih sederhana lagi, jihad adalah perilaku seorang muslim untuk berbuat kebaikan apapun yang diniatkan kepada Allah Swt. Penilaian jihad asghar yang relevan saat ini adalah perjuangan muslim di Palestina melawan Israel. Sedangkan dalam histori kemerdekaan adalah seruan Revolusi Jihad yang diusung oleh KH. Hasyim Asy’ari untuk melawan penjajah.

Faktor yang mempengaruhi perilaku terorisme adalah fenomena ketidakadilan di masyarakat. Perjuangan melawan ketidakadilan tersebut sering dilegitimasi sebagai perilaku terorisme yang malah merusak citra Islam sebagai agama yang mengusung misi perdamaian.

Penyelesaian terorisme harus dimulai dari akarnya (core of the problem). Misalnya menganalisa penyebab perilaku terorisme dengan meningkatkan kualitas keadilan dan menurunkan ketimpangan sosial di masyarakat. Selain itu juga peran dunia dalam menanggulangi dominasi dan hegemoni peradaban Barat, seperti Amerika Serikat dan sekutunya. Nilai kesetaraan dalam kemanusiaan untuk terciptanya perdamaian dengan menghormati hak-hak setiap masyarakat dalam suatu bangsa.

Masalah Modernitas

Radikalisme yang berujung perilaku terorisme di kalangan muslim pada dasarnya adalah reaksi terhadap modernisasi global. Peradaban Barat dianggap berupaya menciptakan imperalisme kultural melalui teknologi, budaya, dan eksistensi kemajuan sains. Dunia barat tidak hanya memaksakan peradaban, lebih dari itu, mereka berusaha menyingkirkan nilai-nilai Islam di berbagai negara.

Pengusung atau penyetuju perilaku radikalisme menganggap bahwa modernitas adalah upaya sekulerasi suatu negara. Adanya teori konspirasi yang menyatakan bahwa dunia Barat melakukan persengkokolan untuk menghancurkan ajaran agama Islam dan kaum Muslim. Usaha mendoktrin kebudayaan barat terhadap muslim dilakukan melalui lembaga-lembaga pendidikan, sistem politik yang menekankan nasionalisme, serta konsep demokrasi yang dianggap bertentangan dengan prinsip Khilafah Islamiyah.

Kemuakan kelompok Islam garis keras terhadap peradaban Barat semakin meningkat ketika mereka lebih mendukung rezim otoriter ideologi sekuler di Timur Tengah. Mencoba melawan negara yang masih konsisten menerapkan ideologi Islam dengan memberikan dukungan terhadap negara Islam yang menerapkan ideologi sosialisme dan kapitalisme.

Upaya perlawanan terhadap ideologi sekuler adalah dengan kemunculan kelompok harakah Islamiyah dan gerakan Islam garis keras di Timur Tengah. Karena berhadapan dengan otoritarianisme dan diktaotorisme, maka harakah Islamiyah segera tergelincir ke dalam aksi radikalisme dan terorisme.

Namun gerakan harakah Islamiyah yang kemudian diikuti di berbagai negara dunia tidak mewakili konsep Islam secara nilai dan tujuan. Meskipun Islam menolak sekularisme, namun nilai Islam harus tetap kompatibel dengan modernitas. Perilaku terorisme bukan ajaran agama Islam meskipun dialasi ketertindasan peradaban. Islam sendiri harus mampu meredam perilaku terorisme yang dilakukan individu atau kelompok Islam agar citra Islam yang damai tidak terdistorsi.

Perilaku radikal, kekerasan, dan terorisme hanya akan menimbulkan korban yang tidak terikat pada misi sekularisasi dan modernitas. Mengenalkan konsep Islam yang menjunjung pluralitas, multikulturalisme, dan toleransi terhadap Islam konservatif dan Islam garis keras adalah berbagai usaha yang mungkin bisa membangkitkan sisi kemanusiaan seorang atau sekolompok muslim sebelum memutuskan untuk melakukan tindak kriminalisme atau terorisme.

——— *** ———

Rate this article!
Tags: