Kontroversi Nyamuk Wolbachia; Bukan Rekayasa Genetika

Oleh :
M Chairul Arifin
Dokter Hewan Alumni Unair

Diskursus tentang nyamuk Aedes aegypti mengandung bakteria Wolbachia yang dapat menurunkan insidensi penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di suatu daerah, telah ramai menjadi perbincangan pro dan kontra di masyarakat.. Perdebatan tersebut menghiasi topik pemberitaan di berbagai media sosial yang juga menyeret para pakar termasuk mantan Menkes Ibu Siti Fadhilah Soepari.
Sejauh yang bisa di tangkap dari pihak yang kontra terhadap penyebaran nyamuk Wolbachia tersebut berargumen adanya, dampak lanjutan terhadap lingkungan masyarakat. Ibu Fadhillah malah menyatakan siapa pihak yang bertanggung jawab kelak kalau terjadi kejadian dampak negatif yang merugikan bagi masyarakat dan lingkungan. Pendapatnya ini didukung oleh beberapa pakar dan pegiat lingkungan hidup dan beberapa akademisi. Karena “introduksi” species baru di suatu daerah dapat mengganggu keseimbangan ekosistem baik biotik dan abiotik. Masyarakat jangan dijadikan “kelinci percobaan”‘ pada penelitian yang belum jelas.

Klaim Kemenkes
Sementara itu, Kementrian Kesehatan (Kemenkes), mengklaim, bahwa pemberantasan DBD dengan cara ini merupakan upaya global untuk pengendaliannya yang sudah disetujui oleh WHO dalam suatu proyek kerjasama internasional. WHO, Badan Dunia Kesehatan telah memasukkan DBD sebagai salah satu dari 10 penyakit yang mengancam ( the most threatening diseases ) , sebingga Kemenkes menganggap kegiatan ini sebagai penelitian penting tehnologi untuk meneliti secara biologis dengan menggunakan nyamuk Ae aegypti dengan bacteria Wolbachia untuk memerangi kasus DBD yang secara berkala cenderung meningkat di Indonesia.

Penelitian telah dilakukan didaerah Yogyakarta dengan kerjasama , World Mosquito Program (WMP)/Monash University dan Yayasan Nirlaba Tahiya. Indonesia tidak sendirian melainkan sebagai bagian dari upaya global yang juga dilakukan di Brazil, Australia, Vietnam, Fiji, Vanuatu, Mexico, Karibia, New Caledonia dan Sri Lanka.

Hasil penelitian di daerah Yogyakarta menunjukkan hasil yang menggembirakan. Insidensi DBD menurun 77,1 persen dan mengurangi kejadian 86,2 persen admisi rawat inap. Hasil yang baik ini menyebabkan Kemenkes, menyetujui untuk memperluas penelitian ke Denpasar, Semarang, Jakarta Barat, Bandung, Kupang dan Bontang untuk lebih meyakinkan lagi. Dilaporkan juga hasil penelitian Tim Independen tentang perkiraan dampak lingkungan yang menyebutkan sangat rendah.

Kasus DBD di Indonesia
Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan jumlah penduduk terbesar keempat dunia, yang diikuti urbanisasi, menyebakan banyak kota besar di Indonesia bertambah kepadatannya ( density ) . Kota yang semakin padat akhirnya juga menimbulkan tingginya kasus DBD Indonesja.

Dari laman FKK UGM (2023), Indonesia adalah negara kedua terbesar yang memiliki situs kejadian DBD lebih dari 120.000 orang. Tingkat pertama diduduki Brazil, yang mempunyai angka kejadian lebih dari 400.000 orang. Jumlah penduduk Brazil 216,9 juta jiwa (2023) dan tingkat pertumbuhan 0,5 persen sedangkan Indonesia menurut proyeksi BPS (2023) berjumlah 278,7 juta jiwa yang bertumbuh 1,07 persen

Mengutip data dari Kemenkes, selama tahun 2015-2020 terjadi sedikit penurunan kasus, jumlah orang yang meninggal dan jumlah kabupaten/kota yangp tertular. Tahun 2015 jumlah penderita DBD 126.650 orang , meninggal 1071 orang dan jumlah kabupaten/kota tertular 446. Lima tahun sesudahnya (2020), terjadi sedikitp penurunan menjadi 103.503 kasus, dengan jumlah orang meninggal 725 . Sedangkan perluasan daerah tertular menurun jadi 435 kabupaten/kota.

Penurunan ini karena gencarnya pemerintah melancarkan gerakan 3M (Menguras.tempat penampung air, Menutup tempat air dan Mendaur ulang.barang.bekas yang berpotensi breeding place nyamuk Aedes aegypti) dan pelibatan masyarakat menjadi sukarelawan Jumantik (Juru Pemantik Larva Nyamuk) di berbagai kota dan desa. Kemenko PMK , 2023 melaporkan juga terjadi penurunan kasus ditahun 2021 yaitu 73.518 kasus dengan jumlah orang meninggal 705 jiwa dan pada tahun 2022 terjadi peningkatan kembali kasus sebesar 131.255, terjadi jumlah orang meninggal meningkat 1.183 jiwa. Tahun 2023 sampai bulan Juli 2023 jumlah kasus 42.690 orang dan meninggal 317 jiwa .

Sampai Oktober 2023 Kemnkes melaporkan kasusnya 68.996 kasus dan orang meninggal 498 jiwa. Sedangkan Kabupaten – kota tertular terdapat pada 464 Kabupaten kota di 34 propinsi .Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah kasus dan orang meninggal berfluktuasi setiap tahunnya dan berkecenderungan meningkat.

Salah paham dan bukan rekayasa genetik
Untuk mencegah salah pemahaman, di masyarakat bahwa nyamuk wolbachia ini adalah nyamuk transgenik hasil rekayasa, genetik, kini pemerintah meng introduksi suatu terobosan tehnologi yaitu dengan melepas liarkan jenis nyamuk Wolbachia di masyarakat. Jauh-jauh hari Kemenkes menyatakan bahwa upaya ini merupakan upaya global untuk menurunkan kasus sehingga Indonesia bebas DBD di tahun 2030. Tetapi upaya terakhir ini telah menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.

Penjelasan tuntas dari Kemenkes sangat perlu disampaikan untuk menghindari berbagai kontroversi yang tidak produktif di masyarakat. Pertama bahwa upaya terobosan tehnologi dengan nyamuk Wolbachia ini bukan rekayasa/.mutasi/modifikasi genetika. Kemenkes juga sudah menjelaskan bahwa upaya ini bukanlah rekayasa genetik untuk menghasilkan nyamuk BIONI sebagaimana diartikan oleh sementara pihak. Kemenkes menjelaskan bahwa rekayasa genetika itu adalah upaya untuk melakukan modifikasi genetik dari suatu organisme sehingga diperoleh sifat baru yang dimiliki. Selain itu menurut UU No 21 Tahun 2004, menyebutkan bahwa bioteknologi modern adalah penerapan tehnik asam nukleat invitro, termasuk DNA rekombinan dan injeksi langsung asam nukleat kedalam sel.

Perbedaan perlakuan dengan nyamuk Wolbachia ini perlu diluruskan dengan seterang terangnya kepada masyarakat. Bahwasanya terobosan yang satu ini hanyalah menyuntikkan bacteri Wolbachia pada sel telur nyamuk. Bakteri ini biasa terdapat di alam pada lebih dari 50 persen serangga di dunia, bukan rekayasa genetik atau modifikasi genetik karena bakteri tersebut setelah diisolasi kembali masih tetap seperti bentuk semula yang diperoleh dari lalat buah Droosophila melanogaster sebagai inangnya. Samasekali tidak ada rekayasa/manipulasi genetik sedikitpun.

Nyamuk yang menetas dari telurnya yang sudah disuntik bakteri wolbachia itu menjadi nyamuk jantan dan betina yang sudah ber wolbachia. Nantinya kalau nyamuk jantan yang menetas kemudian kawin dengan nyamuk betina, yang tidak ber wolbachia maka telur yang dihasilkan tidak akan menetaa. Sedangkan bila betina yang menetaa dan kawin dengan jantan nyamuk alam maka seluruh telurnya akan menetaa dan menghasllkan nyamuk wolbachia. Demikian juga, nyamuk sesama Wolbachia jantan dan betina akan memproduksi nyamuk Wolbachia.. Sehingga jumlah nyamuk Wolbachia makin bertambah. Penambahan nyamuk Wolbachia ini akan menurunkan kasus DBD.

Penjelasan tentang sejarah penemuan bakteri Wolbachia sejak tahun 1924 oleh Nashell Hertig dan S Burt Wolbach, dan perkembangan sampai kini perlu disampaikani juga. Pada, tahun 2008 Founder dan Direktur World Mosquito Program Global, _ yaitu Prof. Scott O’Nell yang berhasil mengisolasi Wolbachia di lalat buah _Drosophila melano gaster kedalam sel telur nyamuk Aedes agyptyti dan penelitian ini diteruskan oleh Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran dan Kesehatan UGM dimulai sejak tahun 2011 .

Penelitian dibagi atas empat tahapan, yaitu tahun 2011-2012 sebagai fase I berupa kelayakan dan keamanan, tahun 2013-2015 fase pelepasan skala terbatas, 2016-2020 sebagai fase pelepasan dengan skala yang luas dan 2021-2027, sebagai fase implementasi. Sampai saat ini ditingkat lapangan telah sukses menurunkan insiden dan rawat inap DBD.di Yogyakarta. Malahan Yogya dilaporkan merupakan daerah yang disain penelitiannya menerapkan Cluster Randomised Controlled Trial Disain ini pertama kali diterapkan.

Kedua pemerintah perlu menjelaskan bahwa pelepas nyamuk Wolbachia ini baru dalam tahap penelitian lapangan yang sebelumnya dilakukan penelitian laboratorium oleh UGM.. Pada akhirnya karena penelitian ini belum selesai dan bila telah selesai pada waktunya pemerintah dapat menjelaskan hasil penelitian ini apakah dapat diterapkan secara masal dengan melepaskan nyamuk Wolbachia di seluruh Indonesia sebagai vektor biologis alami untuk menurunkan kasus DBD di Indonesia .

Ketiga, pemerintah perlu memngundang semua pihak (public hearing ) baik yang kontra maupun yang pro di mayarakat untuk menjelaskan keseluruhano proses pengambilan keputusan yang didasarkan kepada hasil penelitian yang telah dilakukan . Ada baiknya diundang jugaKomisi Etik Keaneka Ragaman Hayati untuk dijelaskan bahwa penelitian ini bukan rekayasa atau modifikasi genetika termasuk adanya resistensi dimasa depan.

Diharapkan kontroversi tentang nyamuk Wolbachia dapat segera diakhiri dan memang terbukti adanya kasus DBD akan jauh menurun.

———— *** ————–

Tags: