Kopi Pahit Pak Adam

Oleh:
Hendrianto

Di malam yang sepi, aku duduk termenung sendirian di sebuah pelataran yang diapit dua pohon kelapa menjulang tinggi. Sambil menatap langit, aku memutar otak mencari akal untuk mendapatkan uang. “Ah, bagaimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Bagaimana, ya?” Aku membatin.

“Hahaha ….” Terdengar sayup-sayup suara tawa pemuda kampung dan bapak-bapak di kedai kopi sambil memukul meja judi. Malam yang sunyi dan hening begini, tentulah suara sangat jelas terdengar di telingaku, Aku pun terperanjak dari lamunan dan berjalan menuju kedai kopi di mana mereka bermain kartu dan domino. Ya, setidaknya untuk menghilangkan suntukku sendirian di rumah.
“Hei, muncul juga kau rupanya Hamzah. Dari mana saja kau? Dari tadi ditunggu. Ini lawan sudah menanti dari tadi. Ayo kita main,” kata Joko kepadaku sambil meminta kartu koa dan minuman ke Pak Udin pemilik warung.

“Utang tadi malam saja belum dibayar, sekarang minta kartu dan minum lagi. Bayar dulu yang kemarin, baru kukasih kartu dan minuman,” sahut Pak Udin dengan nada sewot.

“Iya, gampang itu. Nanti kulunasi semuanya kalau aku menang malam ini.Tenanglah, Pak, aku pasti menang. Akan kulunasi utang-utangku.”

“Aku tak nak main. Aku ke sini hanya untuk ngopi dan menghilangkan jenuh di rumah,” ucapku.

“Yaaah, padahal kita butuh satu orang lagi nih, biar lengkap. Kalau begitu, kita bertempat saja main,” kata joko pada yang lain. Yang lain pun menyetujui.

Begitulah setan judi. Semua orang dikasih kesempatan untuk menang terlebih dahulu agar orang-orang tergiur dan pada akhirnya kecanduan. Tak ingat lagi anak-bininya di rumah. Mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang supaya bisa berjudi. Semakin asiknya di kedai Pak Udin, judi tak tersa malam berlalu sudah hampir subuh. Kehidupan seperti inilah yang tidak kusukai di kampung.

——— *** ———

Prak… Terdengar sebuah bunyi benda dilempar ke lantai. “Jangan kau masuk lagi ke rumahku ini. Pergi kau dari sini, Binatang …. Setiap malam kau bermain judi. Jangankan uang untuk sekolah anakmu, untuk membeli beras saja tak ada kau kasih. Aku minta, mulai hari ini kau ceraikan aku, Joko. Aku tak sudi lagi jadi istrimu.” Lagi-lagi, sebuah pertengkaran terdengar di pagi buta. Rita mengamuk kepada Joko, suaminya yang tiap malam menghabiskan uang di kedai kopi. Entah keberapa kalinya pertengkaran macam itu terjadi. Bahkan, tidak hanya di rumah, pertengkaran antaramereka juga sering terjadi di kedai kopi Pak Udin.

Kring … kring … Bunyi HP yang bordering di saku mengalihkan perhatianku pada pertengkaran laki-bini itu. Aku bersegera mengeluarkannya dari saku. Kulihat di layar HP ada panggilan dari nomor yang tidak kukenal.

“Halo … Assalammualaikum,” ucap suara di ujung telepon.

“Waalaikumsalam … yaa, dengan siapa?”

“Maaf pagi-pagi sudah menganggu. Ini Hamzah?” Suara perempuan di dalam telepon itu.

“Iya, saya sendiri, adaapa,ya? Maaf, ini siapa?” jawabku.

“Ini Bu Tati. Bagaimana uangnya sudah ada? Kalau uangnya sudah ada kamu hari Minggu berangkat ke Jakarta, ya,” kata Bu Tati padaku.

“Insyaallah, menjelang Minggu saya usahakan ya, Bu, kalau uangnya dapat menjelang Minggu saya akan hubungi ibu lagi.”

—- *** —–

Aku melihat orang-orang mondar-mandir di sebuah gang perumahan menuju tempat di mana mereka bekerja dan beraktivitas. Di kota besar ini sangat berbeda dengan di kampung, apalagi dalam bekerja. Jika masyarakat di kampung pagi buta sudah keluar dari rumahnya memakai baju lusuh hendak ke ladang dan ke sawah. Sementara, masyarakat kota berpakaian rapi dan bersih.

Aku pun bersiap-siap hendak menuju di mana aku akan melakukan interview. Namun, sebelumnya aku harus ke rumah Bu Tati dulu. Sesampainya aku di rumah Bu Tati, yang hendak memasukkanku bekerja itu, aku mengucapkan salam dan menunggu Bu Tati keluar dari dalam rumahnya.

“Bagaimana Hamzah, uangnya adakan?” Tanya Bu Tati kepadaku.

“Ada, Bu. Tapi masih di ATM..”

“Bisa kamu ambil uangnya dulu pagi ini ke ATM?”

“Bisa, Bu, tetapi saya tidak tahu di mana ATM di sini Bu.”

“O,iya,maaf, kamu kan baru di sini, ya? Baiklah, ayo ibu antar ke ATM untuk mengambil uang itu, sekalian kita langsung bertemu Pak Adam. Ibu sudah berjanji sama atasan membawa uangnya sekarang.

Aku pun masuk ke dalam mobilnya dan duduk di depan tepat sebelah Bu Tati. Bu Tati menyetir mobil sedannya dengan hati-hati. Tak butuh lama, kami sampai di gerai ATM.

Semua uang sudah aku serahkan kepada Bu Tati, terasa berat memang memberikan uang sebanyak itu untuk mendapatkan sebuah pekerjaan, apalagi untuk mendapatkan uang itu tidaklah mudah. “Ah … berdosakah aku untuk mendapatkan pekerjaan harus mengeluarkan uang terlebih dahulu dengan jumlah yang tidak sedikit?” batinku berbisik. Dalam keramaian kota, hatiku seakan sepi. Sedan yang dilajukan Bu Tati pun kembali melaju di jalanan yang padat merayap. Sekitar lebih kurang 30 menit perjalanan, Bu Tati membelokan mobilonya di sebuah kafe.

“Ayo, Hamzah, kita ngopi dan sarapan dulu,” tawar Bu Tati kepadaku. Aku mengangguk dan keluar dari mobilnya sambil mengikuti langkah Bu Tati. Bu Tati langsung menuju meja di mana sudah ada seseorang menunggu di meja tersebut. Aku pun dipersilakan duduk dan bersalaman dengan seorang lelaki paruh baya yang berpakain necis.

Bu Tati memperkenalkanku pada lelaki itu. “Perkenalkan Hamzah, ini Pak Adam. Beliau adalah Kepala Bagian HRD yang akan memasukkan kamu bekerja. Di tangan beliaulah karyawan baru boleh masuk atau tidak.” Aku pun mengangguk dan sedikit tersenyum kepada Pak Adam.

“Mau minum dan makan apa Hamzah?” Tanya Pak Adam kepadaku.

“Kopi Hitam saja, pak” jawabku.

“Makannya?”

“Hm,” aku berpikir sejenak, “sama dengan Bapak saja,” sambungku.

“Hm, baiklah,” jawabnya. Sejurus kemudian ia menoleh kepada petugas kafe. “Dek, tolong kopi panasnya tiga, ya. Khusus untuk saya, gulanya sedikit, ya…”

“Ya, Pak, makannya?”

“Nasi goreng saja.”

“Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar ya, Pak,” jawabnya.

Setelah itu, aku banyak diam di antara mereka berdua. Bu Tati dan Pak Adam beramah tamah dan larut dalam perbincangan yang akrab. Sementara, aku lebih banyak diam dan menanggapi pembicaraan mereka sekadarnya saja. Itu pun, jika Pak Adam dan Bu Tati bertanya padaku.

Kemudian, Bu Tati tiba-tiba membuka tasnya dan mengeluarkan uang yang sudah dibungkus ke dalam amplop untuk diberikan kepada Pak Adam. Uang itu adalah uang yang tadi kuserahkan pada Bu Tati. “Ini, Pak,” tukas Bu Tati pada Pak Adam.

Pak Adam tersenyum tipis. Kemudian menatapku sesaat. Lantas amplop itu dibukanya untuk memastikan jumlah uang yang ada di dalamnya. Setelah ia yakin dengan jumlahnya, Pak Adam mengajakku berbicara.

“Begini Hamzah, sebenarnya uang ini bukan untuk bapak, melainkan untuk jajaran direksi perusahaan. Ya, sekadar uang kopi dan juga sebagai uang untuk kesejahteraan karyawan. Artinya, uang ini juga akan bermuara untukmu. Memang, karyawan yang masuk melalui orang dalam, harus membayar uang kopi agar nantinya semua urusan kita dipermudah. Artinya, ya… seperti istilah ‘dari kita untuk kita’ begitu ….”

“Iya, Pak. Aku paham,” jawabku singkat.

“Oh, ya … iika kamu masuk nanti, tolong jangan diberi tahu pada karyawan-karayawan yang lain, ya. Soalnya, kalau yang lain tahu, pasti akan banyak juga yang meminta tolong untuk memasukkan karib kerabatnya.”

—— *** ——

Aku melihat sekeliling ruangan tempat aku bekerja. Aku bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang asuransi. Setelah melihat ruangan tempatku bekerja, aku pun turun ke lobi untuk berkumpul bersama karyawan yang lain. Sebelum bekerja, semua karyawan berkumpul dulu di lobi kantor untuk apel dan berdoa.

Aku merasa sangat canggung dengan tempat baru ini. Di sini,tak seorang pun yang aku kenal.

“Selama ini kerja di mana, Hamzah?” Salah seorang dari rekan kerja baruku bertanya.

“Belum bekerja. Aku datang dari kampung, Bang,” jawabku.

“Hobimu apa? Hobi Futsal nggak?” tanya salah satu dari mereka lagi.

“Hm, sebenarnya …” belum sempat aku menjawab, seseorang menyahut dan membuat perkataanku terpotong.

“Oh,dia nggak hobi futsal. Hobinya golf. Hahaha,” katanya seraya tertawa.

“Hahaha, orang kampung hobinya glof,” yang lain ikut menimpali. Aku hanya tersenyum geli.

Begitulah awal perkenalanku di tempat baru. Seminggu dua minggu aku di sana, memang belum banyak mengenal watak dan kepribadiaan orang-orang di sini. Namun, setelah berbulan-bulan aku di sini, barulah aku mafhum dengan karakter mereka semua. Bukannya aku tidak bersahabat, namun kebanyakan dari mereka memang memperlihatkan sikap yang tidak baik. Banyak di antara mereka bekrja dengan cara yang menjilat. Ada juga karyawan yang lain saling sikut dan menjatuhkan: bermuka dua. Ketika berbicara denganku bilangnya “A” dan ketika bicara dengan yang lain, bilangnya “B”.

Tak sedikit juga karyawan yang bersikap senioritas dan selalu mengitimidasiku saat bekerja. Salah satunya sebut saja namanya Bari. Dia yang merasa senior itu, selalu membanggakan diri dengan pengalaman kerjanya selama ini. Jika ada rapat dengan direksi, dialah yang selalu tampil terdepan membanggakan dirinya, dan menjatuhkan aku yang masih baru. Bagiku, kalau dia membanggakan dirinya itu sih, bagus, namun yang tidak bisa kuterima adalah jika dia ikut merendahkan bahkan meremehkan kinerjaku. Kalau mau menghidupkan lampu sendiri, kenapa pula harus memadamkan lampu orang? Ah, sehina itukah caranya mencari rupiah di kota besar ini?

Tiba-tiba, muncul penyesalan dalam diriku. Kenapa juga aku berkorban uang Rp10 juta hanya demi mendapatkan pekerjaan ini? Padahal, jika uang itu digunakan untuk berwirausaha, mungkin kurasa lebih dari cukup. Ah, teringat aku pada ayah-ibu di kampung yang harus menjual sapi untuk bisa melihatku bekerja di kota ini.

———– *** ————

Jakarta, September 2020
Hendrianto lahir di Tanjung Gadang, 12 Januari 1988. Pria yang akrab dipanggil Hendri ini merupakan guru di SMKN 3 Batam. Cerpen-cerpennya terbit di berbagai surat kabar. Novel Pena Arang Rumah Panggung (2020) adalah buah pena pertamanya. Ia bisa disapa di akun instagram dengan alamat akun @benington_hendrix

Rate this article!
Kopi Pahit Pak Adam,5 / 5 ( 1votes )
Tags: