Koran Terdampak Corona

Konferensi pers masih menjadi andalan pemerintah menyebarluaskan informasi tentang virus corona. Kinerja suratkabar telah melaporkan berbagai program pemerintah (dan negara-negara sedunia) menanggulangi wabah CoViD-19. Wartawan peliput berita juga tak canggung memasuki kawasan wabah, walau dengan risiko tertular. Bahkan bisa jadi, wartawan akan kehilangan pekerjaan, karena perusahaan pers kini menghadapi risiko kebangkrutan.
Media masa mainstream terutama media cetak di berbagai kawasan dunia “kehilangan” pembaca. Oplag (tiras cetak) berkurang sangat dratis sampai 60%. Begitu pula pemasang iklan, meng-alihkan anggaran meng-aman-kan likuiditas keuangan. Banyak perusahaan telah mengurangi tenaga kerja, sebagian sampai colaps dan tutup operasional. Seluruh bidang usaha (mulai manufaktur, property, pabrik, ritel, sampai bidang jasa) mengalami “jeda” tanpa kerja.
Holding company perusahaan koran Australia, News Corp, sudah ancang-ancang berhenti terbit di 60 negara bagian. Menggantikannya dengan berita berbasis online. Tekanan ekonomi global dampak virus corona, diakui lebih dahsyat dibanding krisis ekonomi global pada tahun 1998 maupun 2008. Pemerintah di seantero Australia akan kehilangan sarana sosialisasi. Program pemerintah tidak akan menjangkau seluruh daerah.
Yang lebih strategis, News Corp, menjadi lapangan kerja. Selain ke-agenan oplag, di berbagai kota-kota juga dibuka kantor cabang agen perikalanan oleh masyarakat. Begitu pula unit distribusi, dengan ribuan armada, menjadi sumber lapangan kerja. Sedangkan halaman opini dijadikan “kolom” pengaduan masyarakat. Bahkan beberapa profesor mempublikasikan penelitian melalui koran.
Fungsi surat kabar di Australia, nyaris sama persis dengan di Indonesia. Bedanya, di Indonesia lebih fair, tanpa monopoli. Koran-koran daerah di Indonesia tumbuh dan berkembang dalam pengelolaan “putra daerah.” Bukan holding company. Di Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, masing-masing memiliki koran daerah yang cukup maju. Begitu pula di Sumatera Utara, dan di berbagai propinsi memiliki koran daerah dengan sejarah panjang (sejak masa perjuangan kemerdekaan RI).
Bahkan umumnya koran daerah di Indonesia memiliki keterkaitan dengan sejarah kemerdekaan. Misalnya, koran Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, edisi, Jumat Legi, 26 Oktober 1945, menulis berita tentang “Resolusi Jihad,” ulama di Surabaya. Berita di koran Kedaulatan Rakyat, bagai pengumuman pembentukan relawan perang kemerdekaan. Sepekan setelah berita di koran, di Surabaya terjadi perang besar, berpuncak pada 10 November 1945.
Maka sesungguhnya, koran di Indonesia lazim disebut “koran perjuangan.” Tumbuh dan berkembang ber-iring dengan pertumbuhan pemerintahan. Koran daerah selalu bekerjasama dengan pemerintahan daerah secara simbiose mutualisme. Potret kebersamaan koran (pers) dengan pemerintahan “dijembatani” melalui Dewan Pers. UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, memapar peran pers. Termasuk peran kenegaraan dan kebangsaan.
Pada penjelasan pasal 15 ayat (1), dinyatakan, “Tujuan dibentuknya Dewan Pers adalah untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kualitas serta kuantitas pers nasional.” Kini pers nasional, khususnya koran daerah, nyata-nyata sangat terdampak wabah CoViD-19. Tiras merosot, dan periklanan terpuruk. Tujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas pers nasional, dalam ancaman gagal terbit.
Kini saatnya digalang kembali kerjasama pemerintahan daerah dengan koran daerah. Pemda dapat men-sosialisasi program melalui advertorial “melawan CoViD-19” pada koran daerah. Sesuai amanat UU Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Juga “advertorial wajib” berupa pembahasan rancangan peraturan daerah. Terutama Perda tentang LPJ, dan Perubahan APBD. Serta LKPJ, sesua amanat UU tentang MD3.
Penggalangan advertorial sosialisasi program dan Perda, akan menjadi sinergi penguatan melawan virus corona. Sekaligus insentif pemerintah menguatkan keberlanjutan koran daerah tetap terbit mengawal pemerintahan civil society.
——— 000 ———

Rate this article!
Koran Terdampak Corona,5 / 5 ( 1votes )
Tags: