Kota Probolinggo Berbenah Menjadi Tujuan Wisata

Wali kota Hadi bertemu dengan pokdarwis.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

(Bentuk Kelompok Sadar Wisata Di Setiap Kelurahan)
Kota Probolinggo, Bhirawa
Difasilitasi Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata, Wali Kota Hadi Zainal Abidin bersilaturahmi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Kota Probolinggo. Wali kota menyatakan, Kota Probolinggo harus bersiap berbenah diri sebagai tempat rujukan wisata karena sudah masuk program nasional.
“Kalau tidak kita siapkan wisata yang ada ini, maka kita akan kelewatan. Seperti Pantai Permata Pilang, Sumber Air Sentong dan sebagainya. BTS (Bromo Tengger Semeru) selesai dan kita tidak berbenah, jelas kita akan tertinggal,” jelas Wali Kota Habib Hadi, Kamis 13/2/2020.
Ke depannya, wali kota berharap semua wisatawan bisa stay di Kota Probolinggo meski destinasi wisatanya ke Bromo atau lainnya. Untuk memaksimalkan pengembangan wisata di kota ini, wali kota juga tengah mencari investor.
Diketahui, ada 15 orang pengurus pokdarwis dari Kelurahan Ketapang, Pilang, Sukabumi, Mayangan, Jati, Mangunharjo, Tisnonegaran, Jrebeng Wetan, Kedopok, Sumber Wetan, Jrebeng Lor, Jrebeng Kidul dan Wonoasih.
“13 kelurahan ini saya harap bisa merangsang kelurahan lain agar bisa mengikuti jejak yang sudah dilakukan oleh kelurahan-kelurahan yang sudah terbentuk sebelumnya. Tidak ada yang tidak mungkin kalau ada kemauan. Kota Probolinggo memang kecil tapi wisatawan bisa menikmati, singgah dan merasa nyaman dengan apa yang kita sajikan,” jelas Habib Hadi, dalam forum yang juga dihadiri lurah/perwakilan kelurahan pembina pokdarwis itu.
Habib Hadi juga mengajak pokdarwis menjadi marketing wisata untuk Kota Probolinggo. “Caranya mudah, cukup pakai smartphone-nya dan posting ke media sosialnya masing-masing. Jadi banyak masyarakat yang semakin mengenal tentang wisata yang ada di Kota Probolinggo,” tuturnya.
Kepala Dispopar Budi Krisyanto menjelaskan, program prioritas yang diterapkan wali kota mewujudkan Kota Probolinggo menjadi destinasi wisata dibarengi meningkatkan 3 hal yaitu wisata alam, buatan dan budaya.
“Dalam pertemuan ini, pokdarwis mendapat arahan dari Bapak Wali Kota untuk mengawal potensi lebih bermanfaat dan bagaimana punya kreasi mendorong wisata buatan dan kembangkan wisata budaya. Mencoba untuk mendorong pokdarwis mengelola wisaya dengan baik,” katanya.
Budi Kris berharap, pariwisata lebih bermanfaat menunjang kesejahteraan masyarakat dan pokdarwis semakin berkreasi. Dispopar menargetkan kunjungan wisatawan meningkat dari tahun sebelumnya. “Dengan semangat kita semua, kami optimis bahwa target capaian bisa terpenuhi untuk menunjang perekonomian, beberapa obyek wisata terus kita benahi seperti halnya TWSL(Taman Wisata Studi Lingkungan),” ungkapnya.
“Kita siapkan dengan matang lebih dari setahun. Ada perluasan kandang, sudah dipantau dan dicek oleh BKSDA. Kebutuhan makanan sekitar 5-7 kg setiap satu ekor singa, anggarannya sudah kami siapkan di APBD 2020,” ujar wali kota Hadi.
Sera usianya hampir lima tahun, sedangkan Jane masih sekitar dua tahunan. Menurut Kurator TSI Prigen, Ivan Candra, setahun ke depan singa Afrika ini bisa beranak dan dirawat TWSL. “Akan kami pantau karena kami (antara TWSL dan TSI) ada kerja sama. Satwa ini sudah kami pilihkan bukan sebagai saudara, mereka siap kawin sekitar empat sampai lima tahun,” katanya.
Pantai Permata Pilang, dilirik peserta Knowledge Management Forum (KMF) yang diadakan oleh Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi), di Tangerang. Fokus pemanfaatan lingkungan di Pantai Permata Pilang, menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta.
Agenda pertama KMF, mendengarkan program pendampingan dari organisasi internasional dalam perubahan iklim. Tema KMF kali ini pun, sesuai dengan visi misi Pemerintah Kota Probolinggo yang ingin menjadi kota berkelanjutan.
LH membawa poster tentang Pantai Permata Pilang di Kademangan. Saya angkat kaitannya dengan dampak erupsi Gunung Bromo yang mengakibatkan Pantai Permata Pilang menjadi berubah dan ada yang bisa dimanfaatkan, kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Rahmatdeta Antariksa.
Saat itulah, Mr Pablo dari Uni Eropa menunjukkan ketertarikannya saat Budi menjelaskan isi poster yang dibawanya. Mereka sangat tertarik, ingin melihat kondisi yang sebenarnya. Mereka juga menaruh atensi yang tinggi pada hutan mangrove, sambungnya.
Dari KMF tersebut, dapat digaris bawahi bahwa Pemerintah Kota Probolinggo berkewajiban menurunkan gas emisi rumah kaca. Realisasinya pun harus melibatkan OPD terkait. Dalam penanganan masalah itu. Secara nasional, penurunan gas emisi sebesar 29 persen. Sedangkan Kota Probolinggo pada tahun 2010 lalu sudah menargetkan 12 persen penurunan gas emisi.
Upaya menurunkan gas emisi ini bisa melalui banyak lini. Seperti udara yang sehat jadi jangan sampai praktek pembakaran sampah masih dilakukan. Kemudian menambah persentase gas rumah kaca. Kantor-kantor harus efektif juga, gunakan lampu hemat energi, hemat listik dan hemat penggunaan air. Perlu komitmen di masing-masing OPD dan harapannya DPRD juga membahas tentang emisi gas rumah kaca, tandasnya.
KMF, menjadi peluang fasilitasi pendanaan yang bisa diakses kota-kota, salah satunya Kota Probolinggo, untuk menunjang tindakan mitigasi dan adaptasi. Acara tersebut hasil kerja bareng dengan IUC, Sekretariat IUC Asia Tenggara, UCLG ASPAC yang difasilitasi Joint Research Centre (JRC) Uni Eropa dan mitra organisasi lainnya. Dengan begitu kaya yakin akan menjadikan kota Probolinggo sebagai tujuan wisata, tambah Rahmadeta.(Wap)

Tags: