Kovablik 2021, Plt Bupati Timbul Presentasikan Inovasi BUMI KRAKSAAN

Plt Bupati Timbul presentasikan inovasi bumi Kraksaan.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Pemkab Probolinggo, Bhirawa
Plt Bupati Probolinggo Drs. HA. Timbul Prihanjoko melakukan presentasi inovasi BUMI Kraksaan (Budidaya Udang vanaMeI Kolam bundaR menggunAKan raS di media Air laut buatAN) dalam Kompetisi Inovasi Layanan Publik (Kovablik) Provinsi Jawa Timur tahun 2021.

Presentasi tersebut dilakukan Plt. Bupati Timbul secara virtual di Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa Kabupaten Probolinggo, Kamis (7/10). Turut mendampingi Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo Dedy Isfandi dan Kepala Bagian Organisasi Setda Kabupaten Probolinggo Anna Maria Dwi Susiandari.

BUMI KRAKSAAN merupakan inovasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo berupa air laut buatan dari air sisa dari panen garam yang memiliki mineral yang cukup tinggi atau disebut air bittern. Air tersebut dicampur dengan air tawar dan diberikan garam krosok. Budidaya ini cocok di wilayah yang jauh dari laut.

Plt Bupati Probolinggo Drs. HA. Timbul Prihanjoko memaparkan inovasi BUMI KRAKSAAN telah dilaksanakan dengan baik. Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu daerah penghasil udang vanamei di Provinsi Jawa Timur dengan produksi di tahun 2020 sebesar 9.807 ton atau 81% dari total produksi budidaya ikan di Kabupaten Probolinggo.

“Udang vanamei merupakan komoditas budidaya perikanan yang memberikan nilai ekonomi cukup tinggi sebesar 674,33 M dengan pangsa pasar luas dan segmen pasar yang fleksibel. Di tahun 2020 ekspor udang vanamei dari Provinsi Jawa Timur hanya mampu memenuhi kebutuhan import negara Amerika, Jepang dan Cina,” katanya.

Menurut Plt Bupati Timbul, mayoritas produksi udang vanamei Kabupaten Probolinggo dikirim untuk memenuhi kebutuhan eksport di luar negeri. Karena potensi ekonomi yang sangat besar dan menjadi peluang usaha yang sangat menarik dan menjadi pengungkit peningkatan pendapatan pembudidaya kecil sebesar 50-300%.

“BUMI KRAKSAAN ini memiliki keunikan dan kebaharuan yaitu produktivitas tinggi diantara 2-3 kali lipat dari budidaya sistem konvensional. Untuk biaya investasi dan operasional terjangkau sebesar Rp20.750.000,- untuk 2 (dua) unit kolam. Teknologi budidaya sederhana dengan mudah diadopsi oleh masyarakat. Baik diterapkan dalam skala rumah tangga dengan memanfaatkan lahan terbatas,” jelasnya.

Plt Bupati Timbul menegaskan menggunakan air laut buatan tidak tergantung air laut dan dapat dilakukan dimana saja yang memenuhi syarat teknis. Hemat penggunaan air dengan sistem ras (recirculating aquaculture sistem).

“Sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien, karena air diputar dan dapat dimanfaatkan kembali,” tegasnya. Lebih lanjut Plt Bupati Timbul menambahkan ada tiga prinsip inovasi BUMI KRAKSAAN yang dilakukan. Pertama menggunakan air laut buatan yaitu dengan mencampur 125 liter air tawar, 1 kg garam krosok dan 2 liter air bittern. Air bittern adalah air sisa dalam pembuatan garam yang mengandung banyak mineral.

“RAS (Recirculating Aquaculture System) merupakan sistem yang memanfaatkan air budidaya melalui sirkulasi menggunakan filter. Kelebihan kolam bundar adalah tidak memiliki sudut mati dan pembuangan berada di tengah kolam (central drain), sehingga sangat efektif untuk membuang kotoran,” tuturnya.

Inovasi BUMI KRAKSAAN (Budidaya Udang vanamel kolam bundar menggunakan ras di media air laut buatan) yang diinisiasi dan digagas oleh Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Probolinggo berhasil masuk Top45 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) Provinsi Jawa Timur tahun 2021.

Kini inovasi BUMI KRAKSAAN ini kembali harus bersaing dengan inovasi lain dari pemerintah kabupaten/kota di Jawa Timur supaya bisa masuk dalam TOP30 Kovablik Jawa Timur.

Mengawali hal tersebut, Plt Bupati Probolinggo Timbul Prihanjoko mempresentasikan secara langsung inovasi BUMI KRAKSAAN tersebut di hadapan dewan juri Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui pertemuan virtual di Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa Kabupaten Probolinggo.

Timbul Prihanjoko menegaskan BUMI KRAKSAAN memiliki keunikan dan kebaharuan diantaranya produktivitas tinggi bisa 2 hingga 3 kali lipat dari budidaya sistem konvensional.

Selain itu biaya investasi dan operasional terjangkau, teknologi budidaya sederhana sehingga mudah diadopsi oleh masyarakat, diterapkan dalam skala rumah tangga dengan memanfaatkan lahan terbatas, menggunakan air laut buatan sehingga tidak tergantung air laut dan dapat dilakukan dimana saja yang memenuhi syarat teknis serta hemat penggunaan air.

“Sistem BUMI KRAKSAAN ini juga telah membuka lapangan kerja baru saat ini 11 lokasi telah menerapkan inovasi BUMI KRAKSAAN dengan menyerap 22 orang tenaga kerja dan menyumbang produksi sebanyak 3,5 ton pada periode 2019 sampai 2021,” katanya.

Menurut Timbul, BUMI KRAKSAAN ini telah memberikan dampak positif terhadap pembudidaya ikan kecil antara lain peningkatan pengetahuan dan keterampilan membudidayakan udang vanamei, masyarakat dapat memiliki usaha sendiri dengan modal terjangkau dan dan dapat meningkatkan penghasilan antara 1 juta sampai 4,5 juta perbulan.

“Kami berharap agar inovasi BUMI KRAKSAAN ini dapat membawa Kabupaten Probolinggo masuk ke dalam TOP30 Kovablik Provinsi Jawa Timur tahun 2021,” harapnya.

Kegiatan ini diakhiri dengan peninjauan budidaya udang vanamei di UPT Budidaya Air Tawar/Payau Diskan Kabupaten Probolinggo. [wap.adv]

Tags: